Sudah Bersyukur?

“Kerja di bank enak gak, mbak?”

Pertanyaan seorang ibu dalam kereta Fajar Utama Yogya yang membawa saya ke Jakarta.
, awal bulan lalu.

image

Fajar Utama di Stasiun Tugu Yogyakarta

Jawaban saya :

Dibawa enak, Bu :)”

Mungkin jika pertanyaan itu diajukan pada saya dua atau satu setengah tahun lalu, jawabannya akan berbeda. Saya sempat mengalami masa-masa tidak betah dan tidak benar sebagai karyawan.

Menghabiskan malam dengan meratapi umur saya yang sepertinya habis di meja kantor. Mengasihani diri saya yang terpenjara jam kerja. Menangisi jam istirahat saya yang terbatas. Mengeluhkan rekan kerja yang tak menyenangkan. Meratapi gaji yang habis lebih cepat, dan lain sebagainya.

Ah betapa tidak bersyukurnya saya.

Seiring berjalannya waktu, pekerjaan saya masih sama. Gaji juga belum naik. Rekan kerja meski berganti bisa dibilang hampir sama. Tugas tugas juga sama. Tapi ada hal lain yang kemudian membuka mata saya, dan mengurangi sedikit demi sedikit keluhan, ratapan dan tangisan seperti yang saya sebut di atas.

Mungkin hingga kini saya masih belum bisa memastikan apakah saya mulai mencintai pekerjaan saya atau tidak. Tapi ada hal hal yang membuka mata saya sampai kemudian menampar saya dengan keras soal betapa tak bersyukurnya saya.

Sempat menjalani masa masa terpaksa nggembel di terminal, stasiun, hingga airport, rupanya perlahan memberi banyak pelajaran bagi saya. Dari yang awalnya terpaksa menggunakan bus ekonomi jarak jauh yang penuh sesak karena sulit mendapat bus Cepat Eksekutif/Bisnis di saat weekend hingga kini selalu merindukan ke penuh sesak an itu.

Awalnya hanya karena berusaha membunuh kebosanan dengan memulai percakapan pada siapa saja yang terdekat. Lama kelamaan saya merasa justru mereka mereka lah guru saya. Guru saya dalam kelas belajar bersyukur.

Tak perlu dijelaskan siapa saja yang bisa saya temui di terminal pada malam hari bahkan yang sampai menginap. Siapa kawan ngobrol saya di bus ekonomi penuh sesak jalur Surabaya ke barat. Siapa yang menemani saya saat harus berdiri lama di pinggir jalan provinsi menanti bus. Berbincang dengan mereka, meski singkat seringkali memaksa saya untuk merenung di sepanjang perjalanan. Kadang rasanya ingin menangis.

Ya sehari kalo lancar lumayan, mbak. Bisa dapat 20rb. Rame-rame nya 50 ribu lah bisa bawa pulang. Asal ditelateni terus, mbak” (bapak warung kopi pinggir jalan)

“Ya gak mesti, mbak. Sehari gak narik juga pernah. Ya terus cari-cari cara lain. Kerja kaya saya harus ada sambilannya, mbak. Nanti dapatnya seberapa-berapa, dibawa pulang, kasih Ibuknya (istrinya)”
(Pak Becak, sesekali ikut kuli panggul)

Profesi-profesi yang sering dianggap tidak menjanjikan. Penghasilan yang tidak dapat selalu dipastikan, dengan keluarga yang selalu membutuhkan kepastian, makan apa hari ini.

Mereka-mereka lebih layak disebut guru dan inspirator. Motivator terbaik bagi saya dibanding mereka yang berlabel motivator dalam balutan jas necis di televisi.

Karena dengan belajar dari cerita-cerita kehidupan mereka lah, saya selalu punya jawaban:

“Yang jauh lebih susah dari saya aja masih bisa bersyukur, “

Apakah masih pantas buat saya untuk selalu mengeluh?

*nyatanya masih suka ngeluh jugak sih ;(

71 komentar pada "Sudah Bersyukur?"

  1. 8 tahun menjalani pekerjaan di insutri manufaktur tanpa ada peningkatan berarti membuat saya pun mengalami saat-saat tidak betah menjadi karyawan. Seiring berjalannya waktu, pekerjaan saya pun masih sama. Jalani dan syukuri nikmat Tuhan, sembari melihat peluang untuk penghidupan yang lebih baik

    1. iya mas. ngeliat ke atas buat memacu kita makin berprestasi atau meningkatkan kualitas diri. melihat ke bawah buat bersyukur atas yg dilakoni skrg.
      alamdulillah kurang dr setahun saya bisa ganti posisi, hehe 🙂

  2. yup, selalu ambil positifnya saja
    dulu jaman kuliah waktu banyak tapi ga punya uang buat jalan2, kalau ada juga terbatas
    sekarang alhamdulillah ada uang tapi cuti terbatas hahaha

    kita nikmati saja 😀

    1. iiyaaaa mbaaaaa.
      hihihi
      dulu pertama resign kerja trus seneeeeng banget karna punya duit n punya waktu luang. 2 bulan kemudian baru mikir ni hidup mau pke duit apa kalo gak kerja lagi. hahahaha

  3. Kenyataan hidup yang “kita lihat” terkadang membuat kita bersyukur dan terkadang membuat kita minder. Apalagi kalau ditambah “penglihatan orang lain” ke diri kita. Bisa jadi makin berat beban pikul yang “kita rasa”.

    Yang aku sebut dengan tanda ” itu tergantung subjektivitas seseorang. Hidup memang nggak pernah mudah dan sepanjang kita bisa senantiasa bangkit dari keterpurukan, aku pikir semua bakal baik-baik saja…

  4. Yuup setuju.. Hidup itu harus sesekali melihat kebawah supaya bisa lebih bersyukur, sesekali melihat ke atas untuk mendapatkan yang lebih baik, sesekali lihat depan biar gak nabrak, dan sesekali lihat kanan kiri kalau ingin nyebrang..

    sotoy abis dah gue..

      1. Jangan berkata seperti itu…
        Kalau kita merintis dari bawah kita akan lebih menghargai apa yang kita dapat dan bila kita di atas kita lebih bisa menghargai yan ada di bawah …

        aku iri Liburnya panjang….

  5. begitu banyak hal kecil disekitar kita yang bisa membuat kita berkaca dan menjadi malu karena kurangnya syukur.
    saya sebaliknya, sempat akrab dengan pertanyaan,”memilih berhenti kerja, emang udah ga perlu uang?” *dianggap berhenti karena kurang syukur* padahal sebuah pilihan yang sulit 🙂

    1. Gak cuma malu bahkan tertampar, mb. Memang mesti lebih merhatiin sekitar biar makin belajar ya.
      Ah iya, keputusan2 yg kita pilih kadang tdk diterima oleh lingkungan

  6. Syukur adalah kunci enak itu. Apapun kondisinya tetap bersyukur, seperti biasa orang kita mengatakan BERUNTUNG. Beruntung udah kerja gak jadi pengangguran misalnya.
    Kalo mau enak ya jadi bos yang me-manage diri sendiri alias jadi pengusaha, 🙂

  7. Temenku banyak lho yg pengen kerja di bank. Katanya keren dan enak, bisa ngadem terus di kantor….

    Wah, jadi inget dulu, pas kecil hampir selalu naik kereta api kelas ekonomi Jogja-Jakarta. Sering banget berdiri selama beberapa jam di tengah sesak penumpang. Rasanya benar-benar menyiksa, tapi kadang-kadang jadi kangen juga, hehe….

    1. oh ya?
      aku masih blm tau sih ud cinta banget sama kerjaan yg skrg atau belum. cuma ya udah dibawa asik aja.
      btw, kerjaanku gak yg ngadem di ruangan terus koq, mas. hehe.

      iya. aku pas pertama naik kereta bisnis langsung rasanya kehilangan seru nya naik kereta. sebelum2nya selalu ekonomi sih. hihi

  8. Kalau bersyukur setelah merasa kecipratan nikmat, itu biasa. Tapi bila kita bersyukur sebelum apa-apa, nah itu baru luar biasa 😀 hehe
    Semoga barokah deh karirnya mbak yaaa 🙂

  9. Hmm.. kyknya kalo mau belajar tentang kehidupan, tepatnya memang harus dengan orang-orang seperti itu ya qied. Mereka akan banyak mengajarkan niai-nilai kehidupan kalo kita bisa bergaul dengan mereka

    1. Iya, mas. Karena mereka ngejalanin sendiri hidup yg bener2 keras. Apalah kita ini udah dikasi enak masih ngeluh2. Gak pantes n gak tay diri banget.
      Eh kiita?
      Aku aja kali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.