Parangtritis, 14 Februari

Tidak ada yang istimewa ketika kalender menunjukkan tanggal 14 Februari 2016, bertepatan dengan hari minggu. Mungkin akan lebih terasa spesial jika saja saya masih dalam status pecinta weekends. Kenyataannya saya sudah pas seminggu tidak lagi peduli hari. Ditambah seminggu penuh badan remuk redam karna mondar mandir nonstop.

Membayangkan kalau di luaran sana pasti macet dan rame. Ditambah udara yang panas padahal seharusnya sudah musim hujan. Semakin membuat saya merasa nyaman di rumah saja.

Hey…

Bukankah panas di musim hujan berarti pertanda sesuatu yang istimewa?
Berkali kali berniat catching sunrise atau sunset yang sering gagal karena mendung/hujan. Beberapa kali pula gagal karena tertahan gravitasi kasur dan selimut.

Maka ketika ada ajakan untuk nyanset di Parangtritis, saya hanya perlu waktu berfikir sebentar untuk kemudian memutuskan bergabung.

Saya tidak ingat kapan terakhir kali menjejakkan kaki di pantai selatan ini. Bisa dibilang saya tidak begitu tertarik mantai di sini. Ada banyak alasan yang saya buat. Seperti kata pepatah β€œsak ombo ombo ne alas, isih ombo alasanmu”. Bahkan saya hampir tidak pernah merekomendasikan pantai ini kepada siapapun.

Namun sore itu ternyata saya harus mengakui. Pantai yang tidak lagi saya anggap asyik ini ternyata menunjukkan pesona nya kala senja. Sang surya berpamitan dari tugasnya dengan cara yang sangat elegan. Membuat saya merasa menyesal melewatkan ribuan sunset di pantai yang hanya 30 menit ngebut dari rumah saya.

Meski Parangtritis terletak di sisi selatan, namun arah pantai sedikit menghadap ke barat sehingga setiap tindak tanduk mentari saat akan undur diri dapat kita nikmati dengan utuh dari pantai ini.

Ramai manusia dari anak anak, abege, hingga dewasa rupanya bisa menjadi foreground apik yang terekam lensa. Seperti bromo, ada juga aktivitas berkuda disini. Jika beruntung, bisa mengabadikan pula aktifitas surfing. Sesekali hilir mudik kereta kuda menggoda ibu jari saya untuk menekan shutter.

Kuda Jingkrak?
Ah, jika waktunya tiba, tak harus di Parangtritis,Β  tak harus 14 Februari, pasti kan berjumpa dengannya, lengkap bersama penunggangnya.

image

Menuju Cahaya

image

Semakin gelap

image

Saat terang

image

Salah satu teman motret

image

14 Februari, berapa pasangkah ini?

image

Temen motret, all team kecuali saya

image

Berharap bisa motret anak sendiri seperti ini

image

Dear penunggang Kuda Jingkrak, kapan masuk frame?

Pantai Parangtritis terletak di selatan propinsi DI Yogyakarta.

Dengan kendaraan pribadi, dari Stasiun Tugu melalui Jl. Mataram, terus ke selatan maka akan sampai.

Jika menggunakan kendaraan umum, dari mana saja Anda, temukan shelter transjogja terdekat menuju terminal Giwangam, dilanjutkan bus jurusan Jogja-Parangtritis.

Retribusi masuk Pantai ini adalah Rp. 5,000 perorang dan parkir untuk sepeda motor Rp. 3,000.

Tidak diperbolehkan mandi di laut, patuhi semua petunjuk keamanan dan perhatikan tanda bahaya.

37 komentar pada "Parangtritis, 14 Februari"

    1. Kalo nggak lagi nge set kamera, mgkn ambil angle agak dr bawah biar pantulan matahari yg dipasir dpt banyak. Pas moto yg anak kecil itu aku jg harus agak kebawah soalnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.