Satu Jam bersama Senja

Perjalanan bagi saya selalu ingin saya nikmati. Sebagai warganegara dengan status tempat tinggal tidak jelas, perjalanan perjalanan sederhana kerap membersamai saya.
Mungkin jika dirunut ke belakang, perjalanan panjang saya dimulai saat berusia 4 tahun dengan kapal laut milik PELNI selama 5 hari.
Setelah itu kembali ke tanah jawa melalui udara dg jarak yang sama jarak tempuhnya cukup 5 jam.
Pernah pula saya menjadi bagian dr penikmat perjalanan darat via Bus. Sampai2 tergerak untuk jd member bismania.org karena aktivitas mobile saya kerap bersama bus.
Ada pula cerita perjalanan saya yang serba ekonomis dengan total pengeluaran Jogja-Denpasar-Jogja hanya 132.000 melalui KA ekonomi plus ferry plus bus.
Tapi saya sedang tidak ingin bercerita ttg moda-moda transportasi di atas. Saya kembali ke favorit saya: Sepeda Motor.
Yap, sejak berhasil mengendalikan sepeda motor, perjalanan dengannya bagi saya terasa istimewa. Setidaknya selalu berusaha saya nikmati.
Alam seakan mendukung. Kini setiap senin pagi dan jumat sore, hampir selalu bisa ku nikmati agungnya lukisan Tuhan.
Why? Oke sekedar tambahan info, tujuan saya nge buruh senin-jumat ada di Timur. Sedang tempat beristirahat dan menikmati day off saya ada di Barat. Jarak tempuh dg kecepatan rata2 kemampuan saya selama 50-60 menit.
Sudah dapat bayangan?
Dengan perjalanan ke timur di pagi hari, berarti saya disuguhi kehangatan mentari pagi. Jika sedikit lebih rajin, saya akan ditemani saat saat golden sunrise. Satu jam tak henti memuaskan mata saya dengan setiap momen pergerakan matahari dari intipannya, kerlingannya, cahaya emasnya, hingga berakhir sentuhan hangatnya.
Momen terindah lebih saya sukai saat senja. Saya lebih sering pulang jumat sore. Fyi, jam kantor saya berakhir pukul 17.00. Bisa dirasa saat saat itu, surya tak lagi menyengat. Namun sinarnya masih melimpah dan menjaga saya dari kemungkinan tersandung jalan2 rusak bergelombang yang menjadi rute saya.
Tak perlu menunggu lama, perjalanan saya selanjutnya dipayungi awan cantik bersemburat jingga. Warna senja yang mewah, romantis, namun menantang. Sedang bola emas raksasa bernama matahari serasa berada tepat di depan saya. Terkadang bersaput awan lembut, seakan sapuan kanvas halus berusaha menggoresnya. Perlahan ia merendah dan mulai bersembunyi di balik gedung2 dan pepohonan nun diujung bumi sana. Malam seakan mengirimkan kode, bahwa tirai nya akan segera turun.
Aneka warna yang seringkali bahkan lebih indah dari pelangi, lebih mewah dari kilau emas di langit sekeliling saya, menjadi pengantar terindah perjalan pulang saya yang selalu sendiri…
Hingga kemudian matahari resmi berpamitan pergi, melanjutkan tugasnya sinari sisi lain bumi ini, dan malam menurunkan pekatnya. Lampu lampu kota, lampu kendaraan semakin terlihat nyata, adzan maghrib menyapa telingaku.
Ternyata tujuanku telah sampai, dan jarum pendek arlojiku sudah bergeser satu angka.
Bagaimana saya akan bosan jika perjalananku bersama lukisan agung sang alam.
Bagaimana saya akan merasa kehilangan waktu jika sudah dibayarnya keindahan visual yang memanjakan.
Bagaimana saya akan merasa sepi jika sekelompok awan menjadi pengantarku.
Seolah seluruh alam bersekutu tuk bahagiaku..
Terima Kasih, Tuhan
Betapa ku cinta Satu Jam ku bersama Senja.

14 komentar pada "Satu Jam bersama Senja"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.