1000 Bintang di Kawah Ijen

image

Pagi masih terlalu dini ketika kami meninggalkan penginapan yang hangat. Udara masih terlalu menusuk meski jaket, syal dan sarung tangan rapat dikenakan. Pukul dua pagi ketika mobil kami menjauhi penginapan. Belum tuntas 2 jam tidur kami semalam. Belum pulih raga kami dari sisa sisa perjalanan dan bermain di Baluran hari sebelumnya.
Tiba di area parkir kawasan wisata Gunung Ijen, Tour Leader kami mengingatkan bagi yang tidak yakin sampai terutama alasan kesehatan, untuk memikirkan kembali masak masak. Sampai kemudian kami sepakat untuk naik.
Kawah Ijen, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 1,5 hingga 3 jam (tergantung kecepatan jalan) dari area parkir. Lintasannya sekitar 3 KM dengan elevasi cukup landai dan bersahabat untuk siapa saja. Namun memang menanjak terus.

 

Tuh jalanan ternyata ngeri. Pas malam gak kelihatan

Mengapa harus mendaki di tengah malam gelap gulita?
Kawah Ijen memiliki sesuatu yang hanya ada 2 di dunia ini. Yaitu blue fire alias api biru. Api spesial ini hanya muncul di pagi buta. Mungkin sekitar pukul 3 hingga jelang subuh.
Untuk aman mendaki, disarankan menggunakan sepatu/sandal yang tepat karena tanah yang sesekali berpasir atau mungkin bisa licin jika musim penghujan. Jangan sampai salah alas kaki yang bisa menyebabkan langkah semakin berat atau lecet lecet begitu turun. Karena malam hari, siapkan juga head lamp atau senter untuk penerangan.
Sebelumnya, saya lumayan mencari info tentang Kawah Ijen ini. Termasuk salah satu destinasi yang membuat saya menyesaaaaal sekali jika tak berkunjung, jauh jauh hari saya banyak cari info. Mendapat info kalau jarak mendaki hanya 3 Kilometer dan elevasi yang landai membuat saya berfikir ‘aah keciiil’ secara saya dulu (tapi udah dulu bangeeet) juga hobi tracking, trus juga kalo jogging paling nggak saya 2,8 KM.
Tapi tapi tapi, rupanya kesombongan saya itu dihancurkan telak oleh si gagah Ijen. Setengah perjalanan pertama saya lalui dengan sangat susah payah. Semangat 45 di awal jalan, buat saya yang libur jogging sejak 2 minggu sebelumnya, bikin nafas saya kacau. Ditambah saya pengen nyamain langkah n kecepatan 2 rekan saya yang lain (yang katanya kedinginan kalo jalannya pelan pelan). Apalagi saya agak bermasalah (baca: musuhan) sama udara dingin. Jadilah saya di paling belakang dan gak bisa sejajar dengan rekan2 yang lain, padahal di awal perjalanan saya barisan paling depan bertiga.
Beruntung ad Tour Leader (TL) yang mau maunya nungguin saya dan bukannya ninggalin dan suruh saya turun aja. Tiap berapa langkah dan nafas saya ud gak beres, saya minta berhenti. Ujung ujungnya ransel saya yang isinya kamera dan air minum, ikut dibawain pula. Sambil jalan pelan pelan dan rombongan di depan kami sudah jauuh sekali tidak terlihat.
Yang indah dan membahagiakan saya di kala kondisi sekarat seperti saat itu adalah, taburan bintang yang maha dahsyat. Mungkin lebih dari 1000 bintang mengiringi langkah cemen saya. Sesekali ada bintang jatuh yang gak sempat saya lihat (TL nya lihat terus bintang jatuh). Jarak antara kami dan bintang pun rasanya lebih dekat.
Ambil gambar?
Saya tidak terfikir saat itu. Selain lensa kamera saya cuma pas pas an, saya saat itu lebih memikirkan bagaimana saya bisa sampai. Seberapa tenaga saya yang masih bisa buat saya naik dan kemudian turun. Itu saja yang ada di otak saya kala itu. Tidak heran, dari beberapa destinasi selama trip, foto di Kawah Ijen paling sedikit.
Takjub juga ketika sesekali kami berpapasan dengan bapak bapak yang memikul belerang dengan berat lebih dari 50 kilogram, enteng saja naik turun di jam segitu. Stabil saja langkah-langkahnya membawa beban seberat itu. Hidup memang keras, kawan.
Berjalan pelan pelan dan sangat sering sekali saya minta berhenti, bisa juga sampai di rest area yang menurut TL nya, sudah setengah perjalanan (+/- 2246 mdpl). Menurut saya sih baru setengah perjalanan dan mungkin saya bakal sempoyongan setengah mati lagi buat ngejalanin sisanya.
Di rest area ini ada warung yang menyediakan Pop Mie, air mineral, kopi, de el el. Sayangnya saat itu belum buka. Jadi saya cuma istirahat dan tidur2an sambil lihat bintang sembari mengatur nafas. Ternyata kami bisa menyusul sebagian rombongan yang sebelumnya sudah lebih dahulu dari kami.
Setelah dirasa membaik, kami melanjutkan perjalanan lagi. Dan ajaibnya, langkah dan nafas saya sudah enteng. Setengah perjalanan yang tersisa versi TL, saya lalui tanpa berhenti istirahat dan voilaaa saya sampai di puncak dengan total waktu tempuh 2 jam. Saya masih sempat melihat blue fire tanpa bisa memotret (kagak ad lensa).
Tinggallah sampai di atas saya yang mencari cari kemana kah TL yang masih membawa backpack saya. Rupanya saya tiba lebih dulu. Hehehehe

Selayaknya di gunung, angin kencang sekali menyapa kami. Plus hawa dingin yang menusuk. Jika di perjalanan tadi kami gerah karena berkeringat, sampai di puncak kembali kedinginan dan lebih hebat lagi dinginnya. Saya pakai jaket plus jas hujan sekalian.

 

Saat itu di atas sudah cukup ramai. Rombongan (sepertinya) mahasiswa, rombongan rombongan wisata, maupun wisatawan wisatawan dan pendaki lain baik lokal maupun internasional. Menurut salah satu TL, sebagian warga cukup familiar dengan bahasa Prancis (yang susahnya minta ampun) karena banyak turisman dari negara tersebut. Namun yang saya lihat tidak hanya turisman eropa, namun asia jg cukup banyak saat itu.

Terbayar sudah semua susah payah ngos ngos an langkah kaki saya yang sombong. Runtuh sudah semua sok sok an saya. Ijen menghantam saya telak. Menyadarkan saya untuk lebih banyak bergerak. Kapan terakhir kali saya rutin sit up setiap bangun tidur? Kenapa saya harus beralasan untuk tidak jogging sampai 2 minggu? Kapan saya terakhir berjalan kaki jauh? Kenapa saya harus selalu bermanja dengan kendaraan sedang saya punya dua kaki yang utuh dan sehat?
Mengagumi kekuasaan Tuhan dalam lukisan bernama Kawah Ijen tidak akan pernah usai. Namun perjalanan akan berlanjut. Saya turun melalui jalur dimana saya naik tadi dan baru menyadari betapa mengerikannya jalur tadi. Malam berhasil menyembunyikannya dan mengamankan saya dari rasa takut.

image

Jalan pas turun

Angin sesekali masih bertiup, nun jauh di bawah sana tak dapat sempurna kami lihat. Serasa berada di negri di atas awan, saya turun perlahan. Dengan nafas dan langkah yang lebih stabil dan teratur. Saya tiba di bawah tanpa istirahat. Sepiring nasi goreng sudah menanti.

Ijen dan Baluran adalah dua destinasi yang sangat saya ingin kunjungi. Sempat menetap di 3 kota jawa timur selama 9 bulan, kedua tempat ini belum saya datangi. Sampai pada Juli 2013, saya dipindah tugaskan ke Yogyakarta, penyesalan saya menjadi jadi karena meninggalkan jawa timur tanpa sowan ke dua tempat tersebut. Kini penyesalan saya telah terbayar. Namun bersama 1000 bintang yang mengiringi langkah ngos ngos an saya, ada 1000 sesal atas kemalasan dan kesombongan saya yang berakibat kepayahan saat mendaki.

 

Bisa nyampe jugaa

Salam lestari

*sisi lain Ijen di blog Mb Prue
*saya sedang kesulitan upload foto karena sedang training kantor di hotel. Selain itu memang sedikit sekali saya ambil gambar. Penasaran bisa cek foto2 Ijen di search engine
image

Mari wisata di negri sendiri

71 komentar pada "1000 Bintang di Kawah Ijen"

        1. Sunsetnya pasti kece badai ya mba.
          Aku sunset nya malah ke sukamade, meru betiri. Tar deh posting terpisah.
          Aku karna pengen banget kesini tp gada temen. Jd ikutan opentrip sendirian. Lumayaan buat dpt2 kenalan baru.

          1. eh koq sunset, sunrise maksutnya haha. Kan pagi2. Tapi sore2nya aku naik juga sih niatnya mau liat sunset ternyata mendung 🙂 . gak terlalu beruntung sama sunset dan sunrise waktu tapi bintangnya buanyak banget. Bintang paling banyak yang aku lihat selain di Bromo.

            Sukamade dan Merubetiri juga keren banget ya. Ahh aku rindu deh jalan2 keliling Jawa Timur.

            Iya sih, enak kalo opentrip gitu bisa ketemu orang baru. Asal gak terlalu rame aja ya hehe

          2. Hahahaha iya subuh koq sunset ya. Aku td asal bacanya sunset aja. *reply komen di tengah training
            Di Bromo aku malah zonk banget. Mendung n kabut tebel. Sunrise gak kelihatan sama sekali. Kayanya suatu saat aku harus balik lagi ke bromo deh.
            Bener mb, kmaren kita cm 2 mobil aja jd lumayan lgsg kenal. Tpi gak enaknya gak bisa lama2 di destinasi. Kejar2an sama waktu.

    1. Aku cuma lihat sebentar. Semacam bongkahan batu2 biru gitu njuk ad api2 biru nya kalo ga salah. Mgkn bisa digoogling aja pideo nya hehe.
      Angel sih motone gek aku masih excited bisa nyampe gitu jd blm mikir poto2

        1. Kalo ke solo kontak kontak yaa mbaa. Kali aj bisa kopdar. Hehe.
          Tar aja habis wedding jalan2nya. Tapi gak usah upload potoo. Tar aku nya sirik.
          Wkqkqkqkwk

  1. Mbaaak.. Bikin siriiiikk..
    Dari dulu ngga pernah diizinin Mama buat naik, soalnya aku tipe grasak-grusuk. Padahal beliau sendiri pas mudanya sampe capek naik ke Sibayak. -__-

    Asik ya pake trip guide, jadi lebih tau keistimewaannya kan.. Sepadan ya sama biaya yang dikeluarin. Heheh..

    1. Menurutku tarif segitu ud untung banget. All in booo beeb. Nginep 2 malam di penginapan dan di homestay. Makan 3x sehari beragam dr di rumah penduduk lokal, lunchbox, pinggir pantai, sampai di resto. Air minum jg avalaible di mobil. Pke jeep n elf wisata.

    1. Wekekekek harrua banget kesana om. Sensasi naik jeep nya mantap jayaa. Sunsetnya dahsyat. Penyu2 n tukiknya unyu. Tambah pas disana gada sinyal n mati lampu. Komplit sudah

    1. Fotonya aja ato orangnya juga?
      *dikeplak sandal
      Hihihi iya mb. Pamer di IG dulu buat spoiler posting blog. Follower IG lebih banyak dr follower blog soalnya
      *fakirfollower

    1. Saya jg belum pernah koq muncak n ndaki gunung gitu. Apalagi yg sampe camping2. Mentok2 numpang tidur di rumah Mbah Maridjan (alm) pas rumah beliau n mushollanya masih.
      Saya sama berbagai dokter jg divonis alergi dingin sih

  2. aqied sejak nonton api biru Ijen di tv aja udah terpesona.. di tv aja cantiknya minta ampun, apalagi lihat langsung ya..
    subhanallah….., entahlah apa sanggup diriku datang langsung ke sana ya..

  3. Aaaak…. jadi pengen ikutan fun adventure jugaaa….

    Asik banget ya bisa ngerasain keindahan alam yang jarang banget kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti pemandangan kawah itu….

    1. Hihi iya. TL nya asik koq pas itu. Kalo tiap hari ngeliatnya sawah, pas itu lihatnya kawah.
      Asik sih, habis play hard langsung sebulanan work hard gila2an lembur2 n training n meeting sana sini. Teler

        1. Untungnya pas lagi dolan dolannya pas belum tau kalo bakal lembur2 berdarah2 gini. Jd hepi hepi aja pas itu. Senin masuk kantor baru deh.
          Jd bersyukur sih ud sempet liburan dulu

  4. si gadis ujung kaki.. 😀
    nice ya.. akhirnya bisa nulis juga.. hahaha 😀 telat komen.. 😀
    hahah

    jalan-jalan yang asik.. kapan bisa dapet libur panjang 🙁

    1. hahahaha ada ya komen telat.
      ngece ini sih akhirnya bisa nulis juga.
      tau deh yg ud naik cetak. ;p

      iya ya kapan ya libur panjang. merah2in kalender yuk

  5. Kalo soal Kawah Ijen emang keren banget.
    Walau belum pernah kesana, banyak orang yang bilang tempatnya bagus dan indah 😀
    Kapan2 kayaknya wajib kesana nih, apalagi udah lama banget gak mendaki 😀

  6. saya………mupeng kakak (/ )
    padahal baru saja sahabat saya bercerita kl dia baru pulang dari kawah ijen minggu lalu, tp sayang sekali cuaca sedang tidak berahabat ketika teman saya dan rombongannya ke sana.
    semoga saya bisa ke sana kapan-kapan 🙂

      1. emm dia naik ke atas pas jam 10 kak.. terus kehujanan di perjalanan menuju kawah.. (.___.)> dan itu katanya perginya dadakan nggak ada persiapan.. wong naik keatas aja pake sendal jepit..muehehehe

        amiin..amiiinn…
        huhu masih banyak tempat tempat bagus di Jawa yang belum dikunjungi..

  7. gunung ijen emang enak buat treking, jarak tempuhnya ngga panjang.
    tp saya merasa ada yg kurang wkt di ijen. biasanya kalau mendaki gunung itu sesama pendaki saling sapa, saling tanya asal, saling berbagi cerita. di ijen, saya ngga menemukan itu…hee

    1. ah iya ya.
      koq saya baru inget dan sadar skrg. kebanyakan disana mereka asik sama temen jalannya sendiri. bahkan saya bertegur sapa nya dengan penduduk yang bawa belerang2 itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.