HUTAN PURBA DI GOA JOMBLANG, YOGYAKARTA

 

Goa Jomblang memang terkenal dengan ray of light yang keterlaluan cakepnya sampai-sampai disebut Cahaya Surga. Tampil di salah satu scene iklan rokok yang mempertontonkan pesona adventure negri ini pun pada bagian Ray of Light nya. Saya sendiri penasaran dan tertarik awalnya pada luweng Grubug ini. Tak heran postingan saya terdahulu pun lebih banyak mengupas indahnya bermandi cahaya surga di sini.

image

Ray of light di Luweng Grubug

Sebenarnya tidak hanya ray of light yang dangerously beautiful. Ada sisi lain di Goa Jomblang yang akan pertama tama menyapa begitu pengunjung lepas landas dari penerjunan 60 meter.

Hutan Purba

Menurut sejarah yang diyakini, sekitar 15.000 tahun yang lalu, tanah di permukaan amblas ke dalam Luweng Jomblang hingga sedalam 60 meter. Namun tanaman yang tumbuh sejak 15.000 tahun lalu, tetap tumbuh dan berkembang hingga kini. Ada banyak varian tanaman yang sama sekali berbeda dengan di permukaan bumi . Kabarnya, masih banyak jenis tanaman di kawasan hutan ini yang bahkan belum dinamai.

image

Tumbuhan unik

image

Mirip cabe tapi daunnya beda

Tak hanya tanaman yang beragam, dinding-dinding gua yang memagari hutan purba ini pun unik. Hutan ini terkurung dalam lingkaran raksasa dengan lorong menuju Luweng Grubug di salah satu sisinya. Dinding-dinding yang beragam benar-benar instagramable di segala sisinya. Sebagian besar turut ditumbuhi juga oleh tanaman-tanaman unik dan langka. Sebagian lainnya beraneka rupa. Ada abu-abu khas batuan karst. Ada bebatuan dan tanah hitam. Ada juga sisi yang merah, berdampingan dengan coklat dan hijau. Luar biasa.

image

Di salah satu dinding hijau Hutan Purba Goa Jomblang

Berada di hutan purba ini, kontur tanah akan sedikit becek. Saya sempat bertanya pada pemandu apakah karena musim hujan sehingga kondisi tanah becek. Menurut beliau saat musim panas, meskipun tak sebecek sekarang, tetap kondisinya tidak kering sempurna. Saya manggut-manggut untuk kemudian menyadari selalu ada tetesan air dari bebatuan di dinding-dinding gua apalagi sebagian memayungi kami 60 meter di atas jauhnya. Bebatuan ini seperti stalaktit aktif yang masih terus-menerus meneteskan air. Sehingga suasana di dalam hutan purba, terutama di sisi-sisi dekat dinding, akan terasa seperti selalu gerimis.

image

Cukup bechek tak ada ojek

image

Bebatuan yang masih terus meneteskan air

Beruntung saat itu kami harus antri untuk kembali ditarik ke permukaan dan keluar dari gua. Dengan demikian, kami memiliki cukup kesempatan untuk mengamati tanaman-tanaman unik di sini. Sebagian berhasil kami abadikan dalam bentuk gambar. Meski sebagian lain lebih banyak sulit kami dapatkan gambarnya. Tetes air serupa gerimis yang terus menerus membuat kami harus lebih berhati-hati mengoperasikan kamera. Ditambah tidak semua area aman disambangi karena tidak terdapat akses manusia untuk menjaga kelestariannya. Beruntungnya setau saya tidak ada tanaman yang berbahaya atau memancing reaksi alergi, gatal-gatal, luka, dan lainnya di sini. Untuk memetik dan dimakan? jangan coba-coba deh. Belum ada riset, katanya. Lagipula take nothing but picture, kan.

image

Hutan Purba dari atas. Dalam sekali bukan?

Penampakan Hutan Purba ini dari permukaan tanah memang tidak terlalu terlihat. Karena hampir penuh tertutupi pohon-pohon besar di bawahnya. Juga tanaman tanaman di dinding maupun pinggiran gua/luweng. Tetapi penampakan dari lorong menuju Luweng Grubug mengingatkan saya pada film Lord of The Ring. Sedikit area menanjak di penghujung gua berwarna kehijauan.

image

Dari permukaan tanah, hutan purba hanya terlihat dominan hijau

image

Kece banget

Untuk dapat mencapai Hutan Purba ini, pengunjung akan diterjunkan menggunakan tali dengan tingkat keamanan tinggi dan standar internasional sekitar 60 meter dari permukaan tanah. Tak perlu takut, karena sekali turun, dipasangkan berdua-dua. Pastikan saat berkeliaran di dalam gua, selalu dalam pengawasan pemandu. Dari hutan purba ini, pengunjung akan diajak berjalan kaki menuju Luweng Grubug untuk menyongsong Cahaya Surga. Nantinya, pengunjung akan kembali lagi ke kawasan hutan purba ini, untuk kemudian ditarik kembali ke atas.

image

Pemandu yang sudah terlatih naik turun dengan satu tali/single rope

*Goa Jomblang terletak di Semanu, Gunung Kidul.

*dari Yogyakarta, ikuti arah petunjuk ke wonosari/gunung kidul. Kemudian ikuti petunjuk ke arah Kalisuci/Goa Jomblang.

*Untuk sepaket penjelajahan Goa Jomblang dikenakan biaya Rp. 450,000 per pengunjung. Seluruh peralatan termasuk sepatu boot dan helm sudah disediakan. Inc Makan siang, kopi, teh dan air mineral.

*Ada baiknya mempersiapkan baju ganti dan peralatan mandi karena tidak dijamin keluar gua dalam keadaan kering dan bersih. Minimal kena becek, lumpur, atau kegerimisan di dalam.

*hati-hati juga saat membawa kamera, ponsel dan benda elektronik yang sensitive terhadap debu dan air. Jika ada, membawa action cam akan lebih mempermudah.

 

 

 

 

68 komentar pada "HUTAN PURBA DI GOA JOMBLANG, YOGYAKARTA"

  1. Yang gambar kece banget itu gambar sungai mengalir apa apa sih? Berkelok di tengah hijau…emang kece beneran

  2. lebih asyik kalau ke goa jomblang itu masuk turun gua secara icognito, menunggu cahyo dkk kelimpe, hehe

    benar2 menantang adrenalin

        1. Ooooo katanya kalo mau turun mandiri boleh sih, tp pake ijin dr instansi tertentu entah mana aja.
          Ini kmaren juga karena dpt semacam doorprize dr beliau

  3. Aihhhh ini sungguh ratjun yang dangerously banget. Pernah lihat video penjelajahannya om Cahyo, dia bilang kalo goa nggak pernah kering karena adanya sungai di bawahnya. Bahkan ray of light tercipta dari uapan air yang naik ke atas melalui lubang tersebut. Ah sudah ah jadi ngidam banget ke sana setelah komen panjang huhuhu

    1. Oalaaaaag jadi selain faktor gerimis terus, ada faktor si sungai ygdr bawah itu toh. Nice inpoh.
      Kmaren jg ada om cahyo nya sih, tp gak ikut turun. Lagi ad sertifikasi pemandu

  4. Itu jadi total berapa lama kak di sananya? Seharian gitu apa gimana? Aaakkk harus nyoba tuh, woth it banget kayaknya kalo diliat dari fotonya walaupun agak mahal ya. :p/

  5. Beruntung saya pernah ke Goa Jomblang, tahu goa ini malah dari serial amazing race hehe. Waktu kunjungan ke sana dari pagi ujaaaaaaaaaan mulu jadilah nggak bisa lihat ray of light yang bener 🙁 mau balik ke sana kok mahal haha

    1. wow bang Alid kereeen udah duluan ke Jomblang malahan.
      etapi ya sayang banget kalo pas musim ujan ya. Tahun lalu juga musim hujan, tapi pas di bawah ALha,dulillah pas dapat ROL nya.
      iyaps masuk amazing race juga

  6. foto yang pertama keren sih..

    dulu sempet diajakin kesini sama temen
    tapi begitu tau bayarnya 450k jadi ciut langsung
    yang ada temenku malah kesana sendiri

    maklum menurut saya masih kemahalan sih
    tapi kalo buat objek fotonya mah keren beneeer

      1. Kapan ya, enaknya kpn ya?…. aduh aduh, mana jadwal 3 bln kedepan udh ditentuin. Ketemu di Dieng aja yuk pas DCF 2016, Indah jg pas bgt mau ksana,… kan dirimu deket dari Jogja ke Dieng hehe reunian deh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.