Cerita Bersambung Blogger : Butir Pasir dan Air Mata

Hello, June

ini posting pertama bulan Juni yang rada maksa. 

Pertama, topik postingnya maksa karena timpukan kewajiban nerusin cerita bersambung dari Dyaz yang dapet dari Beby yang dapet dari Mas Adi. Maksa kedua nya karena saya mulai merasa dirusuhin dengan beberapa yang nge klik ke blog ini karena mungkin mau tau terusan cerita dari Dyaz, so saya merasa dipaksa buat nerusin. Maksa ketiganya, berhubung sebenarnya saya belum pingin-pingin banget bikin posting, gak ada sarana juga buat nge blog, jadi saya ngetik posting ini pake laptop pinjaman. Maksa selanjutnya adalah saya udah lama bangeeeeeet gak nge-fiksi. gak nyusun kata-kata. nyusun angka sih iyaaa. jadi ini posting serba maksa, kalo gak banget jangan diketawain yaaa.

sssssssssstttttt, satu paragraf di atas tuh sebenarnya semacam modus nyari sumbangan Lappy ala saya. Nah mungkin rekan-rekan blogger ada yang mau nerusin program #LappyUntukAqied? *edarin kotak amal

Well, program kece badai ini namanya Cerita Bersambung Blogger, yang punya syarat dan ketentuan macam ini:

cerbung

Aturan Main :
  1. Meneruskan cerita bersambung dari blogger sebelumnya dengan panjang cerita minimal 100 kata (Lanjutan cerita bebas baik dari segi plot dan alur cerita, dll);
  2. Point of view atau sudut pandang cerita menggunakan sudut pandang orang pertama, seolah-olah penulis/pembaca menjadi tokoh utama di dalam cerita;
  3. Berikan Judul artikel cerita dengan format, Cerita Bersambung Blogger : Judul Cerita;
  4. Pada akhir cerita cantumkan cerita sebelumnya  dengan format, Cerita Sebelumnya : Judul cerita oleh Nama Blogger (Contoh : Cerita Sebelumnya : Air Mata di Pasir Iboih oleh Dyaz Afryan). Link Judul Cerita ke artikel cerita dan Nama Blogger ke URL Blog;
  5. Setelah selesai menulis cerita, pilih satu teman blogger untuk meneruskan cerita selanjutnya dan beri link URL blog temanmu;
  6. Yuk, bikin cerita ini lebih berwarna. Jangan berhenti di kamu ya…

——

Butir Pasir dan Air Mata

….mataku mulai kabur seiring deras butir butir kecil air mata yang menyeruak keluar tak mampu dikeringkan matahari sore itu. Pandanganku tak lagi melihat birunya laut yang berpadu dengan biru langit. Sederet warna tipis jelang senja tak tertangkap pandanganku. Kilasan peristiwa pahit, berkelebat sangat nyata. Serupa sedang dihadapkan pada layar kaca kisah-kisah ku dengannya yang lalu. hal-hal manis yang harus berakhir pahit, memindahkan ragaku sejauh ini.

Jika aku bersamamu di sini, mungkin akan tampak lebih menyenangkan bukan?

Lagi-lagi batinku mempertanyakan hal yang sama. Tapi, benarkah aku kan bahagia jika bersamamu disini? Kalaupun bersamamu, kita tak lagi berdua bukan? Kita akan bertiga karena kau telah berdua dengan janin yang dititipkan sahabatku.

Pandangan semakin kabur, bersama butir-butir air mata yang diserap sempurna oleh butiran pasir putih lembut. Aku masih berbaring, berkawan belaian lembut ombak di kakiku. Ku seka air mata, bersiap bangkit, sampai kusadari aku terlalu lemas, kehilangan tenaga, dan tak sanggup bangkit.

Untuk kedua kalinya pandanganku kabur. Sayup-sayup terdengar suara wanita bernada panik

“Nak Arya, Nak Arya, Paaaak Nak Arya pingsan….”

Aku baru ingat kapan terakhir kali makanan masuk di tubuhku.

 —-

Cerita Sebelumnya : Air Mata di Pasir Iboih oleh Dyaz Afryan

Cerita ini bersambung ke : Mas Rifki

________________

Cerita sebelumnya:

1. Ku Lihat Kau Dengannya

2. Habiskan Sepi di Iboih

Butir Pasir dan Air Mata ini cerita ke-4

 

54 komentar pada "Cerita Bersambung Blogger : Butir Pasir dan Air Mata"

      1. FYI, manusia pingsan kalo ngga makan setelah 7 hari non stop. Jadi ngga mungkin si Arya pingsan kelaperan padahal baru sehari ngga makan. :p

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.