Tentang Memotret dan Dipotret

Awalnya saya berencana untuk mempublish tulisan tentang salah satu coffeeshop dan roastery fovorit saya. Namun di tengah menulis, sepertinya ada beberapa informasi yang buat saya masih kurang. Jadi saya pikir, baiknya saya cari informasinya dulu sebelum tayang nanti. Semoga minggu depan sudah bisa publish.

Daripada itu, saya malah jadi kepengen menuangkan keresahan saya soal memotret dan dipotret *ceileh yang resah.

(more…)

Foto Ala Buku Tahunan

Hello, 2018

Ternyata sudah lewat setengah bulan lebih di tahun 2018 dan belum ada postingan baru di blog ini. Sampai-sampai saya dicolek mbak Pink di twitter. Di situ saya merasa gagal menjadi blogger yang sok hits. Padahal hits dari mananya, lha wong banyakan yang gak kenal daripada yang kenal yekan.

mana yang bilang saya gak hits?

(more…)

Rumah Merah Muda di Timur Jogja

Instagram rupanya mengubah banyak hal di sekitar kita. Misalnya membuat banyak spot berlomba-lomba tampil instagenic. Dari rumah makan, resto, coffeeshop, perpustakaan, hingga hotel-hotel berlomba menampilkan sisi instagenic nya untuk menarik perhatian pengunjung. Di rumah-rumah pun mulai menyiapkan sudut favorit untuk berbagai kebutuhan pemotretan.

tangga pun harus instagenic

Disiapkan sudut favorit wajib untuk foto OOTD setiap harinya. Meja kerja yang berantakannya dibuat-buat untuk (seolah-olah) memotret kesibukan kerja. Piring dan cangkir yang lucu untuk dipakai setiap memamerkan hasil masakan dapurnya —atau mungkin orderan GoFood?–. Hingga spot khusus di kebun belakang rumah untuk sekedar foto bekal makan siang setiap harinya. Oke, itu saya.

Lalu, apakah semua itu cukup? Oh, tentu tidak. Harus ada alasan untuk bepergian keluar rumah demi feeds yang tidak itu itu saja.

(more…)

Refleksi Masjid Agung Jawa Tengah

MAJT dalam lensa 10mm

Bahagianya usai mencicipi senin rasa weekend. Libur Maulid Nabi Muhammad SAW kemarin membuat saya jadi menengok ke belakang saat senang-senangnya memotret masjid masjid. Termasuk sebenarnya menara masjid di depan rumah tinggal saya sekarang. Namun yang paling berkesan dari potret memotret masjid adalah saat di Masjid Agung Jawa Tengah atau MAJT.

sudah cukup lama dari kunjungan terakhir saya ke masjid seluas 10 hektare ini. sebenarnya tidak hanya sekali saya sempat menginjakkan kaki di sini. sebelumnya, sempat saya menghadiri pernikahan seorang kawan di gedung pertemuan dalam kompleks MAJT. Namun kala itu, tidak banyak dokumentasi yang dapat tersimpan.

Masjid Agung Jawa Tengah tidak hanya menyediakan tempat ibadah. Kabarnya memang dimaksudkan juga untuk tujuan wisata religi. Menara Al Husna menjulang setinggi 99 meter dengan Museum Kebudayaan Islam di lantai 2 dan 3. Sedang di puncak menara, terdapat 5 teropong yang dapat melihat kota semarang dari atas. Masjid Agung ini juga dilengkapi wisma penginapan sebanyak 23 kamar dalam berbagai pilihan kelas. Jangan lupa pula mencicipi sensasi unik  di lantai 18 Menara Al Husna dimana  terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat.

Selain luas dan ragam fasilitasnya, saya menemukan titik menarik untuk membidikkan kamera. Jika selama ini kesulitan dengan memotret pencerminan dalam air karena air yang tidak cukup tenang, kali ini saya menemukan marmer. Letaknya yang tepat di tengah menghadap megah dan uniknya bangunan arsitektur masjid ini, memanjakan fotografer amatiran seperti saya.

Menggunakan lensa 18mm

Saat itu saya masih belum puas, karena terlalu banyak bagian masjid yang terpotong. Akhirnya saya mencoba lagi dengan menggunakan lensa yang lebih lebar. Beruntung saat itu karena dalamevent Hunting Bareng NX Club, saya bisa dapat pinjaman lensa 10mm. Hasil pertama dari kejauhan bisa menghasilkan gambar seperti pada awal artikel ini. Selanjutnya saya letakkan di marmer tempat saya membidik refleksi sang masjid, maka begini hasil akhirnya.

alhamdulillah, hasilnya bisa bikin yang motret jadi sukak sama hasil jepretannya sendiri. Walaupun ketika dilombain, ya gak menang juga sih #ehcurhat.

Kisah Sandal Jepit

Well, sesungguhnya udah mau bikin judul “kisah sepasang sandal jepit”. Tapi kemudian saya berpikir kalau akhir akhir ini “sepasang” bisa saja menjadi kata sensitif. Bisa saja dianggap tidak berperikejombloan ketika menyematkan hal hal yang berbau sepasang. Apalah saya ini yang tidak pakar dan tidak peka pada tema tema seperti itu. Ditambah lagi kondisi pribadi saya yang juga malas menjawab pertanyaan kepo soal kata yang akhirnya saya hapus dari rencana judul —you know what.

Okay mari kita fokus.

Setiap pejalan pasti tak lepas dari alas kaki nya. Entah itu sandal, sepatu, atau nyekerman. Begitu juga saya yang jarang jalan jalan ini. Sepasang sandal selalu terselip dalam setiap perjalanan saya. Sebagai penghargaan atas dedikasi mereka berdua pada saya, tak jarang saya turut mendokumentasikan kebersamaan mereka sepanjang perjalanan saya.