Aqied Kecil Bersekolah *catatan Papua 1994-2001

Untunglah saya sempat tinggal di ujung timur negri. Tidak berhenti saya bersyukur pada skenario Yang Maha Kuasa tentang masa kecil saya.
Tahun 1994, saya menjejak Kota Sorong, Papua (saat itu Irian Jaya) untuk pertama kali. Kami sampai di pelabuhan dini hari.
Tahun 1995, saya Aqied kecil iseng didaftarkan Bapak di salah satu sekolah dasar Islam dekat tempat tinggal kami. Kala itu usia saya seharusnya belum saatnya masuk SD. Orang tua memandang niat dan keinginan saya yang begitu membaja (ceilah) untuk sekolah seperti Qolbiy. Mari kita bayangkan Sorong di tahun 1994.
Tidak ada TK terdekat di sekitar kami. Bahkan yang searah dengan sekolah tempat Bapak ngajar. Saya tinggal di Jl Basuki Rahmat KM 9,5 (sekarang sebelah Perumahan Pertamina pas) sedang Bapak mengajar di KM 13. Akhirnya saya diikutkan sekolah SD yang masih bisa ditempuh jalan kaki.
Menonton Laskar Pelangi mengingatkan saya pada sekolah Aqied kecil. Sekolah swasta dengan siswa/siswi low-end meski kondisi sekolah lebih baik dari SD Muhammadiyah Gantong.
Sekolah Aqied kecil ad 6 kelas, masing2 untuk satu tingkat. Jumlah guru ad 7, sudah termasuk satu kepala sekolah.
Lapangan sekolah sangat cukup untuk upacara bendera, bermain kasti, atau olahraga lain. Sebagian besar tanah berwarna coklat-oranye, sebagian ditumbuhi rumput, dan ad beberapa pohon kelapa di salah satu bagian. Jika musim hujan, ad baiknya berhati hati kecuali bagi penganut paham ‘berani kotor itu baik’
Ruang kelas kami beralas semen, sebagian mulai berlubang2. Setiap satu meja dilengkapi bangku panjang kapasitas 2 anak kecil. Kaca jendela model nako yang sudah tidak lengkap baik jumlah kaca maupun besi teralisnya. Memudahkan beberapa teman Aqied kecil kabur saat mobil puskesmas datang. Jarum suntik masih tajam dan menakutkan kala itu. Jendela yang bolong2 juga memudahkan tebu tebu dibelakang sekolah menerobos masuk kelas. Yang kemudian kami potong dan berebut potongan tebu untuk di sesap.
Toilet sekolah ada dua. Disebelahnya ada sumur untuk mengambil air. Jadi kalau sedang kebelet, mohon menimba dulu. Oya nimbanya gak pke katrol yaa, jadi ada ember yg diikat dengan tali panjang. So, timbanya tanpa bantuan ‘pesawat sederhana’ bernama katrol.
Ada sungai berair coklat di belakang sekolah. Jembatan kecil titian bambu menjadi penghubung untuk ke sebrang. Aqies kecil tidak begitu tau apa saja yg ada di sebrang. Yang Aqies kecil tau hanya Soa-soa (semacam kadal besar, sekitar 70cm-1meteran, tp gak pernah ngukur juga sik) sering terlihat di pepohonan sebrang sana. Kadang entah kenapa Soa-soa tersebut terlihat di kamar mandi/toilet. Mungkin nyasar.
Tapi itu masa lampau.
Seiring berjalan waktu, prestasi demi prestasi menghiasi sekolah ini. Peminat nya turut meningkat. Lama kelamaan sekolah ini bermetamorfosa. Cukup melesat jauh. Jumlah siswa yang terus meningkat, berbanding lurus dengan jumlah kelas yang akhirnya dibangun.
2001 Aqied kecil lulus, sekolah ini sudah menambah jumlah ruang kelas. Ad beberapa perubahan  semacam ruang guru, toilet, dan jumlah siswa. Tepat angkatan sekolah dibawah Aqied kecil, satu tingkatnya ada dua kelas, A dan B. H+1 menerima ijazah, saya diterbangkan Merpati (MNA) ke pulau Jawa.
Baru pada 2010 lalu saya sempat menengok silaturrahim, dan bingung (pertama mudik setelah 9 tahun di jawa). Hampir tidak menemukan nostalgia masa lalu si Aqied kecil.
Ruangan2 sederhana dulu telah menjadi gedung bertingkat. Lengkap dengan R Multimedia, Masjid sekolah dan ramainya lalu lalang siswa siswa di sekolah ini (saya tidak memperhatikan banyak). Menurut cerita Bapak, kini halaman sekolah itu sesekali ad tampilan Ka’bah, untuk latihan manasik haji.
Ah, betapa merindu masa masa kami mengenal hampir seluruh siswa satu sekolah. Betapa merindu masa masa kami bergantian merebus air dan membuat teh untuk bapak ibu guru. Betapa merindu tidur tiduran dan bermain sesukanya di atas rerumputan bersandar pohon kelapa. Betapa merindu saat saat menjerit heboh kala soa-soa mengintip kami dari luar kelas. Betapa merindu tidur dan camping di sekolah untuk pesantren kilat Ramadhan. Betapa merindu ketika harus terpleset genangan air pasca hujan di halaman sekolah yg becek. Betapa merindu Bapak dan Ibu guru yang bisa bisa nya masih bertahan dengan segala keanehan dan kenakalan kami. Betapa ah betapa……..

*Aqied kecil, seandainya neverland itu ada

25 thoughts on “Aqied Kecil Bersekolah *catatan Papua 1994-2001

  1. jadi inget masa sekolah SD
    😀

    lapangannya…. belakang sekolah… bahkan seorang nenek yang selalu menyediakan air buat minum di dalam tempayan bila saya dan teman-teman datang ke rumahnya.

  2. wah ad tempat silaturrahim favorit ya ternyata.
    satu lagi yang ngangenin: PMTAS (Program Makanan Tambahan untuk Anak Sekolah). tiap hri dapet n lumayaan bangeeet. enak2 n kenyang

  3. wah….., jadi teringat masa kecil jugah akuh. dulu jaman sekolah pas istirahat pergi ke sawah, nyari sisa-sisa jagung yang habis di panen, nyari tebu, juga nyari jamur padi. tapi itu duluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu.
    jadi bertanya-tanya, masih adakah anak2 es de yang main seperti itu?

    1. Waah asyik banget. Sekolah aku pinggir jalan utama kota Sorong sih, jd gak ad sawah dket2 situ.
      Kalo di desa/pelosok mgkn masih ada ya anak SD kaya gitu, sperti di Bolang gitu. Kalo di Kota, lahanny juga gak ada sih

  4. kalo dulu aku sempet ngarasain tk itu tiga taun., sempet keracunan karena diberi minum air bunga kamboja, nekad berenang di sungai yang dalem cuma berdua sama temen, padahal sama-sama gak bisa renang, nostalgia masa kecil… 🙂

  5. Wah 😮
    Aku dari kecil sudah di Jawa
    Pingin banget bisa liat indonesia bagian timur.
    Waktu silahturahmi ke SD saya juga begitu, sekarang sudah jauh berbeda dgn waktu dulu.
    Meski lorong kelasnya masih terlihat sama sih.

    1. Hai linda
      Iya sebenerny seneng kalo sekolah lama skrg tambah bagus gitu ya.
      Tp sedih juga kehilangan nostalgia.
      Kelasku 2 SMP malah skrg uda g ada. Dirobohin bangunannya bangun gedung baru. T_T

  6. tahun 1986, aku lari dari kelas begitu melihat petugas imunisasi dari puskesmas datang. saya merasa beruntung karena bu surinah tidak cukup kuasa untuk mengejar aku berlari, hehe

  7. Saya punya teman yang berpuluh tahun mengajar di Sorong. Namanya Bu Hartini. Terakhir mengajar di SD Muhammadiyah. Suminya juga guru. Sekarang dah mukim lagi di Jawa. Punya banyak cerita menarik juga lho. 🙂

    1. Wah saya gak kenal Bu Hartini. Karna meski saya tinggalnya di Panti Asuhan Al Amin Muhammadiyah, saya SD nya di Al Ma’arif ;). Kalo SD Muh lumayan jauh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.