Press "Enter" to skip to content

Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Berapa banyak sih dari kita yang mengelola keuangan keluarga dengan terencana?

“Rencana sih selalu ada. mau beli ini itu, tapi uang nya yg gak ada’

“Yaah, penghasilan cuma segini, boro-boro nabung. bisa tahan sampe akhir bulan aja udah syukur”

Seketika saya teringat sebuah caption instagram yang sempat viral dari seorang finansial planner Andhika Diskartes soal Gaji Fresh Graduate, Lifestyle CEO

Oke baik, mari simpan cerita-cerita pilu kita bersama. Pembicaraan soal uang memang bisa jadi menyedihkan, apalagi jika yang diperbincangkan tidak ada. Belum lagi istilah-istilah dan panduan manajemen keuangan yamng seringkali asing dan kelihatan ribet bin rumit. Makin berlipat gandalah kepeningan ini, berujung jadi malas untuk belajar keuangan.

Ibu Berbagi Bijak

Menyadari literasi keuangan pada masyarakat yang masih kurang, Visa, perusahaan pembayaran digital terdepan di dunia, bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia, kembali menggelar program Literasi Keuangan #IbuBerbagiBijak. Program ini  memberikan edukasi manajemen keuangan dengan sasaran perempuan-perempuan Indonesia untuk ebih bijak mengelola keuangan keluarga dan usaha. Untuk di Yogyakarta, peserta kegiatan ini berasal daari pelaku usaha UMKM Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Yogyakarta.

Pelatihan ini diisi langsung oleh pakar perencana keuangan ZAP Finansial yang juga dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, Mbak Prita Hapsari Ghozie. Saya suka sekali penyampaian beliau yang atraktif, dan menggunakan bahasa-bahasa yang mudah. Tak ketinggalan sentilan-sentilan pedas yang bikin kami ketonjok.

Karena segmen dalam pelatihan ini kebanyakan pelaku usaha UMKM, maka Mbak Prita menjelaskan mulai dari bagaimana merencanakan usaha, hingga bagaimana membuat catatan dan laporan keuangan usaha. Gawat kan kalau punya usaha, tapi gak tau gak tau untung atau ruginya, jangan-jangan yang kita jalanin bukan bisnis. Tapi cuma busy-ness, alias sibuk doank cuan kagak.

Walau saya bukan pelaku UMKM, tapi sadar finansial dan bisa merencanakan keuangan pribadi tetap penting banget. Sering kan denger cerita pertemanan yang morat marut perkara uang dan utang. Keluarga yang tak lagi harmonis karena masalah ekonomi. Hingga yang saat ini kian hype, anak muda yang feeds instagramnya penuh senyum, sementara isi rekeningnya menangis. Maka sadar finansial dan piawai merencanakan keuangan ini mutlak menjadi skill wajib siapa pun.

Menuju Keuangan Ideal

Lalu bagaimana caranya untuk bisa mencapai keuangan yang ideal? Mbak Prita Ghozie menjelaskan 3 tahapan yang harus dilakukan agar keuangan kita sehat:

Financial Check Up

Hal pertama yang perlu ditanyakan ke diri kita pribadi adalah:

Sehatkah keuangan saya?

Bagaimana mau mengobati diri sendiri kalau ternyata kita tidaak kenal kondisinya. Untuk memngetahui sehat atau tidaknya keuangan pribadi kita, ada 4 hal yang perlu kita ketahui:

Total Utang/Pinjaman.

Hutang dan pinjam meminjam itu boleh kok. Yang menjadi masalah adalah ketika hutang dan pinjaman ini sudah melebihi kapasitas dan ternyata gak jelas juga peruntukannya. Besar rasio ideal total angsuran terhadap pendapatan adalah 30%. Lebih dari itu? coba evaluasi lagi pinjamannya ini lari ke mana aja.

Kalau ternyata untuk keperluan yang gak perlu-perlu amat, apalagi berbunga besar, berarti keuanganmu mungkin perlu diperiksakan ke ahlinya. Apalagi kalau ternyata hutang untuk gaya hidup, atau karena omongan kanan kiri. Nggak usah lah ya, toh yang nggosipin kamu gak bakal bayar utangmu kok.

Besar Pemasukan dan Pengeluaran per bulan,

Dari mana bisa tau besaran pemasukan dan pengeluaran rutin? Ya dicatat donk sayang. Jangan cuma soibuk mencatat daftar uangmu yang diutangi temen aja. Hitung juga apakah pemasukan dan pengeluaran kita sudah sehat. Kalau tidak tercatat dan terbukti, yang ada selamanya bakal jadi CFA, Chief of Feeling Analyst. Alias ahli perasaan doank.

sambil nunggu tukang somay lewat, juga sempet“perasaan gak belanja apa apa kok uang bulanan kurang terus ya”

“perasaan baru tanggal 8, kok gaji udah habis aja ya”

Saat ini di sudah banyak aplikasi pencatat keuangan yang bisa diinstal di ponsel. Sambil nungguin abang gofood nyampe rumah, daripada update gosipan lambe turah, bisa lah nyatat pengeluaran hari ini. Bahkan sambil antri kasir Mirota Kampus aja bisa sekalian ngetik pengeluaran. Masih mau alesan?

Dana Darurat yang memenuhi,

Loh aku kan bakal gajian tiap bulan, emang perlu ya nyiapin dana darurat sampe 3-6X pengeluaran bulanan?

Gak mau jawab sih, karena jangankan yang sudah berkeluarga atau yang puinya tanggungan. jomlo yang gak punya tanggungan dan gajian turah-turah terus aja tetep butuh lho punya Dana Darurat. Baca alasan-alasannya di pura-pura kerja.

ponsel tiba-tiba mati, beli baru pake Dana Darurat boleh gak ya?

Punya Tabungan dan Investasi

‘yaelah, jangankan nabung. bisa sisa aja udah syukur’

Konon Imam Syafi’ie pernah didatangi seseorang yang mengeluh merasa gaji 5 Dirhamnya perhari dirasa kurang. Oleh Imam Syafi’ie, orang tersebut diminta menurunkan gajinya menjadi 4 Dirham, nmaun rupanya tidak ada perubaha. Hingga kemudian upahnya diturunkan hingga 3 Dirham. Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang.

Jadi, prinsip menabung dan investasi itu memang bukan dilakukan nanti ketika ternyata masih ada sisa. Namun sejak awal pertama kali terima gaji, segera sisihkan untuk tabungan dan investasi. Karena duit sedikit bakal habis, duit banyak pun siapa yang jamin gak bakal habis?

terpekur usai membaca buku tabungan

Bagaimana? sudah selesai membuat financial check up pribadi dan keluarga? Jika sudah selesai dan sudah tau dengan baik kondisi kesehatan keuangan kita, maka waktunya untuk Bijak Mengelola Kas Keluarga dan Usaha. Karena arus kas yang sehat akan mengantarkan pada keuangan yang sehat pula.

siap cantik, gaya dan tetap kaya?

Jika arus kas sudah lancar, mari saatnya bersiap Merencanakan Keuangan. Agar tidak bocor, berikut pos-pos yang harus langsung diisi setiap kali terima gaji: Zakat, Assurance, Present Consumption, Future Spending, dan Investment. Jangan lupa yang kemudian paling penting adalah disiplin dan konsisten dalam mengelola keuangan,

Bagaimana, siap jadi Ibu Bijak?

 

One Comment

  1. Elisabeth Murni Elisabeth Murni September 13, 2019

    Yang paling aku ingat dari kata-kata Mbak Prita “kalau mau jadi pengusaha ya harus mengusahakan sesuatu. jangan cuma diam aja nunggu duit datang” oke noted! Mengusahakan sesuatu. Bergerak!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.