Karena Semua Setara di Hadapan Kopi

Saya mengenal kopi sejak lama. Tak heran karena kopi dari negeri ini telah lama pula mendunia. Sebut saja Kopi Toraja dan Kopi Gayo. Dua dari ribuan ragam kopi nusantara yang terkenal di penjuru semesta. Seakan tak cukup waktu untuk mampu menyesap seluruh kopi yang dihasilkan kebun-kebun Indonesia. Di kota saya sendiri saja, hampir setiap bulan muncul coffeeshop baru. Setiap minggu di setiap roastery, muncul biji kopi jenis baru. Setiap kebun, menghasilkan jenis tumbuhan baru dengan proses pasca panen yang baru pula. Masing-masing biji kopi memiliki keunikan dan karakter yang berbeda-beda. Inilah yang membuat saya semakin hari semakin mencintai kopi.

syukur tak terkira untuk setiap cangkir kopi

Secangkir kopi yang terhidang memiliki sejarah panjang sebelum tersajinya. Tanah subur di berbagai ketinggian yang menumbuhkan pohon-pohon kopi. Tangan dingin para petani yang merawat hingga tiba masanya berbuah. Rupa-rupa proses pasca panen hingga sampai ke tangan roaster-roaster handal, hingga diseduh dengan piawai oleh para barista melalui bermacam-macam metode seduh. Tanpa mereka, tidak ada kenikmatan dalam setiap sesap.  Tdak ada harum aroma yang membangkitkan semangat setiap harinya. Tak henti  saya merapalkan syukur dan terima kasih tak terkira dalam setiap tegukan kopi.

ngopi nikmat dengan sunrise yang memikat

Ngopi tiap pekan menjadi ruang belajar saya. Mengenal berbagai macam kedai kopi, berkenalan dengan para barista handal, bertukar cerita tentang rupa-rupa kopi. Perjalanan dari coffeeshop ke coffeeshop, mengikuti event ke event, mencicipi macam-macam kopi, membuat saya menemukan setiap kopi memiliki kenikmatan yang berbeda-beda. Harum aroma dan nikmat rasa kopi, bisa saja dihasilkan dari bermacam-macam latar belakang. Kopi nikmat tidak hanya hadir di lingkungan mewah. Tidak harus diseduh dengan peralatan mahal. Pun tak mempedulikan bagaimana rupa, fisik, kondisi ekonomi, apa kepercayaan, dan bagaimana lingkungan asal penyeduhnya. Kenikmatannya tidak pernah diskriminatif, tidak memilih hanya ditujukan pada siapa. Dari situ saya percaya,

Di hadapan kopi, kita semua setara.

Minggu akhir bulan lalu, event rutin Barista & Kopi Lover memancing ketertarikan saya. Kopi Brewbagi episode itu memilih lokasi bukan di kedai kopi seperti sebelumnya. Melainkan di Lap. Parkir Pusat Rehabilitasi YAKKUM dengan tajuk Barista Inklusif. Rupanya hari itu merupakan public showcase dari pelatihan Barista Inklusif oleh Program Peduli. Di pelatihan ini, para pemuda dan pemudi perwakilan dari orang dengan disabilitas (difabel), korban kekerasan masa lalu, dan penghayat kepercayaan berlatih menjadi seorang barista. Peserta pelatihan ini akan menyajikan kopi-kopi terbaik sesuai dengan yang telah dipelajari selama sebulan penuh.

Menyeduh di Cupable Coffee

Barista Inklusif di Cupable

Saya tiba di lokasi ketika acara inti belum dimulai. Beruntung di meja bar Cupable Coffee, perlengkapan seduh telah tersedia lengkap. Atas ajakan Mas Sitam dan dipandu Mas Dimas dari BKVR (Barista & Kopi Lover), saya mencoba meracik kopi dari tangan saya sendiri. Sebagai penyeduh rumahan, tentu saya cukup tau prosedur dan langkah-langkah manual brew. Apalagi saat itu kami menggunakan metode pour over dengan paper filter V60 Hario. Mulai dari menimbang, merebus air, proses preheating, pre-infusion, hingga pouring akhirnya berhasil menyajikan secangkir kopi. Memang penyajian kopi harus detail dan presisi. Salah sedikit, rasa yang dihasilkan akan berbeda pula. Bisa dibayangkan betapa rumitnya proses pelatihan setiap barista.

menjajal swaseduh didampingi Mas Dimas

Cupable Coffee sebanarnya dalah singkatan dari Cups for Empowering Difable People. Selain juga dibaca dengan bunyi yang sama dengan kata capable yang berarti mampu atau bisa. Merupakan kedai kopi di area kompleks YR Yakkum yang menjadi ruang berkarya para barista inklusif. Cupable meyakini inklusi sosial salah satunya dapat hadir melalui kopi. Karena itu, Cupable mengusung campaign #KarenaKopiKitaBisa, sesuai namanya. Dari kedai ini, kopi kopi tersaji dengan kenikmatan yang setara.

Barista Inklusif oleh Program Peduli

Program Barista inklusif dijelaskan pada Talk Show yang menjadi acara inti kegiatan ini. Ranie Ayu Hapsari, Project Manager Program Peduli Pilar Disabilitas, menjelaskan program pelatihan barista sejak awal Juli hingga awal Agustus selama satu bulan penuh. Tujuan utamanya adalah mencetak barista-barista profesional dari kalangan yang seringkali dianggap berbeda oleh masyarakat umum, dalam hal ini kalangan disabilitas. Dengan peningkatan skill dan profesionalitas, penyandang disabilitas dapat mengakses lebih banyak lapangan kerja, khususnya di bidang kopi.

Kiri ke Kanan: Mas Eko, Mbak Frischa, Mbak Ranie, Mas Bernard dan Mas Gilang

Pelatihan ini tidak hanya terfokus pada barista sebagai penyeduh kopi saja. Peserta pelatihan juga turut mengikuti proses dari pohonnya di perkebunan kopi daerah perbukitan Menoreh, Kulonprogo. Salah satu peserta pelatiha, Mas Eko Sugeng menceritakan pengalamannya mempelajari proses pascapanen suatu kopi hingga menjadi green beans yang siap direndang Roaster. Selanjutnya kunjungan ke Roastery juga dilakukan untuk mengetahui tahap akhir sebelum biji-biji kopi ini mengisi toples di meja bar.

Saya sempat mengobrol singkat dengan Pak Yuli. Peracik kopi yang cekatan membagikan gelas gelas kertas berisi kopi seduhan teman-teman barista inklusif dengan kaki palsunya. Beliau mempelajari berbagai seni menyeduh kopi. Baik metode seduh manual dengan berbagai jenis alatnya. Misalnya pour over dengan metode V60 yang harus sangat presisi. Bagaimana rasio air dan kopi, berapa grind size terbaik, suhu yang tepat, waktu yang direkomendasikan untuk preinfusion dan pouring, hingga bagaimana teknik pouring yang baik.

Tak hanya mempelajari metode seduh manual, peserta pelatihan juga mempelajari penyajian dengan mesin. Dari bagaimana membuat espresso dan minuman-minuman espresso based. Apa perbedaan dan bagaimana menyajikan minuman-minuman espresso based seperti americano, capuccino, cafe latte dan sebagainya. Hingga bagaimana teknik membuat latte art yang menarik. Sebagaimana pengalaman Mas Eko saat membuat latte art pertamanya.

‘maunya bikin angsa, jadinya malah terang bulan’

latte pertama saya malah angin tornado

Karena Kopi Kita Setara

‘Sama seperti Mas Ben dan Mas Jody, kami juga punya mimpi’

Saya membayangkan kalimat itu bukan hanya diucapkan Aga dan Aldy seperti dalam film Filosofi Kopi 2. Jika Frischa Aswarini, salah satu penulis ide cerita film Filosofi Kopi 2 akan kembali menulis naskah film lanjutannya, saya membayangkan kalimat ini keluar dari mulut teman-teman Barista Inklusif seperti Mas Eko dan Pak Yuli misalnya. Jika Ben dan Jody mampu menambah kecintaan kopi nusantara melalui kisah mereka dalam film. Saya kira Mas Eko, Pak Yuli dan teman-temannya memiliki kemampuan yang setara pula. Jika Ben yakin bahwa kopi terenak adalah seduhannya, Mas Eko dan Pak Yuli pun dapat menyajikan kenikmatan yang setara.

fun battle teman-teman BKVR dan Barista Inklusif

Frischa dapat menulis tentang filosofi kopi meski ternyata tidak selalu bisa minum kopi. Berbeda dengan Bernard Batubara, penulis dan home brewer yang ide-idenya selalu berkawan kopi. Bernard percaya kopi dapat menyatukan inklusi sosial. Menyatukan keberagaman selera dan pemikiran tanpa mendiskriminasi. Apalagi menurutnya kita semua akan menjadi difabel pada akhirnya. Sebuah statemen yang semakin meyakinkan bahwa kita semua memang setara. Apalagi di hadapan kopi.

 

5 thoughts on “Karena Semua Setara di Hadapan Kopi

  1. Melalui kreasi tangan barista, sekarang beragam varian cita rasa kopi jadi makin kreatif.
    Tak ada salahnya, sesekali perlu dicobain juga minum seduhan kopi yang dimasak di atas kayu bakar dirumah – rumah traditional penduduk desa …, cita rasa kopinya terasa eksotik dinikmatin.

    1. iya, mas. ngicipi kopi terjujur memang kopi tubruk. rasanya lebih otentik dan asli.
      apalagi ditambah kehangatan penduduk desa. makin nikmat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.