Menyapa 5 Puncak dari Gunung Andong

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya berkunjung ke Gunung Andong. Sekitar 2015 di bulan yang sama (November), saya pertama kali terkagum-kagum dengan view dari puncak bukit perisai ini. Gunung Andong terletak di antara Ngablak dan Tlogorejo, Grabag Magelang. Puncak tertinggi gunung itu tertulis 1726 Mdpl, namun menurut wikipedia tingginya hanya 1463. Entah mana yang benar.

Trek Pendakian Gunung Andong

Trek pendakian gunung Andong ini tidak terlalu panjang, sehingga sering disebutkan ramah bagi pemula.

Meski demikian, trek didominasi tanjakan terus-menerus dan minim jalanan datar. Berbeda dengan kunjungan saya 3 tahun lalu, saat ini jalur pendaki telah dibuat sedemikian rupa sehingga menapakinya seperti menaiki tangga alami. Bagi saya trek seperti ini menyenangkan saat naik, tapi menyiksa saat turun. *elus-elus kaki yang tremor.

Kalo capek ya istirahat

Karena berbentuk seperti perisai, Gunung Andong ini memanjang dan memiliki 4 titik puncak. Camping Ground sebenarnya ada pada 2 titik puncak, di kanan dan kiri puncak utama. Namun kenyataannya banyak pula yang mendirikan tenda di puncak utama. Sementara satu puncak disebut juga dengan Puncak Makam, karena memang dihuni makam. Pada saat-saat tertentu, akan ada ziarah atau ritual di puncak ini.

Puncak Makam dengan latar Sindoro – Sumbing

3 tahun lalu saya mendirikan tenda di puncak terjauh dari makam. Lalu minggu lalu saya berkemah di puncak tengah. Baik di puncak manapun, pemandangan Gunung Andong sama mengagumkannya. Lokasi strategisnya membuat gunung ini dikelilingi 5 puncak gunung-gunung populer di Jawa.

Pagi menjelang, maka matahari akan muncul malu-malu dari punggung Merbabu dan Merapi yang berdampingan tak sejajar. Sedangkan saat senja menjelang, warna-warni swastamita dengan megah memayungi Gunung Slamet. Di sisi selatan, duo Gunung Sindoro dan Sumbing bersisian di atas awan.

Ngopi Pagi dengan latar Merbabu-Merapi

Berada di puncak Gunung Andong, pemandangan yang tersaji seakan menggunakan lensa fish eye. Luas dan seakan tak berbatas. Dengn view super luas ini, baik sunrise maupun sunset dapat sekaligus dinikmati. Karena itu meskipun Gunung Andong ini dapat didaki Tek-Tok alias naik langsung turun lagi, saya sih merekomendasikan untuk bermalam.

Agar dapat mencapai puncak sebelum waktu senja tiba, ada baiknya bersiap mendaki sejak siang. Estimasi waktu perjalanan dari basecamp Sawit hingga puncak Andong hanya sekitar 1,5-3 jam. Saat pagi tiba, warna-warni arunika akan membentang bersama terbitnya mentari dari punggung Merbabu di sisi Timur. Sedangkan kala tiba waktu senja, Swastamita dapat di sapa dari Gunung Slamet di sisi barat. Paket lengkap, bukan?

Gunung Andong menjadi foreground bagi gunung besar di belakangnya

Tak hanya indahnya warna-warni langit dan pucuk-pucuk gunung. Dari Puncak Gunung Andong hingga perjalanan naik ataupun turun, di bawah sana membentang kotak-kotak petak sawah, dan perumahan desa-desa sekitar Andong. Bentang alam pedesaan dengan berbagai bentuk dan warna ini yang selalu saya rindukan dari Andong. Saat kabut tiba, desa-desa ini seperti diselimuti awan.

Magis dan manis sekali. 

Perjalanan turun dengan view pedesaan

Pendakian diawali dengan menyusuri ladang pertanian dari basecamp. Selanjutnya jalanan mulai menanjak dengan undak-undakan seperti tangga batu. Hingga nanti berjumpa dengan Hutan Pinus sebagai rest area pertama. Saat kunjungan terakhir saya, area ini sedang dibangun toilet, semoga tetap menjaga kealamiannya ya.

istirahat di Hutan Pinus

Hutan Pinus ini menjadi lokasi favorit saya untuk beristirahat ketika turun mendaki. Mengistirahatkan kaki yang tremor akibat terus menerus turun. Menghirup sebanyak-banyaknya udara pegunungan yang segar. Menonton rupa-rupa tingkah pendaki yang naik maupun turun. Berbincang-bincang dengan bapak penjual minuman. Menjepretkan beberapa kali ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling.

Ramainya musim pendakian

Memang Gunung Andong ini menyenangkan dan tak melelahkan. Tak heran, di saat akhir pekan atau musim liburan, area camping bisa penuh luar biasa. Tak hanya riuh suara antar pendaki,  suara musik berbagai aliran bercampur aduk hingga pagi. Bersahut-sahutan dengan alarm antar tenda yang tak sanggup membangunkan pemiliknya.

Padahal alangkah lebih menyenangkannya tidur berkawankan suara alam, bukan?

wefie di atas awan

Jika tak punya cukup waktu, atau terlalu malas membawa perlengkapan menginap? Bisa saja mendaki saat pagi dan langsung turun di hari yang sama. Meski demikian, tetap pertimbangkan standar keamanan dan keselamatan masing-masing. Misalnya dengan menggunakan pakaian yang nyaman, sepatu yang sesuai, dan perbekalan yang cukup. Jangan lupakan pula tanggung jawab pada diri sendiri untuk tidak merusak alam maupun meninggalkan sampah.

Jadi, siap menyapa 5 puncak gunung dari Andong?

7 komentar pada "Menyapa 5 Puncak dari Gunung Andong"

  1. Kayanya di Andong ini memang banyak ABG-ABG gitu yo mbak?
    Aku inget sepupuku yang waktu itu masih SMA juga ke sini tek-tok, pun tetangga-tetanggaku yang masih muda belia itu. Semoga sampah di sana juga terkondisikan.
    Oh ya foto pinusnya itu kok kaya ada efek “gimanaa” gitu ala musim dingin… ahaha

    1. ahahahaha aku pun tidak menyadari kalo semacam winter begitu, baru nyadar pas ada yang komen di IG.
      Mungkin karena sebagian pohonnya memang lagi kering, dan white balance kameranya menyesuaikan, jadi malah kaya ada salju nyangkut. wkwkwk

      Iya. di sana banyak anak-anak muda, ada yang sekeluarga juga. ketemu Bapak Ibu dan anaknya camping di atas

  2. Satu2nya gunung yg pernah saya daki di Jawa sampai puncak, brangkat pagi pulang siang hehe iya ini treknya ramah sekali. Tapi itu, sekitar puncak, deket2 tenda bau pesingnya sungguh hehehe

    1. wah apalagi kalo gak ngecamp gitu, bakalan lebih cepet lagi naiknya. Gak bawa banyak beban.
      kapan kapan perlu nyobain deh sunrise atau sunset di puncak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.