Bertandang ke Papandayan 1: Danau Kawah

Saya merasa sudah cukup mempersiapkan diri saat berencana akan bertandang ke Papandayan. Informasi mengenai titik-titik populer seperti Kawah Papandayan, Hutan Mati, Pondok Saladah dan Tegal Alun cukup banyak bertebaran di internet. Apalagi pendakian kali ini rencananya tektok saja, alias Pulang Pergi langsung tanpa menginap. Tentu saya harus tau bagaimana track dan medan yang harus saya tempuh. Saya tidak ingin lagi membawa oleh-oleh berupa kaki lecet melepuh dan pegal-pegal.

dalam perjalanan tracking Papandayan

Papandayan memang dikenal dengan Hutan Mati nya yang magis. Juga Padang Edelweisnya yang manis. Cobalah ke mesin pencarian, maka foto-foto kedua tempat iconic itu akan mendominasi. Namun pada perjalanan saya kemarin, bukan kedua tempat itu yang memberi kejutan.

(more…)

Galeri: Kemarau di Semeru

Bertamu ke Semeru untuk pertama kali nya Agustus lalu, memberi banyak kejutan bagi saya. Tidak hanya rute panjang dan tanjakan aduhai yang bisa saya dapat infonya dari dunia maya. Bukan pula keindahan Ranu Kumbolonya yang termasyhur dengan jutaan fotonya yang bertebaran di berbagai situs. Tidak pula suhu dinginnya yang membekukan embun-embun di rerumputan hingga atap-atap tenda.

Baca juga  Catatan Semeru 1 : Tujuan itu Bernama Rumah 

Area Kamping Ranu Kumbolo

Ini tentang warna cokelat keemasan khas kemarau yang menyapa. Camping ground Ranu Kumbolo yang biasanya beralaskan permadani rerumputan hijau, kali ini berselimut cokelat. Hingga padang Verbana di Oro-oro Ombo yang identik dengan warna ungunya, pun terbentang keemasan.

Berikut sebagian galeri Semeru kala Kemarau.

(more…)

Packing Minimalis Untuk Traveler Berhijab

Bagi tukang main yang berjilbab seperti saya, packing minimalis agak-agak tricky. Untuk outfit saja pasti tidak bisa sepraktis bawaan yang non hijab. Celana/Rok harus yang panjang, baju atau atasan harus panjang pula, plus bawa jilbab pula. Satu stel baju lengkap, sudah satu tumpuk sendiri. Nah bagaimana kalau bepergiannya berhari-hari? Baik  weekend escape maupun seminggu hingga sepuluh hari, bawaan saya biasanya tidak terlalu beda jauh.

Berikut sebagian tips packing yang biasanya saya terapkan saat bepergian.

(more…)

Catatan Semeru 2: Menghitung Budget

Beberapa waktu lalu saya mengajukan pertanyaan tentang topik apa mengenai Semeru yang sebaiknya saya tulis di blog. Salah satu jawaban yang masuk menyarankan pembahasan rincian anggaran dan budget untuk mendaki Semeru. Walaupun informasi tentang ini sebenarnya sudah banyak yang menulis, boleh lah saya turut serta meramaikan berdasarkan pengalaman pendakian Semeru pada Agustus 2018.

Ini 6 pos anggaran yang perlu disiapkan saat menghitung budget ke Gunung Semeru dari Yogyakarta:

(more…)

Kenapa Ke Bromo (Lagi)?

Saya hampir tidak pernah merencanakan ke Bromo jauh-jauh hari. Berkali-kali ke Bromo, rata-rata dadakan atau impulsif. Begitu juga saat berwacana dadakan untuk kembali menyapa Bromo pertengahan April lalu. Dan lagi tak hanya kali ini saja saya menjumpai pertanyaan yang sama seperti yang lalu-lalu.

Kenapa ke Bromo lagi?

Lawatan terakhir saya ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini sebenarnya sudah cukup lama. Bertepatan dengan Jazz Gunung 2015, yang lagi-lagi tiketnya saya beli dengan sangat impulsif. Seharusnya tak lagi menjadi pertanyaan jika saat ini saya ingin kembali lagi ke Bromo. Rentang 3 tahun sangat mungkin telah banyak yang berubah. Misalnya saja signage super besar yang sempat kontroversial di kalangan traveler itu. Siapa tau saya bisa berfoto di depannya sehingga menuai kontroversi di kalangan blogger ghibah, bukan? Lumayan untuk sebuah usaha panjat sosial.

jeep bromo aja 

Selain upaya panjat sosial, sebenarnya ada satu tujuan utama yang selalu saya rindukan jika ke Bromo:

(more…)

Arunika dari Banjaroya

Apa yang terbersit pertama kali mendengar Kecamatan Kalibawang, Kulonprogo?

Ya, Durian. Namun siapa sangka tak hanya harum durian yang bisa disajikan salah satu desa wisatanya, Banjaroya. Misalnya berjuta warna kala mentari terbit dari tepi waduknya.

 

(more…)