Tips Traveling Saat Puasa

Ramadhan telah tiba. Selain mudik, sebagian orang mungkin memilih tidak bepergian saat puasa. Apalagi melakukan perjalanan-perjalanan yang ekstrim dan butuh banyak energi. Lalu apakah Traveling saat puasa menjadi sulit dan tidak mungkin? Tentu saja tidak.

Numpang Sholat sekalian ngadem di Masjid

Tahun lalu, saya malah bepergian ke negri sebrang saat Ramadhan dan sedang berpuasa. Masih di lokasi yang banyak pelaku puasa juga sih, Malaysia dan Singapore. Namun berpuasa di perjalanan baik dalam maupun luar negri, tentu tetap berbeda dengan menjalankan puasa di rumah. Selain saat puasa Ramadhan, saya juga beberapa kali bepergian saat berpuasa sunnah lainnya.

Saya sebenarnya senang-senang saja jika bepergian saat puasa. Yang pertama terasa banget adalah penghematan budget. Karena mau haus dan lapar sekalipun, gak tergoda dan lapar mata untuk jajan, lha wong lagi puasa. Masuk sevel yang niatnya cuma ngadem, malah jajan es krim milo, lengkap dengan segambreng cemilan. Gak ada juga jalan kaki random, nemu coffeeshop lucu langsung tertarik buat belok. Atau nyium aroma enak masakan dan antrian pembeli, lalu tergoda dan ikutan ngantri.

gampang tergoda es krim milo aku tuh

Selain itu, bepergian saat puasa juga membuat waktu puasa terasa cepat. Karena terus bergerak dan beraktivitas, puasa jadi tidak terasa, dan tiba-tiba sudah masuk waktu berbuka. Mungkin juga karena saya puasanya masih di daerah tropis saja, jadi waktu puasanya masih normal.

Tapi karena puasa nya sedang di kota orang, ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan agar traveling lancar jaya dan menyenangkan, tanpa mengganggu puasamu.

1. Sehat Jiwa dan Raga

Nggak, saya gak ngajakin untuk periksa kejiwaan dan bikin surat sehat di dokter. Kita sendiri yang paling tahu daya tahan tubuh kita, dan bagaimana mengatasinya. Apakah kita ini tipe yang gampang laper kalau kedinginan, atau tipe yang dehidrasi kalau kepanasan. Apakah kita suka banyak jalan-jalan, atau banyak leyeh-leyeh.

Tidak hanya saat berpuasa, traveling memang sebaiknya dilakukan saat kondisi tubuh sedang sehat. Karena percaya deh, sakit di negri orang itu sama sekali tidak enak. Apalagi bagi yang Solo Traveling. Jadi tidak perlu memaksakan diri dengan segambreng target dan to do list saat kondisi tubuhmu sudah berteriak.

 

Sehat jiwa juga penting, karena saat hati dan jiwa sehat sentosa, segala hal akan lebih terasa menyenangkan. Berbeda dengan suasana hati yang sedang sendu, segala hal terasa pahit dan melelahkan. Karena itu, baik-baiklah menjaga mood ketika traveling saat puasa.

2. Pilih Destinasi & Jadwal

Setelah mengetahui kondisi fisik tubuh, kita dapat menyesuaikan destinasi dan rancana perjalanan yang sesuai. Misalnya jika malas berpanas-panas dan banyak berjalan kaki, mainlah ke tempat dingin atau wisata indoor yang tidak melelahkan. Tidak perlu juga memaksakan diri untuk traveling ekstrim saat masih banyak pilihan traveling santai.

anak kampung macam saya sih malam malam lihat lampu aja sudah senang

Sesuaikan juga destinasi dengan waktu jalan-jalan. Misalnya mana yang ingin dikunjungi saat pagi, siang, sore dan malam. Mungkin wisata kuliner atau hunting street food dapat diagendakan saat malam tiba. Pada pagi hari, bisa berburu matahari terbit di lokasi yang tidak perlu tracking, siang bejung ke museum, taman, atau banguna heritage yang tidak melelahkan, lalu sore menikmati matahari terbit sembari menunggu waktu berbuka. Terdengar mudah dan menyenangkan, bukan?

Walau pada akhirnya tidak semua selalu sesuai rencana.

3. Siapkan Menu Sahur Alternatif

Ini yang paling rajin saya lakukan. Biasanya untuk persiapan sahur, saya membawa cukup oatmeal dan muesli. Bisa juga membeli buah yang mengenyangkan seperti Pisang misalnya di supermarket atau pasar setempat. Bisa juga dengan menyiapkan roti gandum yang cukup mengenyangkan untuk sahur di hotel.

bawa kopi, susu sampe oatmeal untuk sahur

Jika menginap di Hotel yang menyediakan sarapan, bisa juga kita mencari tahu apakah hotel tersebut dapat menyediakan sahur juga. Beberapa hotel di Indonesia memiliki layanan sahur selama bulan Ramadhan. jika tersedia, maka beruntunglah kita. Jika tidak, berarti kita harus bersiap untuk mandiri.

Karena kita adalah pejalan Mandiri yang Syar’ie

4. Sedia Takjil Darurat

Dalam perjalanan, tidak selalu semua hal berjalan mulus. Begitu juga soal waktu. Bisa saja waktu berbuka tiba di saat  berada di lokasi yang sulit ditemukan makanan. Untuk itu jika berencana bepergian hingga sore, sebaiknya membawa serta perbekalan untuk buka puasa.

Perbekalan untuk takjil darurat ini tidak perlu yang ribet dan berat. Saya biasanya membawa cukup air minum dan beberapa butir biskuit atau beberapa bulir kurma. Tentu saja kembali ke kondisi fisikmu, bagaimana biasanya kebutuhan makananmu saat berbuka.

Tidak semua daerah yang kita kunjungi punya Kampung Ramadhan seasyik Jogokaryan, bukan?

5. Berkunjung ke Masjid Setempat

Ini di luar dugaan saya saat di Singapore tahun lalu. Ketika menumpang masjid untuk sholat ashar, saya malahan diajakin buka puasa di Masjid. Yah, rejeki rakyat jelata yang sedang traveling saat puasa. Namun maksud saya di sini bukan melulu menjadi tim Para Pencari Takjil.

Mendadak dapat Takjil

Dengan berkunjung ke masjid setempat, kita dapat mengetahui kultur ramadhan di kota tersebut. Kita bisa bertemu lebih banyak orang yang juga berpuasa, dibanding yang kita temui saat berjalan-jalan. Jika kemudian ada bagi-bagi takjil, ya itu keberuntunganmu. Lebih indah lagi jika ternyata kita dapat turut berbagi takjil pula.

Selamat Ramadhan

4 komentar pada "Tips Traveling Saat Puasa"

  1. Sebenarnya memang lebih asyik sih pas puasa bepergian. Terlebih kalau destinasi yang dituju atau tempatnya mayoritas muslim. Jadi lebih bisa menikmati waktu berbuka sembari interaksi dengan masyarakat setempat.

  2. Aku bulan puasa ini mau traveling lho, eh tapi aku nggak puasa ding 😀

    Aku setuju bahwa traveling itu membuat puasa kita nggak terasa. Karena terus sibuk dengan kegiatan fisik (berjalan, muter-muter, foto-foto, naik transportasi umum), rasa lapar dan haus jadi nggak terasa. Di menit-menit awal mungkin memang terasa. Tapi setelah diabaikan, lama-lama jadi mati rasa haha.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.