Rumah Merah Muda di Timur Jogja

Instagram rupanya mengubah banyak hal di sekitar kita. Misalnya membuat banyak spot berlomba-lomba tampil instagenic. Dari rumah makan, resto, coffeeshop, perpustakaan, hingga hotel-hotel berlomba menampilkan sisi instagenic nya untuk menarik perhatian pengunjung. Di rumah-rumah pun mulai menyiapkan sudut favorit untuk berbagai kebutuhan pemotretan.

tangga pun harus instagenic

Disiapkan sudut favorit wajib untuk foto OOTD setiap harinya. Meja kerja yang berantakannya dibuat-buat untuk (seolah-olah) memotret kesibukan kerja. Piring dan cangkir yang lucu untuk dipakai setiap memamerkan hasil masakan dapurnya —atau mungkin orderan GoFood?–. Hingga spot khusus di kebun belakang rumah untuk sekedar foto bekal makan siang setiap harinya. Oke, itu saya.

Lalu, apakah semua itu cukup? Oh, tentu tidak. Harus ada alasan untuk bepergian keluar rumah demi feeds yang tidak itu itu saja.

(more…)

Refleksi Masjid Agung Jawa Tengah

MAJT dalam lensa 10mm

Bahagianya usai mencicipi senin rasa weekend. Libur Maulid Nabi Muhammad SAW kemarin membuat saya jadi menengok ke belakang saat senang-senangnya memotret masjid masjid. Termasuk sebenarnya menara masjid di depan rumah tinggal saya sekarang. Namun yang paling berkesan dari potret memotret masjid adalah saat di Masjid Agung Jawa Tengah atau MAJT.

sudah cukup lama dari kunjungan terakhir saya ke masjid seluas 10 hektare ini. sebenarnya tidak hanya sekali saya sempat menginjakkan kaki di sini. sebelumnya, sempat saya menghadiri pernikahan seorang kawan di gedung pertemuan dalam kompleks MAJT. Namun kala itu, tidak banyak dokumentasi yang dapat tersimpan.

Masjid Agung Jawa Tengah tidak hanya menyediakan tempat ibadah. Kabarnya memang dimaksudkan juga untuk tujuan wisata religi. Menara Al Husna menjulang setinggi 99 meter dengan Museum Kebudayaan Islam di lantai 2 dan 3. Sedang di puncak menara, terdapat 5 teropong yang dapat melihat kota semarang dari atas. Masjid Agung ini juga dilengkapi wisma penginapan sebanyak 23 kamar dalam berbagai pilihan kelas. Jangan lupa pula mencicipi sensasi unik  di lantai 18 Menara Al Husna dimana  terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat.

Selain luas dan ragam fasilitasnya, saya menemukan titik menarik untuk membidikkan kamera. Jika selama ini kesulitan dengan memotret pencerminan dalam air karena air yang tidak cukup tenang, kali ini saya menemukan marmer. Letaknya yang tepat di tengah menghadap megah dan uniknya bangunan arsitektur masjid ini, memanjakan fotografer amatiran seperti saya.

Menggunakan lensa 18mm

Saat itu saya masih belum puas, karena terlalu banyak bagian masjid yang terpotong. Akhirnya saya mencoba lagi dengan menggunakan lensa yang lebih lebar. Beruntung saat itu karena dalamevent Hunting Bareng NX Club, saya bisa dapat pinjaman lensa 10mm. Hasil pertama dari kejauhan bisa menghasilkan gambar seperti pada awal artikel ini. Selanjutnya saya letakkan di marmer tempat saya membidik refleksi sang masjid, maka begini hasil akhirnya.

alhamdulillah, hasilnya bisa bikin yang motret jadi sukak sama hasil jepretannya sendiri. Walaupun ketika dilombain, ya gak menang juga sih #ehcurhat.

Kisah Sandal Jepit

Well, sesungguhnya udah mau bikin judul “kisah sepasang sandal jepit”. Tapi kemudian saya berpikir kalau akhir akhir ini “sepasang” bisa saja menjadi kata sensitif. Bisa saja dianggap tidak berperikejombloan ketika menyematkan hal hal yang berbau sepasang. Apalah saya ini yang tidak pakar dan tidak peka pada tema tema seperti itu. Ditambah lagi kondisi pribadi saya yang juga malas menjawab pertanyaan kepo soal kata yang akhirnya saya hapus dari rencana judul —you know what.

Okay mari kita fokus.

Setiap pejalan pasti tak lepas dari alas kaki nya. Entah itu sandal, sepatu, atau nyekerman. Begitu juga saya yang jarang jalan jalan ini. Sepasang sandal selalu terselip dalam setiap perjalanan saya. Sebagai penghargaan atas dedikasi mereka berdua pada saya, tak jarang saya turut mendokumentasikan kebersamaan mereka sepanjang perjalanan saya.

 

4 Jembatan Instagram di Yogyakarta

image

Jembatan Suko, Pundong

Seiring makin berkembangnya akses sosial media di berbagai kalangan, sepertinya semua benda kini punya syarat: harus instagramable. Berlaku juga sebaliknya, dimana ada suatu benda atau lokasi yang memenuhi syarat instagramable, bakal jadi hits. Tak kecuali jembatan. Kemarin saya sempat iseng iseng cari hashtag #bridgesofinstagram dan nemu lebih dari 12000 post di instagram. Tidak heran, jembatan besar dengan penerangan uwau dan konstruksi canggih namun tetap cantik tampil pada kebanyakannya.

Berbeda dengan tren jembatan instagram di Yogyakarta. Beberapa jembatan yang menarik di kota nyaman ini, malahan bukan jembatan besar. Lebarnya saja tidak cukup menampung satu mobil. Meski begitu, masing masing punya estetika tersendiri yang menarik untuk menghiasi feeds instagram.

Berikut di antaranya

Jembatan Gantung Selopamioro

image

Menjadi penghubung dua desa yang terpisah oleh Kali Opak, jembatan ini masih menjadi jalur transportasi aktif. Namun ukurannya yang kecil hanya dapat dilintasi maksimal kendaraan bermotor roda dua. Itupun harus bergantian karena keterbatasan lebar dan daya sangga nya.

image

Difoto dari tepi sungai

Untuk mengabadikannya dalam #bridgesofinstagram, tidak perlu juga harus mengganggu aktifitas para penyebrang. Cobalah mengeksplor sisi sisi lain jembatan ini. Bisa memotret dari bawah di tepi sungai. Bisa juga sembari ngopi ngopi di warung terdekat dan menemukan framing unik.

image

Framing dari warung dekat jembatan

Jembatan Gantung Suko, Pundong

image

Memiliki jenis yang hampir sama dengan Jembatan Selopamioro. Hanya saya tak jauh dari jembatan ini, sudah dibangun jembatan yang lebih besar selayaknya jembatan untuk jalan raya. Praktis, jembatan gantung suko ini tidak lagi menjadi jalur transportasi penduduk sekitar. Dengan demikian, lebih leluasa dan tak mengganggu untuk proses potret memotret.

Yang diperlukan kemudian adalah kehati-hatian. Tentu saja karena jembatan ini sudah lama tidak difungsikan, beberapa bagian sudah mulai lapuk. Kayu kayu di lantai jembatan tak lagi lengkap. Untuk besi dan baut sejauh yang saya tidak sempat perhatikan, sepertinya masih cukup baik. Tapi ya saya tidak bisa memastikan. Jadi, tetaplah berhati-hati ya.

image

Jembatan besar difoto dari Jembatan Gantung

image

Kelihatan kan kayu kayu yang mulai tak lengkaps.

Jembatan Lava Bantal, Berbah

image

Jembatan Lava Bantal

Dibandingkan kedua jembatan gantung di atas, jembatan ini sepertinya masih cukup baru. Dilihat dari konstruksinya yang lebih modern dan warna cat yang masih mentereng. Kesamaan ketiga nya hanya dari warna yang sama sama kuning.

image

Standing Piyambakan

Menjembatani kawasan Lava Bantal dengan arus yang cukup deras di satu siai dan tenang di sisi yang lain. Bagi sebagian warga lokal, jembatan ini kadang menjadi ajang salto dan berbagai lompat indah saat menyebur ke sungai. Saya sih sadar diri kalo tidak profesional. Jadi cukup menonton saja tidak perlu turut mencoba.

image

Terbaaaaaang

Jembatan Restoran Kampung Jelok, Pathuk

image

Jembatan Jelok saat gelap

Jembatan ini menghubungkan area parkir mobil dengan Restorannya. Atau menjadi jalur lewat sepeda motor baik pengunjung Resto maupun warga sekitar.

Kali ini meskipun jembatan gantung, tapi tak berwarna kuning. Keunikannya pada lampu lampu desain klasik yang menghiasi kanan kiri jembatan. Itulah kenapa saya lebih senang keadaan saat gelap. Walo bikin susah motret bagi amatiran macam saya.  Tiang tiang batiknya juga menjadi keunikan sendiri. Karena seperti melewati lorong lorong kuno.

image

Jembatan Jelok saat terang

—-

Sebenarnya masih banyak jembatan unik dan instagramable di Jogja. Sebut saja mantan jembatan di Kalikuning, jembatan bambu yang hanya muncul saat musim panas, jembatan Pundong lainnya yang masih difungsikan, jembatan besar di kretek Parangtritis, jembatan merah, jembatan kecil Gembira Loka dan jembatan menuju hatimu. Akibat mengingat jenis jembatan yang saya sebutin terakhir barusan, membuat saya tak sanggup meneruskan cerita cerita jembatan lagi #alesanbanget.

Sesungguhnya adalah,  beberapa dari jembatan lain memang belum saya kunjungi, atau tidak aman dan tidak semata mata objek foto. Jembatan tertentu juga tidak memungkinkan atau bisa dibilang lebih baik untuk tidak diganggu dengan aktifitas lain di luar fungsi aslinya. Bagaimanapun juga, jembatan adalah penghubung dua daratan yang terpisah arus, bukan?

Etapi kalo penghubung dua hati yang tak bisa bersatu, apa donk?