Catatan Semeru : Tujuan itu Bernama Rumah

“Tujuan Utama Bukanlah Puncak, tetapi Kembali ke Rumah dengan Sehat dan Selamat”

Kata-kata ini tertulis besar-besar di papan tulis ruang briefing. Dalam hati saya mengomentari

‘Ngapain susah susah ke sini kalo tujuan utamanya rumah.’

Hingga 5 jam kemudian saya meralat besar-besaran anggapan itu.

Mahameru memanggilmu

Sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan diri. Saya, Aqied perempuan  pecinta kopi yang mudah merasa bosan ketika terlalu lama diam di rumah, sehingga membuat saya mencintai perjalanan. Bagian terpenting dari perkenalan ini adalah, saya bukan pendaki yang memiliki portofolio pendakian berbagai macam ketinggian. Saya hanya pelaku treking hore-hore dari bukit ke bukit, dan belum pernah berpengalaman dengan pendakian serius. Apalagi perjalanan panjang hingga berhari-hari. Maka ketika memutuskan mengasah pribadi dalam 4 hari 3 malam di Gunung tertinggi pulau Jawa, saya tak henti bertanya pada diri sendiri.

‘Apakah saya benar-benar akan melakukan ini?’

Memilih Semeru sebagai pendakian serius pertama sungguh-sungguh saya rutuki. Bahkan sejak pertama kali terlanjur mendaftar online untuk masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sempat juga saya sengaja menunda-nunda pembelian tiket Jogja-Malang karena belum sepenuhnya yakin atas rencana ini. Apalagi plan awal saya yang hanya sampai di Ranu Kumbolo saja, ternyata tidak diamini oleh rombongan sehingga minimal harus sampai Kalimati. Saya makin kehilangan percaya diri.

ini dia rombongannya

Hingga pada hari H, tiba-tiba saja saya sudah di Ranu Pani dan mengantri menyerahkan SIMAKSI ( Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi ), Untuk kemudian memulai tracking ke camp ground pertama, Ranu Kumbolo. Danau cantik yang sebenarnya sudah menjadi wishlist saya beberapa tahun lalu, sepulang dari Kawah Ijen. Motivasi untuk merasakan sendiri kabut Ranu Kumbolo, membuat saya rajin berlatih jalan dan lari pada tahun itu. Sayangnya wishlist tetaplah menjadi wishlist yang tak kunjung terealisasi, hingga Agustus lalu.

 

Jarak dan Waktu Tempuh ke Ranu Kumbolo

hai, Ranu Kumbolo

Menurut informasi Taman Nasional, jarak yang harus ditempuh pendaki dari Basecamp Ranu Pani ke Ranu Kumbolo sejauh 10 kilometer. Angka yang belum-belum sudah membuat saya  ciut. Membayangkan 10 km, setara jarak Fly Over Janti ke Candi Prambanan. Naik kendaraan dan jalanan yang datar saja saja saya sudah lelah. Ini jalan kaki, membawa beban belasan kilogram, dan nanjak ra uwis-uwis pula.

Sepanjang rute ini, terdapat 4 pos untuk istirahat, jajan jajan semangka, atau ngadem. Elevasi sejak dari basecamp hingga pos 3 masih cenderung ‘bersahabat’ bagi phobia tanjakan seperti saya, walau tetap konsisten menanjak. Dari Pos 1 sampai Pos 2 juga jalanan sudah dipaving, sehingga lebih enak dipijak. Meski begitu, tak terhitung berapa kali saya harus melambaikan tangan menyerah dan minta istirahat. Sampai tiba di Pos 3 yang serta merta dihadapkan langsung dengan tanjakan lumayan ekstrim. Lagi-lagi batin saya memprotes

‘ngapain saya menyusahkan diri sendiri seperti ini’

Jembatan Merah nan Instagenic ok

Sejak Pos 3 itu, jalanan mulai makin macam macam. Dari yang landai, nanjak, sampai jembatan merah berkabut yang instagenic. Sengaja foto-foto di jembatan ini mumpung sedang berkabut, sekaligus untuk alibi biar istirahat. Bagusnya, usai perjalanan panjang dan berliku ini, kita akan disambut oleh Ranu Kumbolo dari sisi seberang area perkemahan. Awal mulanya bahagia tak terkira karena tujuan sudah terlihat. Namun sebagaimana kehidupan, kadang kebahagiaan itu semu.

masih bahagia pertama kali liat Ranu Kumbolo

Walau Ranu Kumbolo jelas-jelas terbentang di sisi kiri, dan tenda-tenda di camp ground mulai terlihat, perjalanan panjang masih harus ditempuh. Hingga bagian paling menyebalkan, Tanjakan Cinta KW (sebut saja begitu) yang membentang terang-terangan dari area camping Panggonan Cilik menuju Shelter Ranu Kumbolo. Lelah dengan tanjakan, saya memilih jalan memutar yang lebih landai, dan tentu saja lebih jauh.

Seketika membayangkan glundang-glundung di kasur seharian sampai bosan terasa sangat menyenangkan.

Total waktu tempuh normal menurut pihak Taman Nasional adalah 5 jam. Dan ternyata kami memang menghabiskan waktu sekitar 5 jam perjalanan dari Ranu Pani sampai Ranu Kumbolo. Waktu tempuh ini lebih singkat saat perjalanan pulang karena dominan menurun. Tetapi jangan anggap enteng, karena justru saya mengalami kaki melepuh dan pincang-pincang pada saat perjalanan turun. Sementara saat perjalanan naik, kaki saya aman aman saja.

 

Jarak dan Waktu Tempuh ke Kalimati

 

menonton Mahameru dari Kalimati

Titik camping kedua di Taman Nasional Semeru adalah area sekitar shelter Kalimati. Ini lokasi terakhir berkemah yang paling mendekati puncak.Walau tidak bisa dibilang dekat juga karena masih harus menempuh 2,7 km lagi untuk ke puncak dan menanjak terus.

Mengawali perjalanan ke Kalimati dari Ranu Kumbolo,  saya sudah diciutkan dengan Tanjakan Cinta yang gak bikin jatuh cinta. Peduli amat dengan segala mitos dan kepercayaan soal Tanjakan menyebalkan ini. Saya bahkan tak ingat tiap berapa langkah harus berhenti.

Tanjakan Cinta yang tidak kucinta

Beruntungnya, perjalanan selanjutnya melintasi Oro-Oro Ombo hingga ke Pos Cemara Kandang berupa jalanan datar dan menyenangkan. Untuk kemudian dihajar lagi dengan tanjakan hingga Jambangan. Dari sini, puncak Mahameru sudah menyapa dan menambah semangat untuk berjalan terus foto-foto.

Oro-oro Ombo difoto dari Cemoro Kandang
Puncak mulai terlihat dan jalanan relatif datar dari Jambangan ke Kalimati

Kalimati berada di ketinggian 2700 MDPL. Jaraknya sekitar 7,5 KM dari Ranu Kumbolo. Saat itu dengan istirahat terlalu nyaman di Cemoro Kandang, hampir menghabiskan waktu 4 jam.

papan info, bukan papan pelangi
tempat istirahat paling bikin nyaman, Cemoro Kandang

Rumitnya lagi, di Kalimati ini mata air terletak 1 jam perjalanan pulang pergi dari area berkemah. Tidak ada fasilitas putar kran dan bayar tagihan PDAM bulanan. Butuh air, maka trekinglah.

kalau butuh semangka bisa jajan

Menggigil dalam Berbagai Derajat Suhu

Sejak awal Agustus, kawasan Semeru ramai diberitakan termasuk salah satu yang mengalami cuaca ekstrim. foto-foto tentang embun es atau penduduk menyebutnya embun upas, bersliweran di sana sini. Bahkan terakhir, beredar pula video tenda-tenda yang seperti bersalju di pagi hari. Tidak heran memang, Semeru termasuk salah satu gunung yang dapat mencapai suhu minus pada musim-musim tertentu. Dingin yang akhirnya saya buktikan dan rasakan sendiri.

kademen tapi tetep poto-poto

Kami tiba di Ranu Kumbolo saat menjelang sore, dengan sambutan angin dingin. Begitupun saat tiba di titik camping malam kedua, Kalimati. Tapi tunggu dulu, kami masih harus mendirikan tenda untuk dapat beristirahat. Selain juga berlindung dari dinginnya kabut yang lebih dingin dari sikap dia #okeskip. Perjalanan berjam-jam ditambah udara yang dingin, mengkali lipatkan rasa lapar. Apalagi hari sudah sore sementara makan siang saja terlewat. Ini pertanda harus bongkar muatan untuk mulai memasak dan menyiapkan minuman dan makanan hangat.

see, betapa nikmatnya semangkok indomie rebus sembari berselimut di depan TV ketika udara dingin?

Sementara saat itu kami harus mempersiapkan alat dan bahan masak, mengambil air, dan menunggu nasi sayur dan lauknya matang. Hembusan angin malam yang menusuk berpadu dengan nyanyian perut kelaparan dan kaki yang protes disiksa berkilo-kilometer.  Kepayahan itu mungkin yang membuat masakan yang gitu-gitu aja terasa beribu kali lebih nikmat, hingga semua hidangan sukses ditransfer ke perut masing-masing.

di Kalimati makan rendang biar bertenaga

Ranu Kumbolo terletak di ketinggian 2400 MDPL. Menurut papan informasi, suhu minimum di kawasan ini mencapai minus 5’C hingga minus 20’C. Saya sendiri tidak tahu saat itu berada di suhu berapa. Pastinya tidur di dalam tenda double layer dengan sleeping bag polar, tidak cukup menghangatkan. Sekalipun sarung tangan, kaos kaki dan jaket sudah turut serta berusaha menjaga suhu tubuh. Beruntung atas saran mbak Sasha, tuan rumah Ranselhitam.com saya membawa emergency blanket yang ternyata ampuh menahan hawa dingin Ranu Kumbolo.

Tidur di kasur empuk rumah dengan bed cover tebal dalam kamar yang hangat tentu lebih nyaman, bukan?

Saya menyambut pagi terakhir di Ranu Kumbolo dengan duduk diam usai sholat subuh. Memandangi langit di atas danau yang masih menyisakan bintang-bintang. Tak ada wifi, tak ada sinyal. Menikmati masa-masa transisi dari gelap dengan kerlip samar bintang, hingga mentari pagi memamerkan warna-warni arunika nya. Merasakan dinginnya angin subuh dengan kabut tipis, hingga hangatnya matahari pagi. Berkali-kali batin saya masih tak percaya telah sampai di sini. Menyaksikan sendiri kuasa alam, merasakan sendiri betapa kecil kami di hadapan Pencipta Alam Raya. Merenungkan kembali 3 hari terakhir yang saya lalui di sini.

Subuh di Ranu Kumbolo

Pada akhirnya, kepayahan dan keterbatasan selama 4 hari menyadarkan saya. Bahwa rumah adalah tempat ternyaman yang harus selalu saya syukuri, bukan saya rutuki. Bahwa sejauh apapun saya pergu, rumah akan selalu menjadi tempat yang selalu dirindukan.

Karena kembali ke rumah adalah tujuan utama dari setiap perjalanan.

bagaimana rasanya 4 hari 3 malam hidup, tinggal dan bernafas di Gunung Tertinggi Pulau Jawa? . . Tentunya tidak menarik. tidak ada listrik apalagi wifi. Tidak ada Gojek ketika kaki mulai lelah berjalan. Tak ada pula GoFood saat lapar melanda. Tidak ada kasur empuk ketika kantuk menyerang. Tak ada pula selimut tebal saat angin dingin menerjang. Hingga tidak ada TV untuk turut dalam gegap gempita Asian Games. . . Pada akhirnya dengan segala ketiadaan, saya menyadari bahwa sejauh apapun saya pergi, tempat ternyaman di dunia tetaplah Rumah. . Pantas saja di papan tulis ruang briefing, tertulis besar besar: . "Tujuan Utama Bukanlah Puncak, Tetapi Kembali ke Rumah" . . 📷: @papanpelangi #Semeru2018 #RanuKumbolo #TanjakanCinta

A post shared by aqied aqida (@aqied) on

 

foto-foto oleh saya dan papan pelangi

14 thoughts on “Catatan Semeru : Tujuan itu Bernama Rumah

  1. Meski sebenarnya arti harfiahnya bukan begitu, tapi aku setuju sih. Wkwkwkw.
    Jangankan berkemah, naik kereta yang cuma semalam aja kadang wes “haduuh aku kangen kasur”

    1. ah terima kasih koreksinya.
      iya emang enak di rumah. tapi kalo gak ngerasain berpayah-payah begini, gak sadar kalo rumah memang terbaik

  2. Postingannya bikin rindu sama Semeru.. Sudah 8 tahun sejak terakhir menyambanginya…
    Jadi kangen juga sama pendakian Semeru zaman dulu yang masih murah, sekarang denger-denger mahal..

    Tapi satu hal yang nggak berubah itu indahnya Ranu Kumbolo memang..

    1. ya benar, buat saya Semeru ini memang gunung yang berbudget lumayan. rencananya saya akan nulis soal budgeting ke Semeru dalam postingan terpisah.

  3. Kayanya nanjak dimana-mana itu sensasinya selalu begini ya. Merindukan kehangatan rumah, empuknya kasur dan gampangnya cari makanan anget dan pedes daripada waktu lagi nanjak di gunung.

    Aku kepikiran juga nih buat nyobain lagi nanjak di pegunungan Indonesia. Dan kayanya aku harus nambahin peralatan supaya bisa survive sedikit lebih baik. Soalnya kalau naik gunung di Nepal, tiap berhenti ada desa dan penginapan. Kalau di Indonesia, sedikit lebih menantang, karena harus mempersiapkan peralatan lebih untuk menginap.

    Jadi setelah Semeru, rencananya mau nanjak kemana lagi Qied?

    1. waaaaah ternyata memang gak aku sendiri ya yang jadi kangen rumah kalo lagi di gunung. Tapi pas udah di rumah, kangen jalan lagi. hahahaha
      kemarin ngobrol2 sama Om yang masa muda nya suka naik gunung juga. Katanya kalau lagi capek treking juga kebayang2 rumah yg nyaman. tapi nyatanya sampe bolak balik 4x naik turun Arjuno-Semeru.
      .
      iya sih karena di sini rata2 saat mendaki sudah gak ketemu pemukiman apalagi penginapan, perlengkapan tidur harus bawa sendiri lengkap.

      terdekat rencana Papandayan, selanjutnya belum ada plan lagi. ke mana nih enaknya kira2?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.