Press "Enter" to skip to content

Solo Traveling Bersepeda Motor, Kenapa Tidak?

April lalu, saya menghabiskan hampir seminggu  solo traveling di Bali dengan full bersepeda motor. Tentu saja bukan mengendarai sepeda motor dari Jogja hingga Bali. Saya belum setangguh itu. Selama di Bali saya menyewa sepeda motor untuk transportasi pribadi.

Dilihat dari peta, lumayan juga jarak tempuh saya selama di Bali. Bagaimana tidak, saya menyewa sepeda motor sejak dari Airport sedangkan banyak muter-muternya di Ubud sampai Kintamani.

penduduk lokal melintasi tanjakan di sekitar Kintamani

Bepergian dengan sepeda motor memang bukan hal baru bagi saya. Bertolak beberapa tahun ke belakang, saya cukup rajin bepergian dengan sepeda motor. Sesekali sendiri, namun lebih sering beramai-ramai, misalnya saat ke Dieng dan Pacitan. Tentu saja masih terbatas untuk jarak tempuh di bawah 5 jam. Lebih dari itu, saya memilih opsi transportasi publik. Meminimalisir kelelahan di raga yang makin renta dan mulai manja ini.

Berikut beberapa alasan mengapa untuk saya —selagi memungkinkan dan aman-– solo traveling dengan sepeda motor perlu dicoba.

Efisiensi Biaya

Perhitungan utama saya selain lama waktu traveling, tentu saja budget. Bagi pejalan kantong pas-pasan seperti saya, kendaraan paling murah untuk disewa tentu saja sepeda motor. Saya pernah menyewa kendaraan roda dua ini di beberapa kota. Rata-rata harga sewanya cukup murah. Pengalaman saya paling murah 50ribu, paling mahal 75ribu perharinya tergantung jenis dan kondisi kendaraan.

beda cerita kalau yang disewa sepeda motor beginian

Tiap rental sepeda motor pun punya kebijakan yang berbeda. Ada yang perhitungan harinya berdasarkan tanggal, ada pula yang per-24 jam. Paling enak tentunya yang menggunakan perhitungan per-24 jam, seperti pengalaman saya saat di Bali. Meski menggunakan kendaraan selama 5 hari, namun secara perhitungan hanya dikenakan 4×24 jam saja. Dengan sepeda motor Honda Beat keluaran November 2018 alias baru berusia 5 bulan, biaya sewa hanya 60ribu/24 jam. Selama itu saya berkeliling ke berbagai tempat dan nyasar berkali-kali, hanya menghabiskan bahan bakar Pertalite 33 ribu saja.

isi BBM Sepeda Motor pun murah

Jadi total biaya bersepeda motor 5 hari di Bali: 240,000+33,000=273,000.

Biaya parkir juga murah, gratis-seribu-hingga maksimal 2 ribu

Menghemat Waktu

Jama’ah fakir cuti dan content hunter pasti memilih mengoptimalkan waktu liburan yang dipunya. Karena itu menghabiskan waktu terlalu lama untuk menunggu kendaraan, atau muter-muter dan oper-oper transportasi umum, sebisa mungkin dihindari. Pun males banget untuk berlama-lama di jalanan terjebak macet saat peak season.

Menyiasati itu semua, menyewa sepeda motor dapat menjadi jalan tengah. Sepeda motor lebih mudah menyelip di tengah kemacetan, atau menemukan jalan-jalan tikus nan pintas untuk sampai ke tujuan lebih cepat. Jika tanpa nyasar, sepeda motor dapat menjangkau lokasi tujuan lebih cepat dibanding transport publik maupun kendaraan roda empat.

Terbatasnya Transportasi Publik

larangan ojek online di kawasan Ubud

Banyak yang tidak dapat dijangkau berjalan kaki, juga transport publik. Bahkan tidak sedikit area atau zona yang terbatas dari transportasi online. Di kawasan Ubud-Bali, misalnya transportasi online tidak dapat beroperasi. Sementara transportasi publik atau kendaraan umum juga tidak menjangkau banyak kawasan. Untuk destinasi yang dekat sih mungkin bisa dijangkau jalan kaki, sekalian cuci mata dan olahraga. Namun untuk jarak yang cukup jauh, opsi paling enak ya menyewa kendaraan. Yakali dari Ubud Art Market ke Tegalalang jalan kaki.

Dapat Menjangkau Hidden Gems

Saat traveling, tentu kita akan menemukan banyak kejutan. Kejutan-kejutan ini makin terasa jika kita berjalan kaki, atau bersepeda motor. Blusukan hingga ke area-area yang sulit dijangkau pun, paling asyik ya dengan sepeda motor. Apalagi solo traveling, mau istirahat dan berhenti kapanpun juga, suka-suka. Gak harus mikirin harus parkir di mana seperti kalau menggunakan mobil. Bahkan tak jarang kita tidak sengaja menemukan spot2 keren saat perjalanan. Menemukan Pura Ulun Danu Batur pun dengan tidak sengaja dan tanpa rencana, karena kebablasan saat bermotor ke Kintamani.

mendadak berhenti sembari menikmati senja juga bisaaa, biar indie begitu

Tidak heran jarak tempuh Kintamani ke Kuta yang lazimnya hanya 2 jam, saya habiskan sampai 6 jam. Selain hambatan perjalanan berupa hujan deras, lebih dari setengah perjalanan habis untuk saya mampir-mampir.

Misalnya di sepanjang susur Danau Batur, yang hampir setiap spotnya cantik banget. Rasa-rasanya ingin berhenti dan menjepretkan kamera setiap meter. Atau direkam dengan drone saat bersepeda motor seperti Keenan Pearce dalam iklan Axe.

selfie di lokasi Keenan Pearce syuting iklan Axe, biar ada foto bareng si motor & ransel

Tentu jika kita menggunakan mobil, atau ikut dalam tur, tidak bisa berhenti seenaknya. Berlama-lama di satu spot atau melewatkan banyak lokasi wisata sesukanya. Berjalan solo apalagi bersepeda motor bagi saya adalah sebebas-bebasnya perjalanan, dengan peluang kejutan yang tak habis-habisnya.

Kintamani-Kuta, 6 jam, mampir 9 lokasi

Punya cerita atau rencana berkendara solo traveling bersepeda motor juga?

next wishlist: motoran di Penang

4 Comments

  1. Nasirullah Sitam Nasirullah Sitam Juni 25, 2019

    Siapa tahu besok-besok ada tulisan “Jogja-Sorong” naik sepeda motor sendirian hahahhaha.
    Bakal jadi tulisan yang setahun gak abis-abis.

    • aqied aqied Post author | Juni 25, 2019

      pakai tol laut lintas Jawa Papua ya? wkwkwkwkwwk

      Jogja Sorong pakai Pelni masih jadi wishlist ni

  2. Elisabeth Murni Elisabeth Murni Juli 2, 2019

    Dulu sempat ketemu bang Adal Bonai, salah satu pejalan yg keliling Indonesia modal nebeng truk. Dia cerita kalau di jalan ketemu pejalan cewek keliling Indonesia motoran, Qied. Lupa tapi siapa namanya. Dan si cewek ini sudah menghabiskan waktu berbulan-bulan di jalan. Mungkin Aqied mau coba motoran ke Sorong guna menyiasati harga tiket? Hihihihi.

    • aqied aqied Post author | Juli 19, 2019

      huwaaaaaaa ku ingin mencoba juga, semoga ada waktu, kesempatan dan kekuatan baik fisik maupun dana. wkwkwkwkwkwkw

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.