Mangut Pesisir dan Soto Glugu ala Angkringan Tobat

Sempat jadi warga pesisir di timur negri ini, membuat saya suka sekali ikan. Ketika di Jogja, bertambah lagi varian masakan ikan yang ternyata saya juga suka banget. Yes, it’s Mangut!!! saya suka banget kalo nemu masakan mangut yang cocok. Soalnya saya masih gak bisa bikin sendiri. Hiks hiks. Makanya ketika dapat kabar kalo di Angkringan Tobat yang hits itu ada menu baru Mangut Pesisir, penasaran deh saya.

Angkringan Tobat sendiri sebenarnya bukan pendatang baru. Lokasi yang mudah dijangkau, kapasitas yang mumpuni, makanan yang beragam, dan wifi kencengnya sudah duluan hits sedari dulu. Hanya saja dulunya Angkringan Tobat ini hanya beroperasi petang hingga malam sebagaimana kebanyakan angkringan.

Sekarang, Angkringan Tobat sudah buka dari pagi dengan menu utama Mangut Pesisir dan Soto Glugu. Jadi memang ada perbedaan menu untuk pagi dan malam.

(more…)

Secuil Curhat di Lantai Bumi

Kerja dan Kuliah pada saat bersamaan itu, tidak hanya butuh manajemen waktu saja. Tapi juga manajemen mood yang baguss. Sudah kita ketahui bersama, tugas kuliah kerap kali menyita waktu hura-hura. Kelas di saat weekend sudah tentu menyusutkan hari libur yang sudah sempit. Jelas sudah pelakunya terindikasi gejala kurang piknik yang berpotensi mengganggu keseimbangan jiwa pelaku tersebut.

Salah satu cara saya menyiasatinya adalah, dengan menuntaskan segala tugas yang ringan maupun berat, sebelum tiba di rumah. Pekerja berdedikasi (kibas poni) macam saya, tentunya hanya menginginkan istirahat yang menenangkan jika sampai di rumah. Jadi inginnya begitu saya sampai rumah, sudah tinggal beres beres dan bersih bersih, santai, trus istirahat deh. Seringkali saya menenteng laptop dan buku buku tebal seusai jam kantor. Memilih sendiri mana yang akan menjadi tempat saya belajar ataupun menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Apakah coffeeshop cozy, apakah spot wifi gratisan umum (anak gratisan banget), apakah perpustakaan daerah, apakah smart lounge suatu mall, apakah sudut terdalam di hati dia.

Dengan kondisi beberapa hari ini Jogja diguyur hujan pada jam jam pulang kantor. Dampaknya tidak hanya genangan di banyak titik, tapi juga kemacetan yang tidak biasa. Ada gunanya juga saya mengalah bukan? menghindari kericuhan lalu lintas dengan mlipir beberapa ratus meter dari kantor, menunggu kemacetan mereda. Sembari menyeruput kopi tanpa gula, yang juga tanpa kamu.
Tak lupa membereskan tugas-tugas kuliah yang tak habis habis. Mengernyitkan kening kala menemukan hal baru yang tak biasa, membanting mouse kala laptop ngehang, dan lupa gigit tablet kala koneksi melambat.
Btw, Lantai Bumi ini salah satu tempat mlipir saya. Belum lama beroperasi, rupanya sudah cukup menggaet banyak pengunjung. Kopi yang nikmat, pelayanan yang ramah, dan tempat instagenic mungkin sebagian alasan. Terbukti dari banyaknya foto foto menarik di lokasi ini.
Lantai Bumi terletak di Pogung Baru Blok C No 28, Jl Kaliurang KM 5.
Bingung arahnya? Sini bareng saya. #modus

Nglathak Gak Pake Jauh

Bahas kuliner jogja tuh memang ra uwis uwis. Yang juga hits pasca demam Cinta dan Rangga itu salah satunya Sate Klathak.

Sate Klathak adalah sate kambing yang pembuatannya berbeda dengan sate kebanyakan. Alih alih menggunakan tusuk bambu, Sate Klathak menggunakan jeruji besi sebagai tusuk. Akibatnya, saat prosesi bakar bakar, keluar suara “klathak klathak”. Dan daging sate pun matang empuk sempurna luar dalam.

Kalau tadinya jika ingin melaksanakan ritual nglathak, perlu spare waktu yang lumayan. Karena area banyak penjaja Sate Klathak letaknya nun di selatan jogja sekian belas kilometer. Jadinya saya gak bisa sering sering deh menikmati ritual Nglathak. That’s why akhir akhir ini sudah ada jawaban atas kegelisahan saya soal fakir nglathak.

Tidak jauh dari area kampus, belum lama ini dibuka depot makan yamg menyajikan menu Sate Klathak dan olahan kambing lainnya. Lokasi nya strategis bangets, dekat dengan kampus kampus UNY, UGM, USD, UAJY, dan UMBY. Tempatnya juga cozy dan kekinian cocok buat anak muda, mahasiswa maupun keluarga. Bersih, nyaman, dan instagramable.

Nyate klathak deket kampus harga mahasiswa jugak.

A photo posted by bekal makan siang aqied (@bekal.makansiang) on

Selain Sate Klathak konvensional, di sini juga ada variasi lain yang makin menambah kenikmatan Nglathak. Ada Sate Klathak Mozarella yang meleleh dan mbleber mbleber,  juga Sate Klathak Manis.

Ada juga menu olahan kambing lainnya yang berkuah, pedas dan bisa bikin nglathak makin rame. Tengkleng pedes dan semangkok penuh, siap sedia dikrokoti (ini bahasa Indonesia nya apa ya). Belum lagi Gulai dengan kuah berbumbu gurih dan meresap ke setiap irisan dagingnya. Masih ada Tongseng dengan kombinasi manis dan pedas. Kenikmatan Paripurna mana yang kau dustakan, kawan.

Tidak perlu takut jika bareng kawan yang gak doyan kambing, ada Ayam Goreng sebagai menu penyeimbang. Belum lagi pilihan minuman yang unik. Susah sepertinya bisa dapat minuman yang tersedia di sini.

Ada teh biru yang jadi favorit dan ajaibnya di sini. Warna birunya bisa berubah menjadi ungu saat diberi perasan jeruk nipis.

Teh biru ini juga bisa dikombinasi dengan yogurt segar. Buat saya sih jadi pasangan yang klop bersanding dengan Sate Klathak.

Trus kalau pasangan yang klop bersanding dengan kamu, yang mana?

Singgah Santap di GH Corner Jogja

Singgah Santap di GH Corner

Bicara kuliner di kota berhati nyaman, Yogyakarta, ini memang tak ada habisnya. citarasa lokal, interlokal, internasional, classic ataupun moders, tumpah ruah di sini. Sampai-sampai saya berpendapat bahwa memikirkan “makan dimana” itu lebih rumit daripada berfikir “masak apa”. Walau begitu, tetep donk, tinggal di kota dengan ragam kekayaan kuliner, rasanya sayang kalau tidak dimaksimalkan. Ada kalanya kita butuh mengenalkan citarasa baru untuk lidah kita. Ada kalanya juga kita butuh suasana baru untuk memperbaiki porak poranda suasana hati kita kitaaaaa???

Seminggu lalu, saya sempat memberi kesempatan bagi lidah saya mencicipi satu pendatang baru di kancah kuliner Yogyakarta. Beruntung karena tiba saat soft launching, sehingga dapat mencicipi sebagian besar menu yang disediakan. Dari icip-icip ini, saya menyimpulkan adanya kolaborasi yang apik antara menu nusantara, arab, sedikit western, dan rempah rempah asia. Penyajian hidangan yang baik, didukung interior kafe yang apik membuat saya makin tertarik untuk mengulang singgah santap berkali-kali.

Tempat itu bernama GH Corner. Menempati Ruko Raflesia di Babarsari Square 2, Kapling M, Depok, Sleman. Ruangan dengan luas yang cukup dan penataan minimalis namun memberi kesan nyaman bagi pengunjung. Di ujung ruangan terlihat bagian dapur, lalu sofa di sisi kiri, dan round table di sisi kanan. Aman dan nyaman untuk hang out bersama kawan, ataupun singgah santap bersama keluarga.

Makanan

Untuk makanan, unggulan di GH Corner Yogyakarta ini adalah Grilled Chicken Chop. Ayam panggang dengan tekstur daging yang empuk, disajikan bersama french fries, selada, dan 2 macam sauce. Untuk pilihan menu lainnya saya bagi secara garis besar seperti ini:

  1. Olahan Ayam : Ayam Goreng, Chicken Katsu, Chicken Gordon Bleu
  2. Pasta : pilihan saus Carbonara, Bolognese
  3. Nasi : Nasi Goreng Kampung, Nasi Goreng Pattaya, Nasi Goreng Seafood
  4. Lainnya : Bihun Seafood, Nasi+Tomyam, Capcay

Minuman

Teh Tarik juara banget ada di sini. Saking favoritnya, dalam sekali singgah santap, saya sampai lupa berapa gelas teh tarik yang sudah saya tenggak. Sebenarnya tak hanya ada teh tarik saja, tapi akibat dibutakan oleh teh tarik, saya jadi tidak sempat mencicipi varian lain, diantaranya:

  1. Varian Teh : Teh Manis, Teh Tawar, Teh Tarik, Lemon Tea
  2. Varian Kopi : Arabica Coffee Special, Kopi Hitam, Kopi Susu, dsb
  3. Spesial : Milo Special, GHC’s Float, dan Milo Float

Kudapan

Kudapan hits seperti Canai Tisu rupanya tersedia di sini. Memang kalau dari saya baca baca buku menu, pilihan menu untuk canai bahkan sampai satu halaman sendiri. Dari yang saya ingat ada Canai Kuah Kari, Canai dengan pisang beserta macam-macam variasi topping, juga ada Canai Manis.

Namun dari yang paling saya suka adalah Martabak Canai Kari. Rasa rempah kari yang meresap disetiap lembar martabak, berpadu irisan daging dan roti canai yang gurih benar-benar kenikmatan paripurna. Mendapatkannya pun cukup dengan menukar selembar rupiah berwarna hijau.

Selain Canai dan Martabak, masih ada macam-macam kue dan cemilan untuk menyempurnakan ritual makan pagi, siang maupun malam. Karena GH Corner buka pukul 09.00-21.00

Yuk singgah santap di GH Corner.

FAQ Seputar Bekal Makan Siang

masak semuanya cuma 30 menit. ayam tanpa minyak, oseng wortel buncis, sambal dabu dabu

Sejak kembali ke dunia kerja dan menjadi karyawan eight to five, saya tentu banyak melakukan penyesuaian. Selama satu semester saya bisa bangun tidur sesukanya, mandi tak mandi semaunya, dan tidak punya jam pasti untuk sarapan, makan siang ataupun dinner. Sekarang, tidak bisa begitu lagi. Malam sebaiknya saya tidur cepat, pagi hari bangun dengan segar, mandi dan bersiap untuk menjemput rizki. Alhasil makan saya juga jadi lebih teratur dari sebelumnya. Cukup perasaan aja yang porak poranda, soal makan sih harus teratur.

Berbeda dengan tempat kerja sebelumnya yang menyediakan makan siang, kali ini makan siang menjadi kebebasan setiap karyawan. Tadinya berhubung saya belum mengenal lingkungan kantor, jadi saya memilih menyiapkan sendiri lunchbox saya. Lah kok lama-lama keterusan. Alasannya simpel sih, saya males buang-buang pikiran buat menjawab kegalauan soal makan apa hari ini. Itu saja sudah membuat malas, apalagi kalau masih ditambah pertanyaan sama siapa, dimana, dan kapan nikah #eh.

Lama-lama saya jadi suka ngefotoin menu menu bekal, siapa tau sewaktu-waktu nanti saya stuck gak punya ide buat bikin bento. Lebih enak kan nyontek masa lalu sendiri ya. Errr ini khusus soal resep masakan sih, bukan masa lalu yang lain.

Postingan ini saya tulis sekalian untuk menjawab sebagian pertanyaan-pertanyaan seputar bekal makan siang saya.  Mungkin selama ini pada taunya saya kan sukanya jalan-jalan dan poto-poto. Udah gitu gak feminine dan kaya yang males gitu anaknya ya kan. Padahal emang beneeer. Hahahaha. Gak heran kalau terus pada nanya kok bisa tetep nyiapin bekal dan sempet banget dipotoin.

  1. Bangun Jam Berapa?

Mungkin lebih tepatnya pertanyaannya diganti ya, jadi “mulai masak jam berapa”.

Seringnya saya mulai masak nasi dengan rice cooker saat bangun untuk sholat subuh.

Untuk masak sayur dan lauk, saya baru mulai jam 06.00 pagi dan maksimal harus selesai 06.30, karena itu sudah jamnya untuk saya mandi.

pernah bikin nasi bakar jugak
pernah bikin nasi bakar jugak

Buat antisipasi saya telat bangun atau telat start masaknya, saya kadang nyicil potong-potong dan kupas kupas sayur malam sebelum tidur. Jadi pagi tinggal cemplang cemplung, tata di lunchbox, dan jepret.

Tentunya gak semua bisa dipotong-potong dari malam ya. Kalau saya untuk bumbu dan sambal, tetap dipotong dan diulek pagi saat memasak. Apalagi kalau lagi bikin sambal ganja, sambal matah, atau sambal dabu dabu.

Kalau sekiranya hari ini saya pengen masak yang kemungkinan bakal lebih lama, ya saya start sedikit lebih awal juga. Daripada gak mateng dan gak bsa dimakan, rugi kan. Saya perkirakan saja lama memasak dan persiapannya berapa lama. Sejauh ini lama persiapan tiap bento maksimal 30-40 menit saja.

Strategi lainnya, kalau weekend sedang selo, saya bikin satu menu yang bisa tahan berhari-hari. Misalnya kering tempe, kering teri, abon, rendang, dll. Jadi saat weekdays tinggal masak sayur atau lauk pendampingnya aja.

img_20160731_115720
abon ikan ini harusnya tahan seminggu, tapi belum seminggu udah habis
  1. Masak Sendiri?

Yups. Heran juga saya, kalo pada suka ngejekin saya yang katanya sudah terlalu lama sendiri tapi masih menyangsikan kalo masak pun saya sendiri. *nangis sambil iris bawang

Tapi iya bener. Mayoritas bekal-bekal saya, saya siapkan sendiri. Belanja sendiri, iris-iris sendiri, masak sendiri, nyiapin lunchbox sendiri, dipoto sendiri dan ujung-ujungnya dimakan sendiri juga.

ini mah kilat banget
ini mah kilat banget

Saya bukan yang jago masak. Bukan juga yang rajin melototin cookpad, nontonin video masak di youtube dan penggiat grup grup memasak di sosial media. Sudah saya bilang kan, kalo saya itu pemalas. Karena malas itulah saya selalu berusaha memasak se-mudah-mudahnya dalam tempo se-singkat-singkatnya.

I choose a lazy person to do a hard job. Because a lazy person will find an easy way to do it (Bill Gates)

  1. Belanja di mana dan kapan?

Ini beneran ada yang nanya lho. Untung gak nanya juga belanjanya sama siapa. Soalnya kalo nanti saya jawab “Sendiri” ujung-ujungnya malah dibully. #ehcurhat

Saya lebih sering belanja di mbok sayur dan bukan di pasar. Jadi apa yang ada di warung simbok sayur itu yang saya masak.

Kenapa gak di pasar? Saya mikir efisiennya aja sih. Karena lokasi warung lebih deket daripada pasar. Plus lagi, kalau pagi-pagi harus belanja waktunya gak bakal cukup. Sementara sepulang ngantor, udah malem juga dan saya pengennya istirahat.

habis belanja langsung dimasak yang tahan lama
habis belanja langsung dimasak yang tahan lama

Sesekali saya juga masih belanja di supermarket. Ketika yang saya pengenin banget gak ada di warung mbok sayur, sementara pasar sudah tutup.

Saya belanja juga gak sering-sering. Bisa seminggu sekali atau seminggu dua kali. Untuk budget biasa habis 30-60 ribu untuk sekali belanja. Dibanding harus jajan tiap hari, ini jadi ngirit banget. Karena itungannya porsi yang saya masak masih bisa buat makan adik saya juga di rumah.

img_20160805_083450

  1. Bekal kopi?

Dalam beberapa kali postingan bekal, saya memang menyertakan kopi dingin dalam botol kaca. Sebagai pecinta kopi, saya beberapa kali sengaja membawa kopi sendiri untuk bekal. Saya mikirnya daripada saya harus bawa peralatan kopi saya seperti grinder, filter dan coffee beans sendiri, mendingan saya bawa yang udah siap minum saja. Dan dari semua metode seduh kopi yang paling awet dan tetap enak ya cold brew.

cold brew dalam botol
cold brew dalam botol

Untuk resep cold brew bisa cek di artikel lama saya ini.

 

  1. Lunchbox merk apa?

Saya ini anaknya males bawa yang besar besar dan males juga kalo kebanyakan tentengan. Apalagi statusnya sekarang masih anak motor yang ribet kalo bawannya banyak. Jadi lunch box saya ya kecil-kecil. Yang penting ada partisinya dan Alhamdulillah menunya cukup dan kenyang.

Lunch Box lock&Lock
Lunch Box lock&Lock

Awalnya saya pakai lunch box Lion Star, sukak sih karena kecil. Tapi bisa muat lumayan dan enak bawanya.  Gak lama setelah itu, dapat lunch box Lock&Lock di salah satu event blogger. Jadi lah paling sering pake 2 lunch box itu.

penampakan Lion Star
penampakan Lion Star

Ada sih yang besar, beberapa kali aja dipake. Kalo lagi banyak yang mau dibawa, dan rada niat.

lunch box besar, unbranded
lunch box besar, unbranded

Untuk botol cold brew saya pakai botol beling yang mirip buat ASIP. Dapatnya gratisan tiap take away cold brew di coffeeshop.

Masih ada pertanyaan lagi?

*foto dan teks oleh aqied

Ndalem Sopingen, Kotagede

cukup lumayan lama saya menjadi perantau  berdomisili di Kotagede, Yogyakarta. Namun rupanya soal khazanah perkulineran, saya belum cukup gawl. Misalnya pendopo berhalaman luas dengan konsep lighting yang hangat ini. Ya, Warung Jawi atau disebut juga nDalem Sopinge. terletak hanya beberapa ratus meter dari hiruk pikuk aktivitas ekonomi Pasar Legi Kotagede. Tempat Gank Cinta jajan es teh di angkringan pada salah satu sudutnya.

saya baru mengetahui lokasi ini saat acara hunting bareng fotografer.net beberapa masa silam. saat itu saya sama sekali tidak tauper fotografian, dan bukan pula fotografer. Tapi akibat keselo-an dan lokasi yang dekat, berangkatlah saya. siapa tau bisa dapat berkenalan dan ketemu jodoh berguru dari banyak fotografer. walau pada akhirnya saya hanya bengong dan malah cuma jalan kaki ngintilin para fotografer, dan bengong aja karena gak ngerti photo street. Namun kesan pada nDalem Sopingen sebagai titik kumpul kami kala itu, memberi kesan positif pada saya.

apalagi saat rangkaian photo street usai dan kami kembali ke titik kumpul. Cangkir cangkir berisi air secang hangat, menebus dahaga dan lelah kami. piring-piring dengan timbunan kacang rebus dan pisang godok, turut meramaikan. Desain pendopo klasik ditambah sinar lampu kuning yang hangat, tikar-tikar yang digelar dan meja meja kecil kayu, menambah ketenangan dalam keakraban malam itu.

beratus-ratus malam setelahnya, baru saya sempat menyambangi lagi. Saat malam hari, pendopo ini dapat menghidangkan masakan minuman jawa, dengan suasana yanag makin jawa. Tak heran mereka menamainya Warung Jawi.

Malam itu kami memesan Brongkos dan Rawon. Untuk minumannya kami percayakan segelas wedang secang dan kunir asem hangat tuk menemani. Rupanya, sepiring kacang rebus ddisajikan pada kami sebagai welcome snack. sembari menunggu hidangan disiapkan, saya menikmati sekali suasana yang tenang, sambil sesekali mengambil gambar. Lokasinya yang sedikit mblusuk mengamankan pendengaran kami dari polusi suara kendaraan dan lalu lalang.

A photo posted by Aqida Shohiha (@aqied) on

saat hidangan tiba, baik rawon maupun brongkos menghadirkan kuah dengan kepekatan yang cukup kental. rasa bumbu dan rempah yang tak pelit pelit. Tak heran kedua mangkok kami habiskan bersih hingga tetes terakhir. Untuk rawonnya sendiri, rupanya sudah dijodohkan sekaligus dengan telur asina utuh.

Selain rawon dan brongkos, Warung Jawi juga menyediakan bakmi jawa. saya belum sempat mencicip, tapi bukankah ini akan menjadi alasan saya untuk terus kembali lagi? mencecap setiap senti bakmi dalam tenang. menyeruput teh panas gula baru dengan senang. Mungkin sambil bersenda gurau bersamamu dengan riang?

sopingen