Tentang Memotret dan Dipotret

Awalnya saya berencana untuk mempublish tulisan tentang salah satu coffeeshop dan roastery fovorit saya. Namun di tengah menulis, sepertinya ada beberapa informasi yang buat saya masih kurang. Jadi saya pikir, baiknya saya cari informasinya dulu sebelum tayang nanti. Semoga minggu depan sudah bisa publish.

Daripada itu, saya malah jadi kepengen menuangkan keresahan saya soal memotret dan dipotret *ceileh yang resah.

Sebenarnya problematika ini sudah sempat saya sampaikan di akun instagram saya. Ketika saya menyadari akhir-akhir ini feeds saya lebih banyak berisi foto narsis. Ini berbeda dengan postingan-postingan lawas, ketika saya lebih banyak mengunggah hasil hasil jepretan saya. Saya sih sadar diri ya kalau baik saat saya memotret maupun dipotret, ya gak istimewa-istimewa amat. Karena hanya Jogja yang Istimewa.

Namun dari kenyataan ini, saya jadi merenung. Sepertinya memang iya akhir-akhir ini saya tak lagi bersemangat mengambil gambar.

Saya lebih memilih beradu dengan sutil dan wajan di dapur ketimbang pagi-pagi buta mencari spot sunrise terbaik.

Saya lebih memilih sruput kopi sambil membaca buku dibanding bersusah-susah mengabadikan momen terbenamnya matahari.

Saya tak lagi bersemangat saat harus berjalan kaki begitu jauh hanya untuk mendapatkan pemandangan istimewa.

A post shared by aqied aqida (@aqied) on

Saya tak lagi merelakan malam-malam saya untuk bersabar menangkap taburan bintang-bintang dalam rana lambat kamera.

Saya tak lagi menandai tanggal-tanggal khusus dilaksanakannya festival-festival atau event-event budaya untuk turut saya serbu dan abadikan momen langkanya.

Bahkan seorang teman sempat mengejek, bahwa kamera saya akan laku dijual mahal karena shutter count nya masih sangat sedikit.

Saya pikir benar juga.

Saking sedikitnya, kadangkala saya kembali gagap ketika harus memotret.

Otak saya seakan malas bekerja keras memikirkan angle, komposisi, lighting, dan setting terbaik untuk gambar yang ini saya hasilkan.

Pundak saya terasa berat ketika harus memikul beban kamera dengan lensa yang tak seberapa beratnya.

Kerap kali saya merasa grogi dan khawatir ketika harus memotret orang lain.

Tidak jarang pula panik dan timbul ketakutan akan kehilangan momen akibat kegagapan saya memegang kamera. Ah, mungkin memang benar.

Memotret itu rumit, saya gak bakal sabar. Biar dipotret saja.

Yogyakarta, 1802-2018

18 thoughts on “Tentang Memotret dan Dipotret

  1. Mungkin memang lagi berada di masa agak “jenuh” motret mbak. Nanti juga gairah itu akan kembali 🙂
    Belajar motret itu juga nggak akan ada habisnya seumur-umur. Seruu.

    Kalau aku yang sering majang foto dipotretin itu karena:
    ~motret bareng, pas ngopi foto kok potoku timpaang banget jeleknya wkwk kemudian yaudah memang aku dalam bingkai saja, biarlah jepretanku ndelik dalam folder :p

    1. Mungkin itu juga Kali ya,
      Akhir akhir ini kan sering jalan Sama yg motretnya bagus bagus. Jadi kalo udah pd ready Sama kamera nya, aku mejeng aja lah. Kalo ikutan motret palingan standard aja tar hasil fotonya.

      1. Iyaa betuul. Terus aku juga kadang masih nggak pede kalau suruh motretin orang. Takut jelek hasilnya haha. Apalagi kalau requestnya: eh yang jangan kelihatan gemuk, dll, dll 😂

        E tapi Mbak Aqied kudu sering-sering majang foto diri kok, biar yang kangen-kangen di ((sana)) terobati *tsah

  2. Lha bukannya masih motret buat akun bekal, Mbak? Hehe mungkin lagi jenuh aja sama traveling dsb, dan lebih seneng bercanda dengan kopi (dan tumpukan tugas). Hahaha

    1. Hahaha iya motret bekal mAh masih Tiap Hari, walk menuny itu itu mulu.
      Btw aku masih sukak kok traveling Dan Dolan Dolan. Cuma jarang ngeblog aja. Hahaha
      Oya era tugas sudah berlalu. Sekarang tinggal fokus TA

  3. Karena ora pernah belajar motret serius, jadi ya sekarang nikmatin motret pake kamera hp aja Qied. Kebayang ribetnya kalo sampe harus mikirin segala setting kamera gitu. Tapi eniwei, apapun posisinya, selamat menikmati saja.

    1. Motret pake hp juga mikir angle, komposisi Dan lighting kan Mas… Aku tuh mulai malas mikirnya. Hahahaha.
      Akhirny drpd pusing yaudah gak usah motret aj. Hehehe

  4. Penting itu kasih setelan auto aja. Pas pengen motret tinggal pencet-pencet aja yang banyak. Biar nanti urusan belakang memilih mana yang bagus atau tidak. Kan tujuannya dapat banyak stok foto akkakakakak

    1. aku gak bosen dolan dolan maupun traveling. masih sukak banget malah. tapi ya gitu, mulai males menyengaja hunting foto dan kalo traveling juga suka males mikir, wkwkwkwk

  5. Sbagai org yg cukup tau diri, dg foto otoskin, aku sih akhir2 ini lebih suka pajang foto di IG hasil jepretan org lain yg ada akunya (tp dg jarak jauh) ngohahaha kalo kbutuhan blog, masi banyak hasil foto sendiri yg biasa aja itu. Sekian

    1. Itulah gunanya berteman dngan mereka2 yg Jago motret. Etapi beban moral banget kalo trus disuruh motoin balik. Grogi berlipat2

  6. Padahal foto kakak ini buagus suekali lhuo! Dek Mimin Besok Siang samai berniat ingin diajari motret. Yok, kak, semangat berumit-rumit kembali dengan kamera agar kameranya pas dijual tidak muahal-muahal amat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *