Yammie Ketandan: Seperti Nge-Mie di Rumah Nenek

Jalan-jalan di Malioboro memang menyenangkan. Begitu juga kami saat rame-rame Nyetrit Bareng sampai ke Istana Presiden. Sampai kemudian matahari semakin tinggi, dan lapar mulai menyerang. Biasanya kalau sudah begini, saya pilih cabut dari Malioboro dan cari makan di lokasi lain. Namun semua itu berubah sejak mengenal Yammie Ketandan.

Kampung Ketandan

Sesuai namanya, Yammie Ketandan adalah warung bakmi yang menyajikan Yammie di kawasan Ketandan, Malioboro. Kawasan Ketandan sendiri bisa dibilang kampung pecinan yang ada di Jogja. Konon riwayatnya, pada zaman dahulu upeti dan pajak rakyat dikumpulkan di kampung ini, sebelum kemudian disetorkan ke kerajaan. Di Kawasan ini, masih banyak desain rumah dengan arsitektur Tionghoa. Sejak tahun 2006, di Kampung Ketandan rutin diadakan Pekan Budaya Tionghoa saat menyambut Tahun Baru Imlek.

salah satu sudut Kampung Ketandan

Ragam Menu

Siang itu saya hanya bawa uang tunai pas-pasan, akibat lalai mampir ke Anjungan Tunai Mandiri sebelum berangkat. Pas-pas-an itu maksudnya 20ribu saja, sementara ada tagihan parkir Rp. 3000 yang belum saya bayar. Lumayan ada rasa was-was kalau-kalau nanti tidak cukup untuk menebus semangkok yammie. Namun saat melihat daftar menu dan harga, seketika was-was itu sirna. Ternyata cukup murah juga.

Untuk Yammie polos, hanya 12ribu rupiah saja. Sedangkan Yammie Bakso dan Yammie Pangsit cukup 15ribu. Adapun jika menginginkan Yammie Komplit, cukup ditebus 18ribu rupiah saja. Sobat Missqueen bahagia, dompet tak jadi menganga.

Penampakan Yammie Pangsit

Selain Yammie, masih ada menu lain seperti Tahu Isi, Pangsit Kuah & Goreng, serta Bakso Kuah & Goreng, yang semuanya hanya 15ribu rupiah saja. Sementara untuk minumannya, seharga 3ribu sampai 5 ribu rupiah saja. Sungguh rekomendasi makan yang tepat di tengah panas dan ramainya kawasan Malioboro.

Yammie Ketandan

Tak perlu menunggu lama hingga semangkok Yammie sampai di atas meja. Disajikan dengan semangkok kecil kuah sebagai pendamping. Ya, Yammie memang selalu punya pendamping. Tidak seperti ka………*sebagian text hilang. Paket sajian Yammie Ketandan ini berisi mie kuning, pakchoy, jamur, dan ayam, ditambah taburan daun bawang hijau. Semangkok kecil pendampingnya berisi kuah yang dipisah, dan sepentol bakso, karena pesanan saya adalah Yammie Bakso. Tak sabar menyantap, kuah ini segera saya guyurkan pada mangkok Yammie. (tolong jangan dibully sebagai penistaan Yammie).

Yammie Bakso

Yammie Ketandan ini bagi saya memiliki rasa yang sederhana. Tidak berbumbu mencolok, tidak pula kelebihan penyedap. Saya sendiri menikmatinya dengan menambahkan sambal dan sedikit kecap asin. Tekstur mie-nya enak dikunyah, tanpa kekenyalan yang berlebihan. Tambahan jamur dan ayam menambah ragam rasa yang menari di lidah. Yang menyenangkan, sayuran pakchoy dalam semangkok yammie ini tidak pelit alias cukup banyak. Ah, menulis ini kembali membuat saya jadi lapar.

Pakchoy dan Vetsin

Desain dan Interior

Meski baru dibuka pada 2017, desain Yammie Ketandan ini tidak mengikuti warung-warung kekinian yang modern. Bagian depan Yammie Ketandan didominasi dinding dan pintu kayu, dengan jendela-jendela teralis besi yang klasik. Warna-warni yang dipakai seperti papan nama warung dan neon box kecil, melebur dalam nuansa khas Kampung Ketandan. Klasik, Cantik, dan Menarik.

Bagian dalam warung tak kalah klasik. Memasuki warung Yammie Ketandan seperti masuk dalam mesin waktu. Ruangan yang tidak terlalu luas itu, dipenuhi interior-interior masa lampau. Misalnya pesawat telepon yang bersanding dengan Tape & Radio Stereo Kuno. Tak lupa beberapa kotak kaset pita, dan mesin ketik manual. Di sisi lain ruang, tumpukan rantang enamel dengan motif hijau tempo dulu, seperti mengingatkan pada rumah nenek.

Tempat yammie diracik berbentuk seperti rumah-rumahan kayu, lengkap dengan atapnya. Tulisan dari kapur 100% Halal terpampang besar-besar di salah satu dinding. Begitu juga daftar menu minuman yang ditulis menggunakan kapur di tiang bercat hitam. Tak ketinggalan ajakan “Budayakan Tumpuk Tengah” tertulis juga di sisi dinding lainnya. Meja kursi untuk pengunjung didominasi dari kayu, meski ada juga kursi-kursi sofa kayu kuno. Sekali lagi saya bilang, seperti perabot yang biasa kita temukan di rumah nenek.

yey menang mini competition Nyetrit Bareng

Enak, Murah, Nyaman, dan di Lokasi yang tepat. Adakah alasan lain untuk menunda kunjunganmu ke Yammie Ketandan?

 

Yammie Ketandan

Jl. Ketandan Wetan No. 14, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta

Senin-Kamis & Sabtu : 10.00-21.00 WIB

Khusus Jum’at : 13.00-21.00 WIB

IG : @yammie_ketandan

 

5 thoughts on “Yammie Ketandan: Seperti Nge-Mie di Rumah Nenek

  1. Aku ke sini paling seneng suasananya. Pas kemarin itu aku lagi puasa jadi nggak nyoba. Udah janjian juga sama temen mau diajakin ke sini. Hahaha.
    Akutuh selama bertahun-tahun mengira kalau mie ayam itu pake sawi ternyata pakchoy, dikasih tau sama adik kosanku. Wkwkwkw.

  2. Iya, suasananya kok juara banget e Mbak?
    Sik-sik, tak kirain ini tu Yammie Pa*da yang buka cabang di Ketandan wkwk. Jebule bukan to?
    Gek bawa 20ribu ya pesennya tetep Yammie Bakso 15 ribu. Gimana kalau ternyata itu belum termasuk pajak dan tarif parkire 3ribu dicoret jadi 5ribu hahaha
    Tenang sih masih banyak teman yang membawa uang sakuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.