Catatan Semeru 2: Menghitung Budget

Beberapa waktu lalu saya mengajukan pertanyaan tentang topik apa mengenai Semeru yang sebaiknya saya tulis di blog. Salah satu jawaban yang masuk menyarankan pembahasan rincian anggaran dan budget untuk mendaki Semeru. Walaupun informasi tentang ini sebenarnya sudah banyak yang menulis, boleh lah saya turut serta meramaikan berdasarkan pengalaman pendakian Semeru pada Agustus 2018.

Ini 6 pos anggaran yang perlu disiapkan saat menghitung budget ke Gunung Semeru dari Yogyakarta:

(more…)

Mueniq Tetradrip : Dripper V60 Semungil Passport

Beberapa waktu terakhir, saya suka ribet sendiri tiap akan bepergian. Galau gak penting memutuskan bawa alat kopi apa atau gimana ngopi di destinasi nanti. Masih mikir juga bawa alat kopi macem-macem bakalan berat-beratin ransel nggak. Atau di sana nanti aman gak buat alat-alat saya. Kalo pada rusak atau pecah kebentur-bentur kan lumayan ya kalo harus beli lagi.

Baca : Menghitung Perlengkapan Seduh Rumahan

Sampai ketemu dripper V60 super ringkas dan travel friendly ini

(more…)

Kenapa Ke Bromo (Lagi)?

Saya hampir tidak pernah merencanakan ke Bromo jauh-jauh hari. Berkali-kali ke Bromo, rata-rata dadakan atau impulsif. Begitu juga saat berwacana dadakan untuk kembali menyapa Bromo pertengahan April lalu. Dan lagi tak hanya kali ini saja saya menjumpai pertanyaan yang sama seperti yang lalu-lalu.

Kenapa ke Bromo lagi?

Lawatan terakhir saya ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini sebenarnya sudah cukup lama. Bertepatan dengan Jazz Gunung 2015, yang lagi-lagi tiketnya saya beli dengan sangat impulsif. Seharusnya tak lagi menjadi pertanyaan jika saat ini saya ingin kembali lagi ke Bromo. Rentang 3 tahun sangat mungkin telah banyak yang berubah. Misalnya saja signage super besar yang sempat kontroversial di kalangan traveler itu. Siapa tau saya bisa berfoto di depannya sehingga menuai kontroversi di kalangan blogger ghibah, bukan? Lumayan untuk sebuah usaha panjat sosial.

jeep bromo aja 

Selain upaya panjat sosial, sebenarnya ada satu tujuan utama yang selalu saya rindukan jika ke Bromo:

(more…)

Arunika dari Banjaroya

Apa yang terbersit pertama kali mendengar Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo?

Ya, Durian. Namun siapa sangka tak hanya harum durian yang bisa disajikan salah satu desa wisatanya, Banjaroya. Misalnya berjuta warna kala mentari terbit dari tepi waduknya.

 

(more…)

Menghitung Perlengkapan Seduh Rumahan

daripada ngopi di coffeeshop, mending seduh di rumah saja, lebih irit

benarkah?

Bisa benar jika standar kopimu memang berbeda jauh dengan kopi di coffeeshop. Jika demikian, saya rasa tidak bisa dibandingkan karena bukan apple to apple.  Misalnya dari bahan utamanya saja, kopi yang whole beans dengan standar tertentu, tidak bisa disamakan dengan kopi bubuk instan. Belum lagi jika menginginkan minuman kopi dengan berbagai variasi. Misalnya rupa-rupa espresso based seperti Espresso, Capuccino, Latte, Mochaccino, dan sebagainya. Tentu sulit menyeduh sendiri di rumah dengan keterbatasan alat-alat kopi. Namun bukan berarti tidak mungkin. Tidak semua alat kopi diperuntukkan untuk coffeeshop. Ada juga alat-alat seduh yang cocok untuk meracik kopi sendiri di rumah.

(more…)

Karena Semua Setara di Hadapan Kopi

Saya mengenal kopi sejak lama. Tak heran karena kopi dari negeri ini telah lama pula mendunia. Sebut saja Kopi Toraja dan Kopi Gayo. Dua dari ribuan ragam kopi nusantara yang terkenal di penjuru semesta. Seakan tak cukup waktu untuk mampu menyesap seluruh kopi yang dihasilkan kebun-kebun Indonesia. Di kota saya sendiri saja, hampir setiap bulan muncul coffeeshop baru. Setiap minggu di setiap roastery, muncul biji kopi jenis baru. Setiap kebun, menghasilkan jenis tumbuhan baru dengan proses pasca panen yang baru pula. Masing-masing biji kopi memiliki keunikan dan karakter yang berbeda-beda. Inilah yang membuat saya semakin hari semakin mencintai kopi.

syukur tak terkira untuk setiap cangkir kopi

(more…)