Papandayan 2: Pendakian yang Riang

“Papandayan adalah pendakian paling riang, tanpa tempel-tempel koyo dan hansaplast

Saya sempat menuai protes usai menuliskan kalimat tersebut pada caption instagram. Dianggapnya saya menyebut pendakian sebelumnya tidak riang. Apalagi saat itu saya memang menghabiskan banyak lembar-lembar koyo dan hansaplast.

Baca Juga Catatan Semeru: Tujuan Itu Bernama Rumah

Membandingkan kedua pendakian tersebut sesungguhnya tidak apple to apple. Saya mendaki Papandayan lebih mirip disebut piknik hore dengan sedikit jalan kaki. Apalagi titik akhir saya hanya sampai Hutan Mati. Melewatkan Padang Edelweis bahkan mengabaikan Pondok Saladah. Mengistirahatkan carrier kulkas dua pintu, dan menyandang foldable backpack yang hanya berisi air minum dan P3K.  Tiba pagi hari, dan pulang sore harinya. Tanpa mendirikan tenda, tanpa menginap.

hanya menyandang foldable backpack saja

Baca Juga : Bertandang Ke Papandayan 1: Danau Kawah

Sekarang, coba tengok pendakian paling serius sebelumnya di Semeru. Perjalanan berkilometer setiap harinya selama 4 hari dengan memanggul berkilogram berat beban. Menanjaki berbagai derajat elevasi di setiap perjalanannya, sementara menggigil di berbagai derajat suhu (bahkan minus) selama 3 malam. Dan semuanya adalah pengalaman pertama saya.

jalan kaki 4 hari bawa kulkas terus saya tu

Tidak dapat diperbandingkan, bukan?

Bertamu ke Semeru untuk pertama kalinya adalah pendakian yang riang. Bersama teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, meski baru berkenalan. Menemukan hal-hal menarik dari tingkah laku sesama pendaki. Mengamati aktivitas penduduk lokal dan pencari nafkah di area Taman Nasional. Tak lupa menertawakan kelakuan receh dan kemampuan cupu saya sendiri dalam pendakian.

Sementara Papandayan, Apa yang membuatnya menjadi Pendakian Paling Riang?

Kondisi Fisik

Saya kira, pengalaman di Semeru ini lah yang menjadi bekal utama betapa riangnya pendakian di Papandayan. Yap, fisik yang prima dan kaki yang lebih siap untuk berjalan. Hingga sepanjang tracking dari Camp David, Danau Kawah dan Hutan Mati, kaki saya terasa ringan melangkah. Pun nafas tetap teratur meski sisa-sisa phobia Tanjakan masih belum sepenuhnya hilang.

senang riang

Memang benar, kesehatan adalah nikmat paling berharga. Berada dalam kondisi fisik dan suasana hati terbaik membuat saya menikmati sepenuhnya perjalanan. Saya tidak disibukkan dengan mengeluh kelelahan, mengatur nafas yang terengah-engah, atau merutuki lutut yang gemetar. Jadi jangan abaikan persiapan fisik pra-pendakian ya.

keliatan bahagia atau pura2 bahagia?

Beban Target?

Walau selalu membuat rencana perjalanan, saya tidak pernah menjadikan destinasi sebagai target yang harus dicapai. Saya lebih suka menikmati perjalanan dan mengenali kemampuan diri sendiri. Tujuan saya bepergian ya untuk bersenang-senang dan merefresh pikiran. Jika destinasi harus menjadi beban, ketika tidak tercapai karena satu dan lain hal, akan berpotensi merusak mood liburan.

mood saya mahal harganya

sampai di Hutan Mati aja sudah bahagia

Sebagian orang mungkin bertanya kenapa melewatkan Padang Edelweis di Papandayan. Atau juga mempertanyakan Apa artinya naik gunung jika tak sampai ke puncaknya. Naik gunung seperti apa yang tidak sempat menikmati malam dengan bertenda. Dan lain sebagainya.

Saya lebih suka mengukur batas kemampuan saya maupun teman-teman seperjalanan, sebelum memastikan target. Berusaha untuk selalu mandiri karena mantan karyawan mand*** syariah  tidak ingin merepotkan apalagi menjadi beban bagi teman seperjalanan saya.

kenali batas dirimu dan teman-temanmu

Dengan tidak membuat target-target yang strict, saya tidak pulang dengan kekecewaan atas apa-apa saja yang terlewatkan. Tetapi fokus mensyukuri apa-apa yang telah kami lalui dan dapatkan selama perjalanan.

Justru dengan adanya bagian-bagian yang terlewat, menjadi alasan kuat bagi saya untuk kembali lagi nanti.

mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah

Selain 2 hal di atas, tentu ada faktor-faktor lain yang turut menjaga kadar riang saya, seperti teman seperjalanan yang menyenangkan, track yang tidak melelahkan, bentang alam yang menakjubkan,  playlist yang tepat untuk menemani perjalanan, dan banyak lagi.

Teman Seperjalanan yang Menyenangkan adalah Koentji

Kalau kamu, apa yang membuat perjalananmu riang?

 

8 thoughts on “Papandayan 2: Pendakian yang Riang

  1. Huaaa. Dari awalnya naik Semeru langsung lanjut ke Papandayan. nJomplang banget ya, Mbak. Haha
    Emang sih katanya Papandayan itu untuk pemula. Meski tidak ada yang namanya gunung untuk pemula. Yang ada ya harus persiapan.

    Aku sih bisa jalan aja udah riang, hahaha.

    1. hahahaha iya bukan sebuah perbandingan.
      trek2 nya Papandayan juga sudah diset buat ramah untuk pemula maupun manula sih.
      ah tiap hari juga jalan kan, jalan dr kosan ke kantor. wkwkwk

  2. Beda ya kalau dari Semeru terus baru ke Papandayan, lebih ke: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Dibandingkan kalau musti dibalik. Wkwkw.

    Kalau misal ke Papandayan, apa ya salah satu rombongan itu harus ada yang tau rutenya (medan)? atau bisa dipelajari lewat papan petunjuk?

  3. Bahahaha. siapa sih qied yang ngomel? Kan kamu bilang ini “pendakian paling riang”, bukan berarti yang sebelum-sebelumnya tidak riang.

    Kalau sudah mendaki Semeru, mendaki Papandayan pasti mudah banget.

    Yang membuat perjalanan saya riang adalah perjalanan yang tidak terlalu banyak berhentinya. ahahahah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.