Indonesia dan Ekonominya

Saat ini, sistem perekonomian dunia, khususnya negara kita, Indonesia bisa dikatakan sedang terpuruk. Nilai tukar rupiah yang tidak kunjung menguat, menunjukkan kelemahan daya saing Indonesia di Pasar Global. Mengapa demikian? Sistem Ekonomi yang saat ini diterapkan Indonesia dan banyak negara-negara lain di Dunia adalah sistem ekonomi konvensional, sistem yang dibuat oleh dan untuk manusia yang kurang lebih ditujukan untuk menyejahterakan manusia yang berekonomi kuat atau kaum kapitalis saja. Berbeda dengan sistem ekonomi Islam, yang dengan jelas dan nyata bersumber pada AlQuran dan Hadits. Pembuat sistem ekonomi Islam adalah langsung dari Sang Pemilik Manusia yang sangat mengerti seluk beluk manusia dan memahami apa yang perlu dilakukan manusia untuk mencapai kesejahteraan bersama. Sehingga sangat jelas bahwa sistem ekonomi Islam jika diterapkan dengan benar dan sesuai dengan sumbernya akan membuahkan kesejahteraan yang sebenar-benarnya.

Tidak hanya dari sumbernya, perbedaan lain dalam kedua sistem ekonomi ini terletak pula pada kurva konsumsi. Konsumsi pada sistem ekonomi islam terdapat tambahan untuk zakat, infaq, dan shodaqoh (ZIS). Sesuatu yang tidak ada pada ekonomi konvensional. Terlihat sudah dengan jelas bahwa sistem ekonomi Islam cenderung lebih memperhatikan aspek kesejahteraan bersama dan solidaritas dibanding ekonomi konvensional yang cenderung egois dan berpihak pada kapitalis saja. Padahal, dengan ketertiban zakat, infaq, dan shodaqoh, keharmonisan hubungan antara kaum Muzakki dan Mustahiq pun akan terjaga. Sehingga perilaku menyimpang akibat dorongan ekonomi dapat terminimalisir.

Sayangnya, dari sekian banyak masyarakat muslim Indonesia yang benar-benar memiliki kesadaran untuk tertib membayar zakat dan rajin berinfak masih sedikit. Keinginan untuk menimbun harta sebanyak-banyaknya berbanding lurus dngan keengganan untuk berbagi. Sesuai dengan hukum ekonomi yang menyatakan bahwa keinginan manusia tak terbatas, maka segala cara ditempuh untuk memperbanyak harta. Jika demikian, bagaimana mungkin akan timbul semangat berbagi kalau harta yang didapat saja bukan dari jalur yang halal. Padahal, dengan kemajuan teknologi, telah dibuat cara-cara praktis untuk berzakat. Bahkan kini telah dipraktekkan zakat melalui sms yang jelas memberti kemudahan. Tetapi, hal ini tidak merubah keengganan tersebut.

Permasalahan lain ZIS terletak pada pengalokasian dananya yang cenderung memberi kesejahteraan melalui kemudahan berkonsumsi. Kurang lebih hanya sekedar bantuan sementara dan layanan fasilitas gratis untuk masyarakat kurang mampu. Seperti yang menjadi salah satu produk dalam lembaga-lembaga distributor ZIS di Indonesia, misalnya, ambulance dan mobil jenazah gratis, sekolah gratis,  bantuan korban bencana, dan lain-lain. Fasilitas gratis seperti ini memang sangat membantu golongan Mustahiq. Karena dengan itu, kondisi masyarakat yang terdesak dapat terbantu. Akan tetapi, apakah mereka akan selalu bergantung pada ke’gratis’an tersebut? Sampai kapan?

Masyarakat mampu yang tertib berzakat diketahui jumlahnya tidak banyak sementara kaum miskin yang merasa berhak untuk mendapatkan haknya sangat banyak, hingga akhirnya banyak kaum miskin yang tidak mendapatkan haknya. Sebagaimana yang terjadi pada bulan Ramadhan 1428 H kemarin. Kekhawatiran para penerima zakat akan habisnya zakat yang akan dibagikan kepada mereka menjadikan pembagian zakat menjadi ajang rebutan dan tidak jarang saling sikut dan menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai pesaingnya. Akibatnya, korban yang berjatuhan tidak sedikit. Bahkan ada pula anak kecil yang belum cukup umur   yang pingsan di tempat pembagian zakat. Kondisi seperti ini tidak hanya terjadi di satu titik. Tetapi sebagian besar titik-titik pembagian zakat fitrah di seluruh Indonesia. Menunjukkan bahwa betapa banyak masyarakat Indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan dan merasa sangat terbantu dengan zakat, sampai saling menjatuhkan sesama rekannya.

Ada juga golongan kurang mampu yang lantas menggantungkan diri pada  kebaikan dan kemurahan hati orang lain yang kemudian menyebabkannya menjadi bermalas-malasan. Dengan terbantunya dengan kemurahan hati dan kebaikan orang lain sehingga keinginan untuk menjadi lebih produktif pun makin lama makin menipis dan akhirnya hilang sama sekali. Sebagaimana yang terjadi pada mereka yang hidup dan tinggal bersama di lingkungan masyarakat yang berjiwa sosial tinggi. Dalam kondisi seperti ini, pengalokasian dana ZIS menjadi tidak efektif dan  kurang mendidik kemandirian. Bahkan bisa dikatakan simbiosis parasitisme antara si kaya dan si miskin.

Dengan dana ZIS yang ada, mengapa tidak dicoba untuk mendidik kemandirian dan produktifitas mereka saja?

Kendala yang seringkali dianggap menghalangi produktifitas golongan tidak mampu terletak pada masalah finansial. Sulitnya mendapatkan bantuan untuk suntikan modal menyebabkan usaha kecil dan keinginan untuk mandiri menjadi terhenti. Pinjaman lunak yang bisa digunakan untuk mempermudah pengembangan usaha mandirinya tidak mudah untuk didapat. Kesulitan seperti ini tidak jarang menenggelamkan kembali semangat untuk mandiri dan akhirnya kembali menggantungkan diri pada fasilitas gratis dan  bantuan-bantuan dari pihak lain. Akibatnya, golongan seperti ini statis dalam kondisi sulit mereka. Dalam situasi seperti inilah ZIS dapat menjadi solusi.

Bagaimana agar dana ZIS dapat menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya sekedar memberi kesejahteraan yang sifatnya sementara saja. Dengan ini masyarakat tidak mampu pun menjadi terbantu secara jangka panjang pula. Dalam kasus ini, bantuan untuk modal dan biaya operasional dalam bentuk pinjaman lunak atau bantuan cuma-cuma khusus rakyat miskin, dapat menjadi pemicu kaum tidak mampu untuk bangkit dan keluar dari kesulitan finansialnya. Dengan pengalokasian yang seperti ini, kaum tidak mampu menjadi lebih produktif dan mandiri serta terangkat derajat sosialnya. Tidak hanya itu, kaum papa juga semakin terlatih untuk menjadi enterpreneur.

Dengan adanya sistem seperti ini, pengusaha kecil bahkan yang paling kecil sekalipun dapat mengembangkan ketrampilan dan usahanya tanpa khawatir menghadapi kendala finansial. Dan penghasilan tetap yang didapat, sedikit banyak akan membantu masyarakat tidak mampu.

Permasalahan yang mungkin akan timbul adalah, kemungkinan penyalahgunaan bantuan ini untuk tujuan yang tidak sesuai. Untuk itu, dari awal transaksi, perlu diadakannya perjanjian bahwa dana yang akan diberikan tersebut benar-benar untuk sebuah usaha dengan pengembalian dapat diangsur atau dibayar kembali tunai melalui hasil keuntungan dari usaha yang dijalankannya tersebut.

Sistem ini telah terbukti berhasil mengentaskan masyarakat miskin dan meningkatkan kemandirian sebagaimana yang terjadi di Bangladesh. Muhammad Yunus, dengan…………… bank nya, mampu mengangkat masyarakat miskin menjadi lebih produktif. Dari situlah Beliau mendapat penghargaan Nobel tahun 2006. karena dengan bantuan modal lunaknya untuk membiayai masyarakat miskin, dalam kasus ini kebanyakan wanita, ribuan anak-anak tidak mampu dapat menikmati bangku pendidikan. Banyak kaum wanita atau para ibu menjadi produktif dan terlatih untuk  menjadi enterpreneur. Problem kemiskinan pun dapat terpecahkan.

Bagaimana dengan Indonesia????????????

pORsi LebiH…………!!!!

Hamasah yng sunYi………….

13 Agustus 2008

22.44 Waktu Komputerku

Aku gak tau, suasana hatiku sekarang sperti apa………..

Tapi aku ga biSa mbohongi, sebagai manusia, tak ada yang mampu berlaku ADIL……………….

Ada porsi tertentu tuk hal istimewa……..

Experience is the best teacher

Aku percaya ungkapan itu………………

Tapi bagaimana, jika yang dihadapi adalah hal baru bagi personal………..????

Hidup ini semakin kompleks.,

Ku gak bisa nutup mata melihat kenyataan yang sekarang ini,,,,

Yang kupikir, dan kuresapi pun tak lagi sama dengan sebelumnya………….

Peresapan ini mulai mendapat perhatian sejak ku mendengar sendiri, sebuah topik yang banyak menjadi kontoversi berbagai pihak…..

Awalnya aku gak ngira kalau sebuah Fakta seperti ini yang akan berbicara…

Sampai akhirnya aku sadar, , ,

Dihadapkannya aku dengan berbagai keberagaman ini, mengikis ke’Tak percayaan’ku sebelumnya………

But it’s OK……!

Sampai kini…………

Seharusnya setelah aku pelajari, aku dapat menentukan sikap yang baik Saat menyambut kehadirannya………….

Tidak seperti saat ini….

Saat Ia hadir,,,

Tak ada alasan pasti dan rasional mengapa harus dua yang muncul….

Awalnya aku gak sadar,,,

Dan tak mau mengakui kehadirannya

Tak cukup dengan itu, aku berusaha mencari deSinfektan terbaik tuk lenyapkan kehadirannya…………

Sampai ia tak lagi semu………….

Tak lagi maya………

Tak lagi bayang-bayang belaka………….

Namun ku tak (belum) mampu…………..

Porsi istimewa, menjadi nYata…………

Materi dan kata yang tersia-siakan menjadi kebutuhan, dan ketika terhenti, porsi Lebih tuk kekhawatiran menanjak…………

kesempaTan LangKa yang sempat diharapkan, tak lagi terjadi. Bahkan terlewatkan…………..

nada Aneh yang menjadi Indah saat penampakannya….

Bahkan tuk sekedar meyakinkan saTu WuJud pun, aku tak mampu………

Sekedar menjadi penonton, aku tak punya kesempatan…..

Tapi……………..

Berulank kali aku coba tuk men-delete………

Bertanya pada hati-ku…

Kenapa….????????????

…………………………………………………………………………………….????

Porsi ini tak Lagi fiktif…….

Penantian tampilnya kata tak terucap, walaupun tak penting, menjadi rutinitas permulaan hari………

Merasa ada yang kurang bila tanpanya……………

Walau sangat sedikit kata yang terucap, , , ,

Kata tak terucap itu sudah cukup tuk sebuah penerbangan……….

Kesempatan itu selalu ada dan wujudnya nyata……….

Kalau kau Tanya, Analisis SWOT apa yang mnejadikannya memiliki porsi lebih…?

Aku tak Tahu………………

Yang aku Tau, keduanya mungkin lebih berpotensi tuk merakit TNT atau menguasai Air dan robohkanku………………

Aku tak tahu, apa NAMA hal isitimewa ini,,,,

Yang aku tau, ada porsi lebih dalam Hatiku……..

Dan aku gak bisa bohongi itu……….,,,,,,,,,

23.24 waktu Komputer ini

iT'S ovEr………..!!!

Yupz….

Dia sLalu dateng terakhir……

sTela nJalanin…..

baru ada keSadaran n SesaL yang menyEruak…………

dan sTiap Langkah awaL adalah Penentuan

so, jangan Sampe ngambiL langKah awaL yang saLah……..!

ni sbuah WARNING yang berlaku buat sapa aja

hari itu,

gak ada yang salah sebenarnya…

hanya saja, ternyata memang benteng ini gak cukup Kuat

hingga ketika tiba saatnya ia diterjang, tak mampu tuk bertahan pertahanan utama yang selama ini berasa membanggakan,

ternyata gak ada apa-apanya…

benteng itu terlalu rapuh

bahkan hanya tuk satu deburan ombak saja…

tak perlu pake TNT apalagi Tsunami…..

disentil dikit aja udah roboh………..

bermula dari beberapa bulan lalu, sebuah pernyataan tak terungkap dimaksudkan tuk perbaikan diri….

namun, apa daya

medan magnet lain menarik jauh lebih kuat

hingga ia tak kuasa berdiri tegap…..

T_T”

Mungkin, memang tiada kata ‘merasa cukup’ dalam berbuat kebaikan…..

Tiada garis Finish tuk sebuah perbaikan

Bagaimana tidak………….

Yang diAtas tak pernah memberi Limit tertentu tuk berbuat baik, ataupun menjadi lebih baik…

Dan Hari itu, menjadi bukti

Akhir dari rasa bangga, merasa sudah cukup memperbaiki diri, sampai kemudian trjerumus dan GaGal lagi…..

Gak ada yang bisa dibanggakan, karna memang yang dilakukan sebelumnya adalah “NOTHING” belum ada apa-apanya……….

Hari-hari yang lalu, ke-nyarisan-kenyarisan muncul berganti-ganti………

Bagai deburan ombak lembut membelai benteng rapuh……….

Tentu saja benteng itu masih terlihat kokoh, setidaknya untuk saat itu….

Dan Rasa Bangga itu, terlalu tinggi…

Seakan menang berhadapan dengan Tsunami……..

Huh……!

SUNGGUH MEMALUKAN…….!

Dan Terbukti,

saat pertahanan iTu RUNTUH, RONTOK, GAGAL, dan BERAKHIR…..

iTs OVER………….!

HanCur oleh kegeLapan dan keLeLahan…..

Tapi di ToPengi dengan BELAS KASIHAN……….!!!

Apa-Apaan iTu….???????

Bukannya memPerbaiki, maLah menyaLahkan keadaan yang gaK ada Hubungannya………….!!!!!

Mana BenTeng Yang membanggakan?

Mana benteng Kokoh?

Mana Pertahanan TingkaT tinggi??

Apa sih yang KAU PUNYA………..????

Apa sih Yang bisa Kau Banggakan??????

Gak Ada………..!?

MEMALUkAN…..!!!!

aQ Gak DoYan VIP……………

siang ini panas,,,

seharusnya gak ngeluh…………..
panas dunia kan gak ada apa2nya ma di akhirat ntar…???

kalo di pikir2, stelah aku renungi…
ada satu tiket VIP yang paling aku takutin…………

padahal biasanya kalo gy panas2 gini, tempat istirahat paling enak tuuh ya di ruangan VIP.

naik kendaraan pun kalo duid mencukupi, and pengen nyaman ya nyarinya yang VIP.

tapi emang VIP yang ini paling nakutin

smOga aja Q gak PErnAh Punya apalagi Berkesempatan

Yupz………..
tiket buat Neraka VIP.
Bayangin dah,,
fasilitasnya lengkap banget:

  • Gak pake antri, langsung masuk
  • Ruangan Luas,
  • Pemanas ruangan paling Tinggi
  • Pelayanan Maksimal dari malaikat Maut
  • bareng artis2 terkenal
  • and masih bayak lagi fasilitas lainny

hmmm………….
fasilitas maximum yang ikin keder…………..

makanya, dari skarang aQ pengen nyicil buat beli tiket Surga. yang Ekononomi aja gak masYalah…………
yang penting judulnya SURGA

bahkan, seumpama gak dapet or kehabisan, bagasinya surga pun aku rela dah
dari pada dapet neraka, VIP lagi…………..

tapi kan buat itu gak gampang, aQ kudu banyak2 belajar and beramal biar bisa ngerjain soal2 ujian akhirat.

Aq tau kok, kalo soal akhirat tuh udah BOCOR dari jaman dulu, tapi tetep aja banyak yang gak lulus………….

makanya, Qt kudu bbelajarnya yang bener2, gak stengah2 buat dapetin tiket surga…………….

ya,,,,,,,,,,,,,,

moga aja Qt bakal ketemu di Surga nTar………………..

AMIEN>………………

Mahasiswa, kini dan akan datang

Siapa yang tidak kenal dengan mahasiswa…
Siapa pula yang tidak tahu sepak terjang mahasiswa….?
Sejak zaman kemerdekaan, reformasi hingga sekarang, mahasiswa telah menjadi “kritikus ulung” pada wajah perpolitikan Indonesia. Tidak sedikit ‘nasehat” yang dilontarkan oleh mahasiswa, mampu memerahkan kuping para pejabat. Tidak sedikit pula perubahan yang diawali oleh “rajukan’ yang diajukan rekan-rekan mahasiswa.
Lihat saja tragedy “Mei 1998”. Masa runtuhnya rezim jendral besar soeharto (alm). Turunnya presiden yang telah berkuasa 3 dekade lamanya, tidak lain dan tidak bukan, ada campur tangan mahasiswa juga ‘auditor publik’, mungkin itulah mahasiswa.
Sebagai penasehat setia pemerintahan, setiap langkah pemerintah yang dinilai tidak adil, langsung dikritisi. tidak tanggung-tanggung, dengan menghadirkan banyak massa. mungkin setiap gerak-gerik pejabat, tidak ada yang luput dari pengamatan mahasiswa. Saking amanahnya menjalankan tugas sebagai “penasehat sukrela”, sebagian pejabat atau orang-orang ‘berdasi” merasa kebal dengan kritikan. Tetapi, hal ini tidak menjadi hambatan bagi kawan-kawan mahasiswa. Bahkan, makin hari semakin bermunculan aktivis-aktivis yang menyuarakan aspirasinya atas nama rakyat Indonesia.
Kelahiran aktivis-aktivis tersebut seperti tak terbendung. Dari berbagai kampus, dengan basic apapun. Selama kebijakan pemerintah dinilai belum “bijak”, penasehat sukarela inipun takkan berhenti memberi nasehat. Dengan cara apapun…. Sebuah pendapat dari kawan mahasiswa mengatakan, ‘Mahasiswa sebagai agen perubahan, begitulah identitas yang selayaknya terus mengakar dalam diri mahasiswa. Mereka ada untuk menjadikan perubahan. Mereka ada untuk memberikan perbaikan. Mereka ada untuk masyarakat yang sejahtera secara adil dan merata, serta untuk Indonesia yang lebih baik.apalagi,’ mahasiswa adalahh generasi muda penerus bangsa. Mungkin karena inilah, yang menjadikan mahasiswa merasa terpanggil untuk berperan serta dalam membangun Indonesia yang lebih baik.
Hal ini tentu membanggakan. Bagaimana tidak, jika nantinya, pemerintahan akan diteruskan oleh mantan “penasehat sukarela” yang kini, saat masih mahasiswa, gemar menyuarakan keadilan. Berarti, beberapa tahun lagi, Negara akan menjadi lebih baik sebagaimana yang disuarakannya saat ini.
Benarkah…………?
Kenyataannya, saat inipun kondisi Negara kita masih carut marut. Padahal, tidak sedikit mantan aktivis mahasiswa yang dulunya mengkritik pemerintah yang kini duduk di pemerintahan.
Bahkan ada juga pelaku korup dan tindak penyelewengan lain, dilakukan oleh mantan aktivis. Mungkin godaan dalam pemerintahan sangat besar. Atau, menjadi praktisi tidak semudah saat mengkritisi. Sehinngga akhirnya, dari idealisme awal yang lurus, mulai sedikit membelok, dan akhirnya melenceng sama sekali. Akibatnya, seperti yang kita lihat saat ini, mantan aktivis yang sudah menikmati empuknya kursi ‘berharga’ sudah lupa dengan apa yang pernah disuarakannya.
Akankah generasi kita menjadi seperti itu…………?
Semoga aktivis mahasiswa saat ini, tidak mudah pikun dengan apa yang pernah disuarakannya setelah menduduki “kursi panas” pemerintahan dan siap untuk di “nasehati” oleh “penasehat sukarela” yang baru.
Alangkah indahnya jika hal itu akan terlaksana esok.
Semoga…!!!!
HamaSah yang sunYi
Jogjakarta, 1 March 2008 01:24 AM