Why Bromo?

 

SAMSUNG CSC

Bromo, Gunung berapi aktif dengan sejuta pesona ini selalu membangkitkan penasaran saya. Sudah lama saya berangan-angan dapat menjejakkan kaki di sana. Merekam sendiri memori yang dapat ditangkap mata, menghirup udara dingin, mendengar bisikan pasir, dan merasakan belaian angin pegunungan. Tak hanya sekedar memandang kagum dari televisi, gambar, dan ribuan kartu pos yang menampilkannya dengan gagah.

Jeep, pemandangan khas Bromo

Jeep, pemandangan khas Bromo

2012 akhir, saya sempat bertugas selama 2,5 bulan di Kabupaten Lumajang. Sudah dekat sekali dengannya. Rencana perjalanan pun sempat disusun, sampai saat itu Bromo dikabarkan dalam kondisi tidak aman untuk dikunjungi. Akhirnya rencana perjalanan saya, batal dan dialihkan ke rute lain.

pura, lautan pasir, kehijauan dan langit biru dalam satu frame

pura, lautan pasir, bukit kehijauan dan langit biru dalam satu frame

Permulaan 2013, saya menempati kantor mungil di Mojoagung, kecamatan kecil di sisi timur Kab. Jombang. Keinginan saya bangkit lagi. Berkendara Bus Puspa Indah dari Jombang, saya ke Terminal Landung Sari, Malang. Menumpang rumah teman, dan berangkat pagi buta berkendara sepeda motor dari kota Malang menuju Bromo.

Lagi-lagi saya kurang cukup beruntung. Di tengah hawa dingin dan angin yang menyelinap masuk sela sela jaket tebal, pandangan kami mulai dikaburkan oleh kabut. Tidak banyak yang bisa saya lihat, dengar dan rasakan. Dengan sisa-sisa kekesalan dan kelelahan setelah sekian kilometer yang saya tempuh bersepeda motor terasa tanpa hasil, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk kembali lagi suatu saat nanti.

liat ini koq laper ya

liat ini koq laper ya

Agustus 2014, tanpa direncanakan semesta mendukung pertemuan kami lagi. Jumat pagi saya masih berkantor seperti biasa tanpa memiliki rencana apapun untuk membunuh akhir pekan. Namun pada sore harinya, saya sudah memiliki tiket penerbangan JOG-SUB dan bersiap menyapa mentari terbit di Sunrise Point Bromo esok harinya.

saya menyapa Bromo melalui beberapa titik berikut:

  1. Penanjakan/Sunrise Point

Saya membayangkan pagi yang indah dengan sapaan mentari terbit dari titik ini. Mengabaikan udara dingin yang biasanya saya benci, saya berjalan dengan riang menuju lokasi ini. Namun apalah khayalan saya runtuh, setelah tiba dan hanya menjumpai lautan manusia. Sesak. Penuh. Tak ada yang bisa saya lihat dengan tinggi badan standar saya.

lautan manusia

lautan manusia

Lalu, bagaimana saya bisa menyapa mentari terbit? Tak kekurangan akal saya diajak menaiki tempat sampah dan stay di situ menahan angin dan dingin. Sampai matahari terbit. Piufh. Perjuangan yang berat mengingat saya lemah sekali terhadap udara dingin. Dengan jari-jari mati rasa, saya tetap memaksa kamera saya bekerja.

bisa kebayang saya berdiri di mana? yap. di atas tempat sampah

bisa kebayang saya berdiri di mana? yap. di atas tempat sampah

Tips: Hindari high season dan weekend jika ingin menikmati sapaan mentari yang spektakuler dengan tenang di sini.

alhamdulillah masi ketemu matahari

alhamdulillah masi ketemu matahari

  1. Kawah Bromo
banyak kuda tp gak ada pangeran kuda jingkrak

banyak kuda tp gak ada pangeran kuda jingkrak

Untuk ke Kawah Bromo,kendaraan tidak diperbolehkan naik. Jika dirasa perjalanannya cukup jauh plus medannya yang berupa lautan pasir, bisa coba berkuda mulai dari area parkir jeep sampai ke tangga sebelum kawah.

kira-kira segitu lah jaraknya. keliahatn gak parkiran jeep?

kira-kira segitu lah jaraknya. keliahatan gak parkiran jeep? (foto dari pinggir kawah)

Lagi-lagi kali ini saya sok jago. Naik jalan kaki sendirian karena sebagian teman sudah duluan naik, dan sebagian lagi nyerah pilih gak naik. Ya sudahlah, saya go show aja. Saya naik bersama pasir-pasir yang ikut berjejal diam-diam di sepatu saya. Merapatkan masker agar pasir-pasir yang berterbangan setiap ada angin, tak turut menjejali pernafasan saya. Belum lagi ditambah aroma kuda dan kotorannya yang satu jalur dengan tempat saya jalan. Tidak heran banyak juga yang mendaki lewat jalur antimainstream.

mereka dengan jalur antimainstream

mereka dengan jalur antimainstream

Lagi-lagi karena weekend, tangga menuju kawah Bromo penuh pengunjung. Antrian cukup panjang dan hanya bisa melangah sedikit-sedikit membuat saya tidak sabar dan memilih naik lewat sisi kanan di luar tangga. Masih sedikit heran karena dengan antrian panjang di belakangnya, masih ada yang sempat ber selfie ber tongsis, sehingga makin memperlambat perjalanan ke atas.

tangga yang penuh banget

tangga menuju kawah yang penuh banget

Tiba di bibir Kawah Bromo, bagi saya tidak terlalu istimewa. Sedikit merasa kecewa karena lelah dan haus (yes, saya naik gak bawa minum). Belum ditambah pengunjung yang sangat ramai sampai-sampai berfoto pun sulit.

ini foto asli yang lagi kehausan dan kelelahan sampai kawah

ini foto asli yang lagi kehausan dan kelelahan sampai kawah

Tak apa, karena akhirnya foto di kawah ini lah yang kemudian tersenyum di Majalah rubrik Travel Talk Getaway Magz edisi Oktober 2014.

  1. Pasir Berbisik

SAMSUNG CSC

Berada di lautan pasir dengan udara dingin dan di ketinggian memiliki sensasi berbeda. Ditambah dengan desis dan bisikan setiap kali angin menerbangkan pasir-pasir. Jangan lewatkan momen berfoto di sini. Dengan luasnya yang ribuan hektar, tidak perlu merasa sesak dan penuh. Asyik juga memotret jeep-jeep saat mengarungi lautan pasir ini.

Foto Panorama Pasir Berbisik

Foto Panorama Pasir Berbisik

  1. Bukit Teletubbies/Savana
antara hijau dan coklat

antara hijau dan coklat

Disebut bukit Teletubbies karena warnanya yang hijau dengan gundukan2 mirip taman tempat tinggal Tinky winky dan 3 kawannya ini. Pemandangan akan berbeda jika tiba di musim yang berbeda. Bisa jadi padang ini akan lebih kecoklatan dengan rumpu-rumput cenderung kering, saat musim kemarau tiba. Bisa juga segar dan hijau menyejukkan mata saat rerumputan dan segala spesies tumbuhannya berwarna hijau.

savana

savana

Yang amat disayangkan, belum lama ini area ini terbakar dan berwarna hitam, kering. Yah, berarti ada kemungkinan warna lain di sini selain coklat dan hijau kan (sambil miris).

 

Jeep on Savanna

Jeep on Savanna

Saya yakin masih banyak sisi indah Bromo yang belum sempat terekam di memori saya. Belum sempat dirasakan oleh indra saya. Terlalu banyak keindahan yang Tuhan ciptakan di Negri ini. Apa yang terekam kamera pun tidak mampu menggambarkan lukisan asli ciptaan Tuhan.

Jadi, kenapa tidak datang dan lihat sendiri?

 

*di kawasan Bromo tidak diperkenankan membawa kendaraan pribadi. Sepeda motor bisa masuk, tapi demi keamanan dan jika kelihaian dirasa kurang, mendingan tidak ambil resiko ini

*bisa sewa jeep yang nantinya sekalian bayar tiket masuk.

* beragam paket wisata bromo destinasi lengkap bisa jadi pilihan yang lebih mudah karena harga sudah All in dan penjemputan mulai Stasiun Malang, salah satunya Fun Adventure (http://twitter.com/funadventure_ ) dengan harga paket Rp. 300,000.

*jadilah pecinta alam yang bertanggung jawab, bukan sekedar penikmat alam.

jalan sendiri tetep bisa tongbro

jalan sendiri tetep bisa tongbro

45 thoughts on “Why Bromo?

  1. kami ke sini Juni, dan masih juga belum nulis lengkap, payah ya..
    ada spot Bukit Cinta bisa lihat tiga gunung sekaligus, Bromo, Batok dan Semeru

  2. Waah… kamu bener-bener doyan jalan-jalan ya, Qied…. 😀

    Kalo aku sendiri belum pernah ke Bromo. Tapi udah sering denger tentang keseruan di sana…. Lama-lama jadi kepengen juga nih :))

    Oh iya, Qied, di Kompas (hari) Minggu kemarin ada liputan tentang Bakmi Jawa Bu Gito Kotagede. Kayaknya itu warung bakmi yg suka kamu ceritain di sini itu deh….

    1. Ohya?! Itu deket banget sama kontrakanku di kotagede. Duh ud gak langganan kompas jd gak update deh. Hayuk mas Adit cobaik ke Mbah Gito trus ajak2 aku.

      Ayoooo ke Bromooo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.