SELAMAT PAGI, FAJAR

SELAMAT PAGI, FAJAR

sepertinya fajar tiba terlalu dini. Saat mata belum sempat mencecap lelap, saat raga belum sempat dibuai mimpi. Hendak kemana kan kucari 8 jam berharga ku?

Selamat Pagi, fajar. Tidakkah kau datang terlalu dini? Terjaga ku belum lagi halau dari raga,,

Selamat pagi, fajar. Salahkah jika masygul ku sapa dirimu? Hadirmu bahkan mendahului nyanyian ninabobo ku

Selamat Pagi, Fajar. Maafkan jika mungkin hari ini aku tak dpt.membedakan “tadi”, “semalam”, dan kemarin.

Selamat Pagi, Fajar. Pagi bagimu, sebelum sempat kucicip lelap dalam malamku

Selamat Pagi, Fajar. Bolehkah aku bertanya, adakah peta menuju harta karun “8 jam” yang berharga itu?

Selamat Pagi, Fajar. sampai kapan harus ku cari 8 jam berharga ku? Tak bisakah kau tunjukkan shortcut tuk dapat ku nikmati harta mewah itu?

Selamat Pagi, Fajar. Tak taukah kau, betapa ku rindu menikmati kemewahan 8 jam cicipi mimpi. 8 jam mencecap lelap.

Selamat Pagi, Fajar. Sudah kucari kemana harta berharga 8 jam ku, namun apa daya tanpa Ransel berisi peta, Dora hanya bisa bertanya…;(

Selamat Pagi, Fajar. Ingin lekas ku terbang bersama Appa temui 8 jam berharga ku, apa daya keadaan tak aman sejak kerajaan api menyerang

Selamat Pagi, Fajar. Mungkinkah harus kusimpan harta 8 jam ku sbagaimana Tuan Crab menyimpan dolar dalam kasur sehingga membuatny tak empuk?

Selamat Pagi, Fajar. Aku tak meminta Hidup seribu tahun lagi, aku hanya ingin tidur 8 jam lagi

*Mojoagung, 22 Juni 2013.
03.56 WIB

image

sodara kembar

image

akhir akhir ini lagi seneng nerusin hobi lama. foto montase kalo gak salah istilahnya. nggabungkan beberapa foto menjadi 1 gambar.
berhubung perangkat saya hanya phablet dg prosesor ICS, dan saya lumayan katrok ttg aplikasi foto editor,, tema foto saya seputar sodara kembar.
foto di atas salah satu contohnya.
berikut formula untuk foto tersebut

image

dan satu lagi

image

yah namanya juga aplikasi alat dan waktu terbatas. jadinya cuma nggabungin 2 gambar sederhana jd satu gambar sederhana juga.

location : Eposs Jombang
camera & editor by Picopad GEA

19 berlalu

19 lewat sudah,

19 lalu sudah,,,

adakah yg tersisa…..?

adakah yang membekas…..??

19 tahun ku tak sungguh sungguh mencari

19 tahun ku tak sungguh sungguh menggali

wajar tak ku jumpa obat hati

wajar jika hanya kutemu mimpi…

19 masa kulewati dan kurasa,  sepi….

19 tahun kujalani dan kudapat, sunyi….

padahal ku tak tau,

dan tak pernah tau,

berapa masa kan ku lalu….??

berapa lama jatuh tempo-ku

tuk tak lagi sekedar bertemu sepi

tuk tak lagi tertipu bias

tuk tak lagi menambah hitam….

izinkan ku bangkit

hidupkan asa yang sempat mati

siapkan raga tu tempa diri

hingga ku temu daya & energi

tuk berlari tunaikan janji,,,,

tak lagi tenggelam dalam picisan

tak lagi hanyut dalam permainan

19 lalu tlah pergi

19 kemudian tlah menanti,,,,

Khoirunnas man Thola umruhu wa hasuna amaluhu…….

4 februari 2010, 05.32 [email protected]

Sebuah cerita biasa…

Aku ingin bercerita padamu, kawan

Sebuah kisah yang sangat biasa dari seseorang yang biasa…

Ia seorang perempuan. Kehidupannya sangat biasa, tidak ada hal istimewa yang harus diagung agungkan darinya. Ia hanya potret seorang perempuan diantara jutaan perempuan di dunia.

Kala itu ia masih berusia remaja. Katakanlah 17 tahun. Masa dimana suasana hati anak seusianya berbunga-bunga. Tahukah kau, apa yang dia rasa? Tidak ada.

Dia memposisikan semua temannya sebagai “teman” dan tidak merasa terusik dengan itu.

Tidak ada yang istimewa, karena ia ingin memiliki banyak teman…

Sempat beberapa mendapat tempat istimewa, tapi kemudian berlalu tanpa beban…

Ia tak peduli dengan kawannya yang mulai merasakan bunga bunga,,

Ia tak ambil pusing dengan cerita kawannya tentang indahnya berbagi,,,

Ia bahagia dengan keadaannya,,

Dan tak pernah berusaha mencari seseorang istimewa,,,

Ini hanya kisah biasa dari orang biasa,,,,

Kala itu usianya jelang 18 tahun.

Ia mulai memasuki kehidupan yang baru.

Keluar dari ruang aman dan menghadapi kehidupan sesungguhnya.

Tak jelas apa yang di depan matanya,

Hingga beberapa kali ia bergerak tak tentu arah.

Plin plan, kata orang…

Ia belum punya tempat berpegang…

Ini kisah yang sangat biasa..

Keluar dari lingkungan amannya, ia ingin kembali..

Tiba tiba sesuatu yang lain tumbuh dalam dirinya..

Sekian lama tak bertegur sapa, membuatnya takjub saat sapanya hadir.

Seseorang biasa tiba tiba menjadi sedikit berbeda di matanya.

Tiba tiba, sapanya menjadi berarti,,

Teguran tak penting menuntut tanggap,,

….

Kisah ini sungguh biasa,,

Sekian lama rasa itu tumbuh,

Mengalir  tanpa pernah beriak atau membadai..

Dinamis yang statis..

Perempuan ini diam, tak pernah memberitahu siapa.

Tak seorangpun tau.

Tidak seorang istimewa itu,

Tidak kakak adiknya,

Tidak orang tuanya,

Tidak kawannya,

Tidak kawan seorang istimewanya itu,

Tidak pula kawan keduanya…

Ia menyimpannya dalam diam..

Bahkan mungkin rasa itu lebih dulu datang sebelum disadarinya..

Ia diam tak pernah mengharap lebih

Tak pernah menuntut balas

Dan tak pernah menampakkannya…

Ia diam,

Sebagaimana diamnya tak mengharap apa apa…

Tak pernah menuntut tau,

Apakah berbalas,

Apakah seorang istimewa itu mengistimewakan ia juga…

Ia diam, bahkan pikirannya pun tenang,,

Hampir hampir tidak ada waktu dihidupnya yang terbuang sekedar memikirkan seorang istimewa itu..

Namun rasa itu tetap mengalir..

Tanpa gejolak,

Tanpa menuntut tanggap.

Ah, kisah ini sungguh biasa.

Masihkah kau mau mendengar, kawan…?

ramadhan ke 8 tanpamu, ibu

ibuku,, kini usiamu 47 tahun,,,,

tak terhitung berapa kerepotan yang kupersembahkan padamu,,,

membaca cerita-ceritamu,,

saat aku belum lagi dapat memahami dunia,,

saat aku belum lagi mampu membaca dan memahamimu,,

19 tahun silam,,

18 tahun lalu,,

17 tahun lampau,,

kau didik aku,,

bahkan saat ku belum tau, apa itu pendidikan,,,

kau ajari aku berbagai hal,,

bahkan sebelum aku tahu, apa itu pelajaran,,

kau bina aku,, bahkan saat ku tak mengerti, apa pembinaan,,

4 tahun, ku denganmu di tanah jawa

7 tahun selanjutnya, berlanjut kebersamaan di tanah Papua,,

sedang setelahnya,,,

ku pergi, dan kau lepas aku kembali ke tanah jawa,,,

melanjutkan baktiku,,

meski terpisah ribuan kilometer……

ribuan jarak terpisah,,

tak berhenti pendidikanmu

tak hilang pembinaanmu

tak lenyap pelajaranmu,

meski sekedar bertatap muka saja,

hanya hitungan jari sebelah tangan

ibu,,,

ramadhan ke-9 tlah kulewati disini,,

8 diantaranya tanpamu,,

dengan rindu yang kian menyesak.,,

tak henti aku bertanya “bilakah aku pulang…?”

dan kemudian aku sadar dan bertanya apa yang akan kubawa pulang…..???

setelah sekian tahun kau lepas aku,

sekian jarak kita berpisah

aku malu………

KARNA SESUNGGUHNYA,

AKU BELUM PUNYA APA APA…..

aku belum punya apa apa, tuk kupersembahkan padamu

aku belum melakukan apa-apa, dari amanahmu,,

aku belum berbuat apa apa, tuk tunaikan baktiku,,

maafkan aku, ibu……….

*)ramadhan ke-9 di tanah Jawa,,, 8 diantaranya tanpa bapak & ibu ulang tahun ibu ke 47 (12 september),,, dengan suasana hati tak menentu, sehingga kata kata yang mengalir semakin tak menentu….

untitled

hamasah,, 26 Oktober

(saat sebuah Qsah mengiLhami)

bila rasa ini fiTrah,,

bila rasa ini anugraH,,

bila rasa ini indaH,,

mengapa terdoktrin bak muSibaH,

hingga kehadiran tunasnya mengharuskan cegah,,,

mengapa terduga bak air bah,

hingga wajib ku bangun benteng kuat tak bercelah,,,

mengapa harus menjadi salah??

Saat logika mulai melemah…

Saat sikap menuntun rubah…

Akibat hati yang terbelah….??

Apakah karna sang waktu??

Apakah belum saatnya??

Mengapa waktu menjadi tertuduh..?

Mengapa diskriminasi harus terjadi??

Disini,,

Di area yang siapapun layak menikmatinya…

Mengapa ia menjadi indah bila tiba masanya…?

Karna hakikatnya ia kan selalu indah,,

Tidak temporal,,

Juga lokal,,

Tetapi universal

Tanpa perlu diragu…..

Tapi mengapa kalanya menjadi getir..?

Hanya karna tiba lebih pagi…

Hanya karna sedikit mendahului masa..

Kini, akan kemana berlabuh??

Jika getir melemparkan jangkar harapan di lautan masa,,

Berusaha membunuh tambatan yang datang lebih pagi,

Agar tiada lagi pisau yang membelah,,,

Meracuni khusyu’ku,

Membanjiri bentengu,

Dan ia pergi tanpa melumuri luka yang ditorehnya….

Bantu aku,,

Bantu aku tuk menjadi kebal,,

Agar aku tak perlu penyembuh,

Yang mungkin kan meracuniku,,

Bantu aku tuk sebuah ketegaran,,

Agar aku tak meminta penenang,,

Yang mungkin akan menggoncangku,,

Bantu aku tanpa kehadiran,,

Karna….

Tiada satupun yang sempurna..

Tiada satupun yang berpeluang,,

Aku hanya ingin mencintai hidup ini,,,

Dengan Mencintai-Mu