#EidFitri

image

Loc. Depan Joglo Abang saat event Blogger Nusantara 2013

Ramadhan telah usai.
Luluskah kita?
Akankah 11 bulan ke depan dapat kita amalkan nilai nilai Ramadhan yang baru saja lalu?
Menahan diri dari amarah, bergosip, menggunjing, berbohong, dan lainnya.
Senantiasa berlomba untuk memperbaiki kualitas amal.

Semoga 11 bulan ke depan cukup untuk kita memperbaiki diri, sehingga berjumpa kembali dengan Ramadhan, dalam keadaan lebih baik.

Mohon maaf atas segala kesalahan selama berkomunikasi dengan rekan2 blogger dan reader. Salah yang disengaja, tak sengaja, dalam posting, dalam komen, dalam interaksi, dan segalanya.

Berkenan memaafkan saya?

Judulin Apa Ya?

” Salah satu peristiwa penting di bulan Ramadan perpindahan kiblat ke masjidilharam,
pada awal Ramadan memang
umat Islam berkiblat ke masjidilharam tapi menjelang akhir Ramadan sebagian berkiblat
ke pasar pasar, super market, toko toko, Bank-bank, pegadaian,agen tiket dan tempat tempat lain yang sejenis.
ini kejadian rutin tahunan.
Apakah kita juga akan berpaling dari masjidilharam….???
Berkiblat kemana yang lebih menguntungkan….?
Masih ragukah kita untuk serius dan istiqomah berkiblat kemasjidilharam kapan dan dimana saja kita berada……!!!!?

Copas dari status akun facebook bapak saya.

image

Jogja masih basah pagi ini, Ramadhan tinggal menyisakan 2 hari.

Kalau sudah waktunya

image

“Jangan terlalu dipikirkan sudah berapa lama kamu tidak melakukan perjalanan. itu tandanya kamu sedang diberi kesempatan utk menikmati masa-masa rileks ,kalau sudah waktunya, perjalanan akan menghampiri kamu….”

Demikian kata Mas Hilman di kolom komentar saat saya posting tentang betapa saya rindu melakukan sebuah perjalanan.

Mungkin memang raga sesekali perlu berhenti bergerak banyak, atau berjalan jauh. sesekali bersembunyi dari matahari.

Karna mungkin di salah satu sudut bumi sana, ad tempat yang menanti untuk dikunjungi, tapi tidak dulu untuk sekarang.

image

Jalan panjang menembus langit

*berbicara pada diri sendiri, jika nanti mesti rehat sejenak dari perjalanan menilik kuasa Tangan Tuhan di sisi lain bumi ini.

Aku cinta saat ini, entah esok

 

Teman Perjalanan

Teman Perjalanan

Saya suka perjalanan, setidaknya sampai saat ini.

Bagian penting dari jalan-jalan yang justru bisa kasih kesan dan pelajaran lebih dalam menurut saya, ada di proses perjalananya itu.

“kalo cuma pantai aja, di Jogja juga banyaak”

Demikian komentar seorang kawan saat saya memutuskan ke Pahawang, Lampung hanya untuk ketemu laut.

“ke Dieng naik motor? Niat amat sih”,

Salah satu komentar kawan lain saat saya bersepeda motor Jogja-Dieng PP dalam sehari.

Bagi saya, jalan-jalan bukan sekedar sampai di destinasi tujuan, berfoto narsis di landmark, share foto di social media, berbelanja oleh-oleh, kemudian pulang. Jalan-jalan saya memang standard dan ublek di situ-situ aja. Namun saya selalu berusaha menikmati setiap proses perjalanan dari setiap jalan-jalan saya.

Perjalanan memberi lebih banyak kesan dan pelajaran dibanding foto narsis yang dipamerkan di sosmed, atau narasi seru dan (mungkin) lebay di blog. Pelajaran yang sifatnya mungkin sangat personal, sehingga sulit untuk dijabarkan atau di share dalam bentuk gambar maupun tulisan. mungkin Tuhan memang tidak menciptakan Pintu Kemana Saja ala Doraemon di dunia, agar kita lebih banyak belajar dari sebuah perjalanan.

Saya mencintai perjalanan pulang pergi kantor saya saat harus bertatap muka langsung dengan matahari, saat mungkin harus berkawan kantuk dan lelah.

Saya mencintai perjalanan berkereta ekonomi dengan segala keunikan dan ramai nya yang ternyata saya rindukan ketika berkereta kelas lain.

Saya mencintai perjalanan sebagai penumpang bus malam dengan berbagai cerita kawan duduk saya, dengan berbagai atraksi unik supir bus yang seringkali memperbanyak dzikir saya.

Saya mencintai saat-saat harus duduk bengong atau mondar-mandir gak jelas di terminal, stasiun, hingga airport.

Saya mencintai perjalanan beramai-ramai dengan kawan sendiri. Saya juga mencintai perjalanan beramai-ramai dengan orang-orang yang baru kenal. Namun ada kalanya saya pun mencintai perjalanan sendiri, merenung dan bertindak sesukanya.

Saya mencintai perjalanan yang terjadwal dan terencana dengan jelas dan detail. Namun ada kalanya saya mencintai perjalanan tanpa rencana dan membiarkan kemana kaki melangkah untuk kemudian menemukan berbagai kejutan-kejutan.

Mungkin karena saya belum banyak melakukan perjalanan, hingga saat ini saya masih mencintai perjalanan. Entah esok hari, entah lusa nanti.

Jadi apakah kamu mau menambah daftar perjalanan saya?*

kapan kita kemana?

kapan kita kemana?

*baca: terima gratisan tiket kemana aja. kemudian ditimpuk sandal

Aku Rapopo Meski Rodho' Popo

“Hidupmu enak banget ya, Qid”
“Makan enak terus nih”
“Wow jalan jalan lagi?”
“Main mulu sih, Qid”
“Kaya Aqid tu loh, hidupnya enak banget

image

Area leyeh leyeh bukan area galau, kakaak

Sejak beberapa lama saya makin lama makin kebal dengan anggapan-anggapan seperti itu. Terutama jika yang berkomentar mereka-mereka yang tidak dekat atau tidak mengenal saya seutuhnya. Atau sudah lamaa tidak kontak dengan saya secara pribadi, dan cuma menilai saya dari sosmed ajeh.
Yap, saya memang rada rada ketegantungan sama sosial media. Mungkin karena makin lama rekan rekan dunia nyata saya makin menyebar ke segala penjuru. Mungkin juga karena saya sering di pelosok yang belum banyak punya temen main. Mungkin saya memang ad bakat narsis. Mungkin juga bukan semuanya. Tapi intinya, paling nggak ada beberapa akun sosial media yang cukup lumayan selalu ada update setiap harinya. Seperti instagram, twitter, dan facebook (khusus yg trakhir lebih sering hasil share dr instagram/blog aja).
Saya pikir, mungkin masi banyak atau ada yang selama ini mengira apa yang ada di sosial media bisa menggambarkan seutuhnya si pemilik sosial media tersebut.
Ada yang setuju?
Baiklah, saya sih gak setuju 100%, tapi gak bantah 100% juga.
Buat saya, setiap orang itu berbeda-beda. Tujuan setiap orang ber sosmed juga berbeda-beda.
Ada yang memang menampilkan dirinya seutuhnya apa adanya positif negatif di sosmednya. Apapun tentang dirinya disampaikan di sosmed.
Ada yang pencitraan di sosmed dengan menampilkan semua yang positif saja di sosmednya.
Ada yang emang suka pamer dan sosmed bisa ndukung banget hobi pamernya.
Ada yang jadiin sosmed sebagai ganti dinding ratapan dan buku hariannya sehingga cuma curhat aja semacam dirinya org paling menderita di dunia.
Ada yang tujuannya menjaring sebanyak-banyaknya downline di MLM dia (yg ini biasanya suka saya unsubscribe kalo di Fb).
Dan masih banyak lagi. Termasuk alasanmu mungkin belum termasuk yang saya sebutin.

Saya termasuk pengguna sosmed yang seperti kebanyakan. Kadang suka share hal hal gak penting. Semacam makan apa dimana. Kadang suka share  lagi dimana dan ngapain. Kadang share lagi kepengen apa. Kadang curcol aja pemikiran saya yg kalo kelamaan ngedon di kepala doank, nyumpek2in.

Saya termasuk yang mana?

Ada macam macam sosmed itu berarti memang masing-masing saat dibuatnya punya tujuan sendiri. Saya gak bisa nyamain twitteran dengan facebook. Gak bisa juga saya jadiin instagram seperti path. Begitu pula sebaliknya.

Di facebook, saya jarang update status di wall saya sendiri. Dulu mungkin iya. Saat ini wall facebook saya lebih banyak berisi hasil share dr upload foto instagram dan update blog aja, meski hampir tiap hari saya buka facebook. Saya lebih memanfaatkan facebook sebagai komunikasi. Terutama di group-group yang saya ikuti. Hingga sekarang sih saya lihat group facebook cukup bisa kasih informasi dan sarana komunikasi yang lebih jelas. Masih banyak juga komunitas yang komunikasi dunia maya nya di group facebook.
Selain itu juga bisa menemukan teman teman yang sempat lost contact. Jadi hingga sekarang sih akun facebook saya masih terawat. Kadang bingung juga sih meski (sepertinya) sudah cukup selektif buat nge add ataupun approve friend, masih suka bingung sendiri dan merasa gak kenal sama yg sudah jd friend. Kalo males malah friend request saya biarin numpuk.
Karena friend saya lumayan luas di dunia facebook, saya tidak banyak nyampah status dan curhat atau apapun yang negatif dan potensi nyumpek2in halaman muka friends saya. Itulah kenapa yang di share disana kebanyalan hanya foto dr instagram.

Instagram, sejak punya akunnya di 2012 (telat banget), saya sudah posting macem macem. Dengan jumlah follower yang gak sebanyak friend facebook, saya jd lebih enteng aja post sana sini. Saya posting mulai dr foto serangga, makanan, lokasi-lokasi yang saya datangi, hasil jepret asal saya thd objek tertentu, kadang2 juga selfie. Kadang dari sini juga yang pd menyimpulkan sendiri.
Misal, foto makanan yang saya upload memang biasanya yg terlihat menarik. Saya juga gak suka upload foto rombongan seabrek sekali upload. Takut nyumpek2i halaman home follower saya. Jd misal sekali makan di mana, punya foto berapa. Saya uploadnya bisa smp beberapa hari. Begitu juga jenis-jenis foto lainnya.

Twitter mungkin jadi sosmed yang paling berisik. Sesuai namanya, saya cukup sering berkicau disini. Isi twit saya kebanyakan berasal dr apa yang saya lihat, dengar dan rasakan.
Dulu saat masih diatara nganggur dan kuliah (statusnya garap skripsi tp gak digara). Saya  rajin baca koran dr halaman depan sampai belakang, tau dan update acara tv, mulai dr musik, semua siaran berita, ftv, film, de el el. Jd saya bisa ngetwit sesuai update apa di media hari itu. Sekarang sih lebih banyak gak mutu. Semakin sedikit halaman koran yg saya baca, portal berita yg saya kepo, dan tipi yang jarang nyala.

Baru kemarin saya ditanya Ibu kenapa April lalu saya sampai kehilangan berat badan cukup banyak. Ya saya ceritain donk kenapa kenapa nya. Komentar Ibu
“Tapi status twitter dan blog kamu gak kelihatan kalo knapa knapa”.

Saya sih mikirnya, apa pantas saya berkeluh kesah pada dunia. Mengumumkan ke khalayak ramai kalau saya lagi susah. Seakan akan saya org paling merana di dunia. Sementara di luar sana masih banyak sekali mereka yang jauh tidak lebih beruntung dari saya, namun mampu bersyukur lebih baik dari saya.

image

Instagramming in a beach. Tanjung Papuma, Jatim

Yes. Aku rapopo meski sebenarnya aku rodo’ popo.

Bisa Bahasa Apa?

Saya bukan pakar bahasa. Tau banget lah baca blog saya ini bahasa indonesianya aja masih gak benernya lebih banyak dr yang bener. Bahasa lisan (gak bahas bahasa tubuh, bahasa kalbu, dan semacamnya ya) yang pernah saya kenal ada beberapa. Dan setelah saya renungi di malam yang sunyi dan bertanya pada bintang dan rumput yang diam (lebaaaayyy, kemudian di skip gajadi pada baca), ternyata saya gak menguasai satu pun bahasa yang ada di dunia ini, pemirsaaah.

1. Bahasa Indonesia
Tau program acara TV yang namanya “BINAR” alias Bahasa Indonesia Yang Benar? Gak tau? Kudeeet…..!!
Oke sip. Jd acara ini ngasitau gitu gimana bahasa kita nih bahasa yang diperjuangkan para pemuda di Sumpah Pemuda yang BENAR.
Apa hasilnya setelah gak sengaja nonton? Saya semakin menyadari betapa saya pun tidak berbahasa negri sendiri dengan benar
Sejak SD saya gak suka pelajaran Bahasa Indonesia. Berlanjut sampai seterusnya. Saya suka nya di buku pelajaran ada review novel ato cerpen2 lama aja. Lainnya gak suka. Kacau lah saya.
Di ponsel saya install aplikasi KBBI, setidaknya bisa menyadarkan saya bahasa negri sendiri.

2. Bahasa Inggris
Kenal bahasa ini sejak kecil kali ya. Di TV dan segala alat elektronik kan ada ON dan OFF. Nah dua kata itu doank yg saya tau. Hihihi.
Mulai dapet pelajaran bahasa inggris pas SD di Papua. Kelas 3 SD. Lumayan pas SMP ud tau dikit2.
Berhubung SMP nya di asrama yang salah satunya pake bahasa ini, mau gak mau belajar deh. Dilanjutin pas SMA kelas 2, saya merintis karir dg ditunjuk jadi salah satu Tim di Lembaga Bahasa. Otomatis saya kudu lebih sok cas cis cus dibanding yang lain.
Kerjaan saya sih dulu bikin pentas berbahasa asing, lomba2 pidato, baca berita, siaran, drama, opera, bikin majalah dinding, bikin artikel yang semuanya berbahasa asing. Keren banget kedengarannya. Itu kerjaan yang paling gampang sih. Secara kerjaan di Lembaga Bahasa yang lain lebih ribeeet n rutin harian/mingguan. Kalo lomba n pentas kan insidental.
Trus pas kuliah, masa2 skripsi saya juga sempet ikutan Kursus Ekstensi Bahasa Inggris di salah satu kampus. Lumayan banget bisa sampe 3 semester (gak sampe lulus, hiks). Pengajarnya juga oke2 beud. Selain itu mungkin karna langganan TJP jg kali ya jadi familiar sama bahasa ini. Sayangnya karna harga TJP mahiil untuk kantong saya waktu itu dan lebih sering cm dibaca beberapa halaman, akhirnya di stop.
Skarang berhubung ud sekian tahun gak dipraktekkin, skrg mulai ngah ngoh lagi deh sama nih bahasa. Mulai gak nyambung dan gak ngerti kalo pke bahasa londo ini. Hiks

3. Bahasa Arab
Kenal bahasa ini juga pas SD. Di asrama yang bapakku pengasuhnya, kalo malam gitu kadang ada materi bahasa arab yang dikasih buat mas mas di asrama. Saya kan keponya jadi suka sok sok an dengerin. Padahal mana saya ngerti.
Kelas 3 (atau 4 ya? Lupa). Sekolahan saya juga mulai ada pelajaran resmi nya. Tapi ya saya nya aja yg gak ngerti2. Untung salah satu mas mas di asrama ad yang lulusan LIP*A jekardah. Jd bisa konsult PR-PR gituh. Alhasil nilai saya bagus bagus donk. Hehe
SMP, seperti di bagian bahasa inggris, bahasa Arab ini juga mulai saya pakai buat percakapan sehari2. Walaupun kalo secara nahwu-sharaf (grammar lah ya kalo di inggris), hancur lebur berantakan. Yang penting mah asal bunyi nya arab gitu.
SMA mulai jaim donk, apalagi saya pegang Lembaga Bahasa. Jd bahasa sata harus kelihatan lebih bagus.
Mulai familiar dan cukup lancar juga coba coba baca majalah bahasa sana. Jaman itu belom bisa seenaknya cari terjemah pake smartphone. Yg bisa cuma di scan tulisannya aja langsung keluar artiny. Jaman segitu kalo gak ngerti kudu buka kamus. Dan cara buka kamusnya Bahasa Arab tuh gak sembarangan men. Kudu tau kata dasarnya. So kudu tau juga tuh kata yg kita cari apakah kata dasar, turunan, atau sudah berimbuhan. Ribet lah
Sekarang? Huft lebih parah lagi. Pernah teman saya pulang dari mesir ngoleh2in buku. Tentang pengelolaan keuangan sebenarnya. Masih bidang saya kan yah.
Setengah mati banget saya bacanya. Pengantar sama daftar isinya aja saya sampai berjam jam, masi dibantu translator. Huft

image

Ini nih bukunya. Ekonomi Rumah Tangga Muslim gitu lah kira2 judulnya

Sempet sih punya temen yg bisa diajak chat pke arab. Tapi lama lama saya nya yg males mikir dan gak paham paham. Parah saya nih

4. Bahasa Daerah
Aselik, dari semua bahasa bahasa di atas, ini yang paling sulit. Bahasa Jawa dengan berbagai tingkatannya bagi saya bahasa paling rumit di dunia. Apalagi tulisannya.
Meski saya cuma gak di pulau jawa selama 7 tahun, tetep bahasa jawa saya masih sulit sekali. Sekarang sih mending ya, bahasa jawa tengah saya masih bisa jawab dikit dikit. Paling nggak mulai paham sama yang disampaikan lawan bicara, meski saya gak selalu bisa jawab dengan bahasa yg sama.
Pernah di Jawa Timur dan saya mesti bersinggungan dengan bahasa Jawa Timur yang ternyata cukup banyak berbeda denga  JaTeng. Tapi masih lumayan lah ada yang familiar dan nyantol2 dikit. Yang susah kalo udah Madura. Huft ini saya gak ngerti sama sekali. Dek remaaaaaakkk…
Sunda juga termasuk bahasa yang cukup tidak terlalu asing bagi saya. Meski gak ngerti juga, tapi bukan bahasa yang aneh. Saya sempat berkawan banyak orang sunda. Sekarang pun salah satu teman dekat saya juga org sunda. Familiar sama bahasanya tapi maknanya ya gak ngerti juga. Eta teh sami wae atuh kagak ngarti.

5. Papua
Eet dah. Kenapa juga papua dibikin poin sendiri yak?. Hehe gapapa donk ya. Yg poin bahasa daerah itu biarlah untuk bahasa2 di pulau jawa.
Kecil di papua membuat saya sampai sekarang lanciiir berbahasa indonesia ala papua. Asik aja dan kerasa lebih ekapressif gitu. Juga lebih singkat karna banyak suku kata yang diirit.
Contoh : “Ko Pi Sana”–> “Kau Pergi (aja) ke sana”
Contoh : “sa su tra tau lai” –> “saya sudah tidak tahu lagi”

Sebagian bahasa daerah lain sih sudah saya dengar ya. Semacam Aceh, Batak, Minang, Melayu, Bengkulu, Palembang, Bangka, Sunda-Jawa, Bali, Banjarmasin, Bugis, Ambon, Nusra, de el el. Tapi masih sangat jarang dan gak ngerti jugaa. Hahahha

Jadi kesimpulannya, ternyata saya ini gak menguasai bahasa satu pun. Ada yang mau kasih kursus atau kasih semangat saya buat menekuni salah satu atau sebagian atau semua bahasa-bahasa di atas?

"Sama Siapa?"

Well, pertanyaan itu mungkin sebenarnya standar dan belom masuk ke ranah kepo tingkat tinggi. Kadang sekedar basa basi aja di awal obrolan.
Tapi..
Tapi..
Tapi..
Kadang gak se sederhana itu pemirsaaah….
Dalam beberapa hal, kadang saya memang lebih suka sendiri. Rame rame memang asyik. Saya juga suka. Tapiii ya itu tadi. Ada hal hal yang memang kita tuh pengen sendiri.
Cuma nih kenapa ya walopun saya suka suka aja, kalo dikasih pertanyaan itu pas lagi sendiri, kesannya jadi gak enak.
Misal nih saya itu kalo jumat sore kadang suka gak langsung pulang ke rumah. Bisa ngopi2 cantik, bisa nongkrong dimanaa gitu sambil bawa buku. Bisa juga keliling emol ato bookstore kalo emang lagi ad yg dicari. Sesekali (tapi jarang), sengaja nyasar2 kemanaa gitu buat dpt view view bagus.
Tau gak doa saya sebelum mampir2 kaya gitu? Simple:
Semoga aku gak ketemu org yg kenal aku”
Beberapa kali sih ngerasa ad yg rusak aja gitu ketika lagi asyik2nya menikmati jelang weekend, tiba2 disapa org trus nanyain pertanyaan di judul. Pertanyaan yg ujung2ny cm bisa saya jawab dg nyengir
“Sendiri”
Respon? Rata rata sama:
“Beneran sendiri?” –> sambil matanya celingukan nyaritau siapa tau saya ngumpetin
“Ha? Sendiri?” –> tatapan prihatin semacam saya ini tdk punya teman
“Lho koq sendiri?”


“Berani sendiri?”
“Appaaaah….???!!!” Zoom in zoom out <– ini sih adegan sinetron lebay.

Sumprit deh, sesimple itu tanggapannya sudah merusah jumat sore saya yg indah.

Jumat sore doank? Enggak lagi.

Sering saya ke tempat tempat yg saya suka atau yg saya lagi pengen asyik sendiri, ya saya berangkat. Kalo pengen selfie ya foto2 sendiri. Ada kan ya menu self timer di kamera pocket pun. Mau ke gunung2, blusukan pasar, jalan2 geje ato ngemol, nonton, nongkrong kalo lagi pengen sendiri ya jalan aja.
Itu semua case nya saya memang ke tempat2 yg potensi ketemu org yg saya kenal sedikit ya.

Pertanyaan itu kadang sudah saya bayangkan kalo saya harus ke tempat2 yg pasti ketemu org2 yg saya kenal. Misal bertamu (bisa tengok baby,  tengok og sakit, rumah baru, ato jenis2 bertamu lainnya) yg saya berangkat sendiri. Kadang kan susah ya nyamain jadwal sama temen. Jd selagi saya bisa ya saya jalan aja.

Atau menghadiri pertemuan. Saya sejak kuliah rajin banget daftar training, workshop, seminar, sarasehan, dan segala forum umum entah nyambung gak nyambung sama studi saya. Terutama yg gratis (modus cari makan gretong), jaman mahasiswa tuh kan banyak bangt yah. Awalny ngerasa aman, tp ternyata tetep aja tuh pertanyaan di judul keluar juga. Baik yg ketemu kenalan gak sengaja maupun yg baru kenalan saat itu.

Paling kalo lagi iseng saya jawab:
“Berdua sama Schofield
Gak tau dia kalo Schofield itu motor kau.

Kenapa sih ya, semacam aneh gitu kalo ada orang yg bepergian sendiri. Emangny ada yang salah?
Atau memang bener ya saya yg aneh kalo sesekali suka jalan sendiri?
Apa emang macam saya ini pantesnya didampingi ksatria berkuda jingkrak gitu kalo kemana mana? *ditinju pke helm schumy

Padahal kalo di airport pd sendirian perjalanan jauh sah sah ajeeh.
*keselek high heels pramugari

*gara2 foto2 saya  yg pke selftimer sering saya upload di sosmed, teman2 pd gak percaya kalo saya jalan sendiri. Dikiranya saya selama ini sering jalan sama seseorang yg belum pengen saya ungkap identitasnya dan selama ini berperan jd fotografer saya. Hihihi
Fyi guys, saya gak punya seseorang itu dan belum nemu ksatria berkuda jingkrak. Anyone?

image

Karya selftimer

image

Karya selftimer

image

Inipun pke selftimer

image

Selftimerny agak niat tp hasilny g terlalu bagus