Cause This is (not) Africa

Hujan, pelangi, matahari

Lautan, gunung, tebing

Rumput savanna di bukit bukit,

Bunga-bunga warna warni

Semua ada di sini untuk kita jaga dan sayangi

Semua menanti, semua yang ada,

Untuk kita pelajari,*)

 

 

saya dan Backpack Abu-abu (gak keliatan)

Potongan lagu yang dibawakan dalam Musikal Laskar Pelangi itu, bersenandung riang di benak saya begitu menginjakkan kaki di Savana Bekol. Terbesit keinginan tuk turut bernyanyi, meneriakkan skeras-kerasnya dengan riang, se riang anak-anak SD Muhammadiyah Gantong saat berlarian di savana. Rumput-rumput bergoyang, menyapa dan melambai seakan mengajak saya mendekat dan berlarian di hamparannya. Tak peduli sengatan matahari yang terik. Tak peduli perjalanan panjang yang seharusnya memuat letih.

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

Savana Bekol, terletak di Taman Nasional Baluran, Kabupaten Situbondo atau sebelah utara Banyuwangi. Untuk mencapai TN Baluran, dari Terminal Besuki Kab. Situbodo kea rah timur sekitar 2 jam perjalanan, hingga menemui tulisan ‘TN Baluran’. Jika sampai di “Selamat datang di Banyuwangi”, berarti sudah terlewat.

Dari pintu gerbang atau loket pembelian tiket (Rp. 10,000), pengunjung bisa menempuh perjalanan lagi dengan dimanjakan suasana hutan. Jika jeli, bisa terlihat hewan-hewan liar dengan cukup dekat, misalnya:  merak, monyet, rusa, de el el. Sayang sekali mata saya sulit langsung mendeteksi ciptaan Tuhan yang cantik itu. Yang saya lihat hanya hijau dedaunan (namanya juga hutan).

SAMSUNG CSC

Tiba di savanna Bekol, silakan berandai andai sedang di Afrika. Di musim ini, rumput-rumputnya sedang hijau dan cukup menyejukkan mata melihatnya terhampar begitu luas. Tak peduli matahari yang sebegitu teriknya dan pegal-pegal perjalanan Jogja-Surabaya-Baluran yang saya tempuh nonstop, saya langsung menghambur ke little Africa ini.

Sebelumnya, saya pernah melihat TN Baluran ini dibahas dalam acara “Tiga Enam Puluh” Metro TV sudah cukup lama. Saya berdecak kagum dengan tampilan saat itu (sepertinya musim kemarau), ketika rumput-rumput kering, dan sesekali terdapat pepohonan dengan latar belakang gunung.  Benar-benar seperti di film-film dengan setting Africa. Ditambah sesekali ada satwa berlalu lalang seakan tak peduli. Namun meski ternyata saya disambut hamparan hijau, tak ada decak kagum yang berhenti keluar dari mulut saya.

Rumput, Pohon, Gunung, dan masnya moto tp action

Rumput, Pohon, Gunung, dan masnya moto tp action

Tidak hanya hamparan rumput dan sesekali pepohonan, beberapa hewan menarik sudah menyapa. Sedikit agak jauh dari tempat saya berdiri, gerombolan rusa sedang minum air. Mungkin belum jodohnya, sehingga ketika saya mendekat mereka bubar jalan dan menjauh. Alhasil, belum ada satupun yang berhasil menjadi model di kamera saya.

Untuk dapat melihat lebih luas, tedapat semacam gardu pandang. Untuk mencapainya, cukup naik tangga dan taraaaa. Luasnya savanna sudah kita lihat. Ditambah latar gunung yang semakin menarik.

View dari Gardu Pandang. pegel kagak tuh muterin savana segitu luasnya

View dari Gardu Pandang. pegel kagak tuh muterin savana segitu luasnya

Tidak jarang, kami berjumpa gerombolan monyet-monyet. Sibuk sendiri seakan tak peduli. Atau mungkin seolah-olah sibuk untuk menarik perhatian kami. Juga terdapat kepala-kepala hewan yang di dekat area parkir.

SAMSUNG CSC

membelah hutan bakau

membelah hutan bakau

Tidak jauh dari savanna Bekol, terdapat pantai Bama. Sore itu, pantai ini cukup ramai. Kami dihibur dengan monyet-monyet yang beratraksi sendiri. Sempat timbul rasa takut, mengingat saya pernah  memiliki pengalaman buruk dengan monyet-monyet sejenis di Tawangmangu maupun kaliurang. Namun rupanya monyet-monyet lepas di sini cukup ramah, bahkan menghibur.

Sedikit ke sisi kanan, tumbuhan bakau menyapa. Dibuat semacam jembatan melewati bakau-bakau tersebut hingga akhirnya berujung. Dari sini bisa melihat pantai perpaduan laut dan langit jelang sore yang tenang, indah dan pas buat narsis.

laut dan langit, pantai bama

laut dan langit, pantai bama

Matahari mulai menunjukkan kode akan berpamitan. Kembali ke mobil dan bersiap-siap pulang. Belum lama menjauh dari pantai, kami dikejutkan dengan barisan monyet yang memenuhi jalur yang dilewati mobil. Tak hanya itu senja menunjukkan pesonanya yang mungkin akan kami sesali seumur hidup jika tak sempat menikmatinya.

satwa penikmat senja

satwa penikmat senja

Takjub, bengong, dan ternganga melihat yang dipamerkan  surya saat hendak tenggelam. Seandainya seluruh pelukis handal di dunia berusaha menggambarnya, saya yakin takkan mampu lebih indah.

Semburat jingga, berpadu awan yang mulai menggelap, langit yang masih membiru, bersembunyi dibalik bukit bukit. Siluet pohon-pohon, sapuan tipis awan, jejeran bukit berbaris, menjadi foreground untuk sebuah gradasi warna senja. Bahkan untuk berpamitan pun, matahari tetap menunjukkan kuasanya. Mungkin kata indah pun tak mampu mewakili senja saat itu.

Senja di Savana

Senja di Savana

Ada kesal yang tak henti saya rasakan hingga sekarang. Betapa kuasa Tuhan tidak dapat saya rekam dalam lensa kamera saya. Bagi saya, senja itu adalah hadiah terindah Tuhan untuk saya. Untuk kami. Hadiah yang tak bisa saya abadikan sempurna dalam alat-alat buatan manusia. Beberapa rekan perjalanan saya (yang kebanyakan traveler) bahkan menyebut senja itu sebagai ‘best sunset I’ve ever seen’.

Bahkan satwa pun tak ingin melewatkan momen itu.

SAMSUNG CSC

Malam resmi menurunkan tirainya. Satwa penikmat senja mulai memberi jalan untuk kendaraan kami. Serasa hilang segala penat, keringat dan lelah dari raga kami. Pulang dengan tersenyum. Bersiap bangun dini hari, demi menjadi saksi blue fire di Kawah Ijen.

 

Savana….

Padang rumput hijau

Dengan semak terpencar diantara rerumputan

Karena keadaan tanahnya dan kebakaran yang terjadi,

Muncul padang rumput hijau terbentang luasnya

Sedikit pepohonan,

Itulah savanna….. *)

masih savana

masih savana

*) Potongan lagu “Sahabat Alam”, salah satu lagu dalam Musikal Laskar Pelangi dinyanyikan oleh pemeran Bu Muslimah dan siswa-siswi SD Muhammadiyah Gantong

61 thoughts on “Cause This is (not) Africa

  1. Masya Allah..
    Bener-bener bagus ah tempat iniiii 😀 Someday mesti ngunjungin walo cuma sekali. Wkwkwk.. Yang jembatan di hutan bakau macem di manaaaa gitu, Mbak ^^

    1. Iya Beb. Dulu pas pernah tugas di jawa timur 9 bulan, malah bm pernah kesini. Begitu dipindah tugas ke jogja, nyeseeeeel bgt blm kesini ahamdulillah akhirnya kesampaian

      1. Laaa.. Itu uda dekeeeet..
        Ini mau ke luar dari wilayah Sumut mau ke Pekanbaru atau Banda Aceh aja butuh 16 jaaaammm.. Tepos bokong dibikin :p

  2. selamat datang di kabupaten saya mb aqied, rumah saya dekat dengan terminal besuki… kapan2 mampir klo e situbondo lagi…
    ntar saya usul ke petugas baluran biar import gajah, jerapah dan singa biar lebih terasa africanya… Cause this is (like) Africa.

    1. Waaa mas Nanal maaf ya kmaren gak ngabarin siapapun. Karna jadwal trip nya padat banget. Tidur aja cuma 2 jam. Lain waktu saya jg pengennya gitu, mas. Maturnuwun sudah ke blog aku 😉

  3. Waaaa… nggak usah jauh-jauh ke Afrika kalau mau menikmati petualangan di savana 😀

    Bener banget, senjanya luar biasa indah…. Apalagi kalau melihatnya langsung, ya…. Kamu beruntung bisa melihat keindahan itu 🙂

    1. Hehehe iya, mas. Nyobain Africa KW dulu.
      Mas Adit ud pernah kesana?
      Bener banget, bersyukur banget pernah ngerasain sunset luar biasa itu. Cuma ya jadi sebel koq yg ditangkap kamera gak bisa sebagus aslinya. Dasar sayanya yg ga bisa moto ya

  4. Dengan melihat foto-foto ditulisan ini jadi pengen mengunjungi Baluran,
    Senjanya begitu indah, kayaknya malam selalu dihiasi senyum
    semua ada di Indonesia, betapa indah negeriku tercinta 🙂

    1. Iya bunda. Di pulau jawa ternyata ada tempat seperti ini.
      Dulu nyeseeeeeel banget ninggalin jatim tp belum kesini. Alhamdulillah akhirnya kesampean

  5. Aaaaaaa… Baluran! Sudah lama banget saya kepingin ke sana, tapi entah kapan bisa kesampaian. Sewaktu cuti tahun lalu saya cuma bisa ke Jogja-Malang. Niatnya sih pingin langsung ke Baluran, tapi waktu itu belum memungkinkan. Yowis lah, mudah-mudahan suatu saat nanti saya bisa ke Baluran. *Amin, Ya Allah, amin. Kabulkan doa Kimi, ya Allah.*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *