Press "Enter" to skip to content

Bertandang ke Papandayan: Danau Kawah

Saya merasa sudah cukup mempersiapkan diri saat berencana akan bertandang ke Papandayan. Informasi mengenai titik-titik populer seperti Kawah Papandayan, Hutan Mati, Pondok Saladah dan Tegal Alun cukup banyak bertebaran di internet. Apalagi pendakian kali ini rencananya tektok saja, alias Pulang Pergi langsung tanpa menginap. Tentu saya harus tau bagaimana track dan medan yang harus saya tempuh. Saya tidak ingin lagi membawa oleh-oleh berupa kaki lecet melepuh dan pegal-pegal.

dalam perjalanan tracking Papandayan

Papandayan memang dikenal dengan Hutan Mati nya yang magis. Juga Padang Edelweisnya yang manis. Cobalah ke mesin pencarian, maka foto-foto kedua tempat iconic itu akan mendominasi. Namun pada perjalanan saya kemarin, bukan kedua tempat itu yang memberi kejutan.

Mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra…

Kejutan itu datang dari Danau Kawah Papandayan. Sebuah ceruk besar berisi air dengan warna khas musim kemarau. Belakangan, melalui gambar di mesin pencarian, saya baru tau kalau warnanya bisa berbeda di musim yang berbeda. Lazimnya akan berwarna hijau saat musim penghujan tiba, namun bisa pula tiba-tiba berwarna merah. Ah alam memang tak bisa ditebak, seperti hati kamu, mas. Mungkin ini artinya saya perlu menyambanginya lagi di lain musim, selain masih punya hutang puncak juga.

Sisi terbaik memotret Danau Kawah Papandayan

Danau Kawah ini sedikit melenceng dari jalur utama Camp David ke Hutan Mati. Jika mengikuti jalur ke Hutan Mati, maka sebelum pos toilet pertama, berbelok lah ke kiri terus menerus mengikuti arah asap-asap belerang. Medan treking didominasi tanah dan bebatuan berwarna putih dan cokelat keemasan. Meski banyak bebatuan, jalur cukup aman dari tergelincir, selagi menggunakan sepatu yang tepat dan jalan berhati-hati. Ada kalanya perlu sedikit menaiki dan menuruni tanjakan dan tebing yang mempertemukan lutut dan dagu, atau memaksa untuk ‘ndlosor.

sesi ndlosor

Sesekali kami juga menyebrangi aliran-aliran kecil air dengan warna-warni yang berbeda-beda setiap sungai nya. Air dalam aliran sungai-sungai kecil ini mengandung belerang, sehingga jika disentuh pun akan terasa hangat atau malah panas.

rupa rupa sungai di Papandayan

Kontur tanah dan rupa-rupa aliran sungai yang kami lewati memang menarik. Masih ada lagi yang membuat pendakian Papandayan saya kemarin terasa sangat riang. Sepanjang jalur pendakian, pemandangan yang disuguhkan luar biasa bagusnya. Saat itu musim kemarau dan cuaca sedang cerah-cerahnya sehingga warna bebatuan, asap kawah dan bukit-bukit kehijauan sebagai latar, berpadu kontras dengan birunya langit. Segala warna-warni alam ini, membentang terbuka menemani perjalanan kami. Hingga saya yakin siapapun yang menjepretkan kamera ke arah manapun, akan tetap mendapatkan gambar terbaik.

bentang alam Papandayan

Bagaimana saya tidak merasa riang terus menerus?

View yang serba terbuka ini memang menguntungkan sekali saat cuaca cerah. Jangan dibayangkan bagaimana jika pendakian dilakukan saat hujan, bisa dipastikan tidak ada tempat untuk berteduh.

Tak ada tempat berteduh

Kami tiba di kawah saat matahari sudah mulai meninggi. Takjub, hingga bengong beberapa detik adalah reaksi pertama saat pertama kali menyaksikan bentangan kawah cokelat di depan mata. Danau kawah ini ternyata cukup besar, meski saat itu tidak terlalu banyak berisi air. Kabarnya saat musim penghujan tiba, air dalam danau lebih banyak dan bisa saja memiliki warna yang berbeda pula. Saat itu hanya ada kami di area Danau Kawah Papandayan. Saya lalu naik ke sisi kiri berupa tebing yang lebih tinggi, berusaha untuk menangkap gambar kawah secara utuh.

mencoba memotret danau kawah secara utuh
dipotret dengan latar belakang Danau Kawah Papandayan

Danah Kawah ini terbentuk akibat letusan Kawah Papandayan yang juga turut menghanguskan Hutan Mati. Air dalam danau kawah ini berasal dari air hujan yang terkumpul dalam ceruk sehingga membentuk Danau Kawah Papandayan. Karena berasal dari air hujan, maka airnya pun tawar. Berbeda dengan air-air pada aliran sungai yang mengandung banyak belerang.

Foto favorit di Danau Kawah Papandayan

Jarak Danau Kawah ini dari Camp David tidak terlalu jauh hanya sekitar 3 km saja. Rata-rata cukup didaki 2-3 jam tergantung seberapa banyak istirahat, dan berapa jumlah selfie di perjalanan.

Tertarik bertandang ke Papandayan?

 

Tips:

Jika berencana camping di Papandayan, dapat menyewa perlengkapan di persewaan outdoor di Garut sehingga tidak perlu membawa terlalu banyak barang dari kota asal, pun lebih hemat karena jumlah hari sewa juga lebih sedikit dibanding menyewa alat dari kota asal. Dapat menghubungi Nakama Outdoor/Unank.

18 Comments

  1. Nasirullah Sitam Nasirullah Sitam Oktober 15, 2018

    Seandainya bawa lensa wide bagus banget motret lansekapnya.
    Kumikir sesi ndlosor di bebatuan, apa nggak sakit ya 🙁 HAHAHAHHA

    • aqied aqied Post author | Oktober 15, 2018

      harusnya iya nih pake lensa wide karena luasss dan terbuka bangett pemandangannya.
      soalnya beberapa medan trek memang curam banget, jadi ada yg takut kepleset kalo berdiri, njuk ndlosor.
      etapi aku ndak ndlosor sih. takut keenakan.

  2. Dwi Susanti Dwi Susanti Oktober 15, 2018

    Oh ini part 1 ya?
    Aku tadi nyariin hutan matinya wkkw. Tu kan bisa dibikin banyak postingan kaya blognya tetangga ituu :’)

    Jadi kawahnya kalau kemarau cokelat, jadi penasaran pas penghujan airnya pasti lebih melimpah terus warnanya entah.
    Pas lewat-lewat sungai belerang itu Mbak Aqied kuat tanpa masker?

    • aqied aqied Post author | Oktober 15, 2018

      hehehehe iya dibikin ber-episode2 biar banyak postingannya. ;p
      Hutan mati nanti ditulis terpisah. bahkan diupload instagram aja belum ini Hutan Mati nya. udah buanyak banget yang nulis juga sih. jadi nanti nanti saja.
      Kemarin belerangnya pas gak terlalu, ya kalo pas nusuk gitu tutup hidung pake jilbab. Gak betah maskeran terus aku tuh

  3. Elisabeth Murni Elisabeth Murni Oktober 15, 2018

    Qied, ini treknya beraroma belerang nggak ya? Aku bayanginya kok aromanya kaya Dieng ya. Tapi kelihatannya biasa, wong kayaknya kamu nggak pake masker *sotoyaku

    • Gallant Gallant Oktober 15, 2018

      Nah iya. Aku bayangin juga gitu.
      Apalagi kalau terbuka gini jelas panas banget. Tapi dingin karena gunung. Tau tau jadi item.

      • aqied aqied Post author | Oktober 15, 2018

        buahahahaha ini garis batas kena matahari di pipi kanan kiri belom hilang sampe sekarang. Panas banget, jendral…
        gak ada dingin dinginnya. itu jaket nganggur di ransel

    • aqied aqied Post author | Oktober 15, 2018

      Iyaaaaa selain blereng juga beraroma belerang. tapi pas kmaren ndak terlalu tajam sih. sebaiknya pake masker atau buff.
      aku ndak isa pake masker, kalo diperlukan aja baru maskeran pake jilbab. hehe. jangan ditiru ya

  4. Ika Yuni Anggrahini Ika Yuni Anggrahini Oktober 16, 2018

    Akses transportasinya gampang nggak ya? Mau ke sana kok mikir2 bakalan susah transport, apalagi dengan waktu yang terbatas.

    • aqied aqied Post author | Oktober 16, 2018

      kalo ngeteng naik angkot bakalan dioper2 gitu sih, trus terakhir naik ojek.
      kalo ada barengan sharecost sih lebih enak sewa mobil+driver dijemput dr stasiun ke camp david, trus tar pas pulang diantar lagi dr turun Papandayan ke stasiun.

  5. Iyos Kusuma Iyos Kusuma Oktober 19, 2018

    Wah ini dia.. Keren ya? Saya beberapa kali ke Papandayan, tapi belum pernah melenceng ke jalur menuju danau ini.

    • aqied aqied Post author | Oktober 20, 2018

      iyaaaa, saya juga awalnya tidak tau kalau ada Danau Kawah sekeren ini. Soalnya memang melenceng dari jalur pendakian sih.
      Mungkin kapan2 bisa diagendakan ke sana lagi saat danau nya berbeda warna. hehehe

  6. aji sukma aji sukma Oktober 20, 2018

    Dari 2013 berencana ke sini tp sampai skarang cm jadi wacana, keburu pensiun dari dunia pergunungan.
    Diwh, kzl aku tu liatnya!

    • aqied aqied Post author | Oktober 20, 2018

      yuk ke sana lagi. jadi pendaki manja sajaaa

  7. Darius Go Reinnamah Darius Go Reinnamah November 3, 2018

    Air danaunya tawar ya qied macam perasaanmu?

    Kok doyan babget naik gunung gak muncak? Apa memang selalu begitu?

    • aqied aqied Post author | November 5, 2018

      ahahaha, masih nubie dan sada diri lah belum cukup persiapan. Biar jadi alasan buat balik lagi kan, Bang Dar

  8. Unank Unank November 12, 2018

    Wah harus remidial dong, jangan papandayan doang nanti… Garut masih banyak tempat yg harus dikunjungi lho…

    Hehehehehe

    • aqied aqied Post author | November 12, 2018

      ahahaha
      Siyaaaaaap
      habis lulus bisa dipertimbangkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.