Di Balik Selembar Foto

image

Feed instagtam yang tak seberapa kece

Tahukah kamu, apa yg dilakukan teman teman saya untuk dapat foto bagus?

Sebagian mereka harus bangun lebih awal dari kamu, bersepeda motor menembus dingin dini hari, sebagian lagi harus mengusir kantuk dengan treking yang tidak sedikit, belum mandi, masih lapar,

demi bisa mengabadikan momen matahari terbit.

Sebagian dari mereka rela menyisihkan sebagian isi dompet untuk bensin, untuk transport dan beberapa retribusi lain bahkan tidak jarang membayar lebih untuk harga masuk kamera.
.
Sebagian pula harus menahan hasrat ngopi ngopi cantik di kafe kafe lucuk. Menahan lapar dan perut dari makan enak di resto hits. Menahan diri cukup scroll e-commerce tanpa belanja fashion terbaru. Demi bisa dapat kamera impian dengan kualitas gambar prima.

Sebagian lagi harus rela bepergian jauh, medan yang beragam dan tak jarang sulit, tak jarang membuat sepatu dan baju kotor, sebagian menjadi santapan nyamuk, bahkan jika apes bisa dicium ulat bulu. .
.
.
Sebagian lagi mungkin harus melewatkan dinner malam minggunya saat sunset yang jarang datang di musim hujan ternyata menyapa, atau mendaki ketinggian saat langit mendukung untuk mengabadikan bintang. Berbahagialah kamu yang malam minggu mu sempurna.
image

Tentu masih sangat banyak perjuangan dan pengorbanan lain yang teman teman saya lakukan untuk foto-foto indah yang bisa dengan mudah kamu nikmati di instagram feed mereka, di catatan perjalanan blog mereka, di akun sosial media mereka, di akun akun berbagi foto mereka.
.
.
Mudah memang mengambil gambar mereka, menghapus atau menimpa watermark mereka dengan watermark baru mu, mudah memang mengupload ulang dgn seolah olah itu milikmu dan karyamu. .
.
Tapi kamu gak akan pernah tau bagaimana pengorbanan dan perjuangan selembar foto itu.

Dan yang pasti,
Kamu BENAR BENAR TIDAK TAHU bagaimana menghargai sebuah karya.


Kamu bukan yang segitu gak punya karya kan?

sebelumnya pernah dipublikasikan dalam caption sebuah foto akun pribadi saya pada jejaring sosial Instagram. Link hidup ke postingan tersebut di sini

image

42 komentar pada "Di Balik Selembar Foto"

    1. Hahaha kalo saya sih ud males pake watermark. Udah biasa dibajak dan ud lupa pula siapa aja yg bajak. sampe ada yg watermark ditimpa segala.
      Ini kasus di banyak orang kok, ud bajak, dikasitau atau minta tolong kasi kredit, bukannya ngehargai malah marah marah gak terima. Kan lucu lha kok yg nyolong lebih galak dr yg punya.

          1. Btw, temen saya ad yg fotonya dicolong trus malah ngeles dan akhirnya gembok akun. Itu make foto orang yg ada orangnya lho gede di tengah tengah. Baru td siang ini kok

  1. Berarti fotonya keren, bahagia aja kalo sampai di bajak. Apapun yang di upload di ranamaya berarti hrus siap go public. Dan hrus siap jadi viral nantinya, tp prcayalah sebuah karya itu pasti akan ttp mempunyai nilai positif tersendiri, jgn putus semangat hnya krna pembajakan. Tetap berkarya sist..
    ^__^

    1. Trimakasiiiiiiiih, saya mah ud bertahun tahun lalu yg foto biasa aja juga beberapa kali dibajak (yg ketahuan).
      Sadar kok kalo udah masuk ranah maya berarti seakan akan milik publik. Tapi kalau asal comotnya diingatkan atau diminta tolong kasih kredit, atau sekedar dikomen lah soal pemilik asli foto, terus kok malah marah atau malah gak terima dan sampe ngeblock fotografer aslinya, kok keterlaluan ya.
      Sebegitu gak punya karya kah?

      1. Nah yg sprti itu yg kurang ajar, sudah kegep ambil krya orang tp ga mau mengakui..seharusnya sekalipun mungkin ga diberi kredit finans seenggaknya ucapan yang berarti utk pemilik karya..

        saran saya utk foto” yang memang belum mainstream hendaknya di watermark sist. Bila manaperlu di komersilkan juga. Biar prjuanganya bisa ga sia”.

        Ak juga suka foto”, hobi aja sih. Sering di comot jg, tp mayoritas fto” ku an-mainstream, jd ak jarang watermark, krna yang ambil rata” utk kepentingan pelengkap artikel mereka.

  2. Di tengah malam ini aku mau berpendapat Qied.

    Foto udah dikasih watermark tapi tetap dibajak? Hooo, itu mungkin teknik watermark-nya yang kurang canggih.

    Foto jadi jelek karena watermark? Wooo, itu sih bagian dari resiko.

    Foto jelek tapi tetap dibajak? Lha ya gimana, namanya juga manusia. Maling aja makin lama makin pinter. Harus diimbangi sama yang punya juga makin pinter dong. 😀

    Mau foto yang kualitasnya bagus? Kasih nomor kontak dong, bicarain kompensasi, rebes urusan. 😀

  3. Setuju Mbak. Apalagi bagi fotografer alam liar, perjuangannya lebih-lebih lagi. Kameranya harus yang bagus dan lensanya panjang-panjang, terus untuk dapetin fotonya juga perlu jungkir-balik, menunggu berjam-jam, kamuflase, dan sebagainya.

    Saya sendiri agak menyesali aplikasi filter foto di smartphone, karena sedikit-sedikit bikin seni foto makin profan. Dan makin ga orisinil, karena banyak efek filter gitu-gitunya 🙁

    1. Bisa jadi emang sengaja yg diupload yg kurang orisinil. Yg kualitas baguss dan terbaik di keep biar gak dicolong.
      Temen aku ada yg gitu jg, foto bagus cuma dikeluarin buat lomba atau kirim ke media. Buat sosmed dan blog, foto yg menurut dia kualitas paling jelek, atau resolusi dikecilin

  4. wah pantesan. beda banget sama aku yang asal jepret. itu pun pakai henpon saja. yaudah deh aku jadi penikmat foto foto saja hehe

    1. Kasiannya yg trus diaku aku dan cuma buat eksis aja seolah olah ud shoping, traveling, bahkan masak seperti poto colongannya. Aneh. Buat apa kan ya kalo emang gak ngelakuin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.