Selimut Kabut di Pura Ulun Danu Batur

Kabut semakin tebal ketika mbak-mbak Google Map berteriak2 memerintah untuk putar balik, pertanda saya sudah kebablasan terlalu jauh.

Konsentrasi saya untuk mencari jalan yang tepat berputar balik, seketika buyar. Rupanya saya mulai masuk ke jalanan berpaving blok, bukan lagi aspal. Sementara di sebelah kanan, pura besar berselimut kabut begitu magisnya. Tak jauh sebelumnya, terdapat gapura bertuliskan Pura Ulun Danu Batur.  Alih-alih berputar balik seperti perintah mbak google map, saya berhenti dan mematikan mesin kendaraan.

Pura Ulun Danu Batur berselimut kabut

Saat merencanakan perjalanan solo ke Bali, Kintamani tidak masuk dalam rencana. Ya walau bisa dibilang sejujurnya saya memang tidak membuat rencana. Saya bahkan sama sekali tidak menyiapkan apapun untuk kondisi pegunungan. Untunglah setidaknya saya membawa jaket merah, yang cukup dapat diandalkan di hawa dingin. Hanya berbekal informasi tak lengkap dari pencarian google, saya melarikan sepeda motor dari Ubud ke Kintamani. Sendirian.

Saya sengaja memilih rute melewati Tegalalang yang terkenal dengan sawah teraseringnya. Setelah hari sebelumnya, saya saya hanya lewat 2X dan tidak tergerak untuk mengambil gambar. Udara masih sejuk dengan sinar matahari yang cukup. Tidak panas, namun tidak pula gelap mendung. Saya begitu menikmati perjalanan pagi menjelang siang itu.

Tegalalang Rice Terrace, Ubud

Tiba di Penelokan, udara semakin dingin meski belum ada tanda tanda akan hujan. Saya singgah di Kintamani Eco Bike Coffee, dan dan mendapati Gunung Batur mulai diselimuti awan, hingga kemudian hilang di balik kabut. Khawatir akan turun hujan, saya segera bergegas menuju Desa Songan, lokasi homestay yang saya booking. Perkiraan jarak dari Penelokan ke Desa Songan sekitar 31 menit waktu tempuh. Sepertinya masih aman dari ancaman hujan, begitu pikir saya.

Kopi Kintamani di Kintamani yang berkabut

Pura Ulun Danu Batur, Kintamani

Pura Ulun Danu Batur, adalah pura terbesar ke dua di Pulau Dewata. Urutannya setelah Pura Besakih dan di atas Pura Lempuyang yang sedang menjadi idola anak instagram itu. Berbeda dengan kedua pura tersebut, Pura Ulun Danu Batur relatif lebih sepi dari serbuan turis. Apakah karena faktor lokasi, saya tidak tau.

Memasuki kawasan pura, pengunjung wajib menggunakan Sarong dengan tata cara pemakaian sesuai ketentuan. Kita dapat meminjam sarong di depan pura. Ada pula gambar contoh penggunaan yang benar. Baik turis maupun umat yang beribadah, semua memakai sarung sesuai ketentuan. Tertib.

SOP berbusana

Kabut tebal dan cuaca yang dingin tak menghalangi kesibukan ibadah di pura. Berkali-kali saya melihat hilir mudik mereka yang beribadah dari berbagai usia. Sesekali ada juga lalu lalang turis, meski tak banyak.  Saya duduk di salah satu sisi, mengamati aktivitas pura. Sementara pucuk-pucuk pura semakin kabur di balik tebalnya kabut.

Tak heran, pura ini memang terletak di ketinggian. Tepatnya berada 900 meter di atas permukaan laut. Lokasi yang tinggi dan dikelilingi pegunungan, membuat hawa sekitar pura sangat sejuk, dan seringkali berselimut kabut. Sebelumnya, Pura Ulun Danu Batur terletak di tepi barat Danau Batur. Namun setelah erupsi Gunung Batur, pura ini direlokasi ke Jl. Kintamani, Batur Selatan atau lokasi saat ini.

Kabut semakin tebal, dan langit mulai gelap meski saat itu masih pukul 2 siang. Saya bersiap untuk meneruskan perjalanan ke homestay dan mulai menghidupkan mesin kendaraan. Belum 50 meter berjalan, hujan rintik-rintik mulai menetes. Berusaha tak mengindahkan butiran-butiran air itu, kecepatan kendaraan saya tingkatkan. Tak butuh waktu lama, hujan kian menderas dengan jarak pandang mata semakin pendek terhalang kabut.

Segera saya menepikan kendaraan, mengganti sepatu dengan sandal, lalu mengenakan jas hujan. Saya tidak bisa lari lagi, kali ini hujan dan kabut terpaksa diterabas. Sementara Pura Ulun Danu Batur semakin hilang dari pantulan spion.

2 komentar pada "Selimut Kabut di Pura Ulun Danu Batur"

    1. yess, karena sepertinya sedang ada ibadah besar. di beberapa pura yang sebelum2nya aku lewatin juga banyak lagi ibadah makanya rame.
      tapi pas di dalam, tidak banyak turisnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.