Akhirnya Mudik Jgaaa

Akhirnya mudik juga…..

image

Entah kenapa saya merasa seperti tidak dlm kondisi sadar saat membeli tiket jurusan Surabaya-Sorong di maskapai Sriwijaya Air.
Bagaimana saya tidak merasa mimpi, sebelumnya saya tidak menyiapkan anggaran khusus mudik. Apalagi saya memburuh belum sampai setahun. Bayangan harga tiket yg pernah mencapai kepala 4 (sudah pasti total angka ad 7 digit), membuat saya g brani2 amat buat iseng pengumuman kemana2 bakalan mudik.
Jd setiap senggang sepanjang akhir juni-juli saya rajin cek harga tiket dr maskapai2 yg mencapai Sorong.
Oya sebelumnya saya jd brani cari2 gara2 kakak saya bilang dia dpt harga JOG-SOQ kurang dr 2 jt. Saya saat itu yg posisi di Jombang berkesimpulan bahwa pasti dr Surbaya lebih murah.
Taraaaaa…. sempat sudah memutuskan buat book maskapai lain. Saat itu yg saya cek Merpati, Ekspressair, dan Lion Air. Harga rata2 mirip. Sriwijaya sendiri beberapa saya cek flight gak muncul hasilnya. Untung saat itu saya blm jd memutuskan karena ATM terdekt gak muncul menu untuk pembayaran maskapai pertama yg akan saya book.
Ternyata ad harga dan jam terbang Sriwijaya yang lebih pas di berbagai sisi. Kurang dr 3jt untuk Round-trip. Alhamdulillah, selisih lumayan jauh dg kalo keberangkatan lewat Jogja.
Tentu saja sebelum benar2 dpat tiket, sya belum berani bilang ortu kalo mo mudik.
.
Manusia berencna namun rencana Nya lebih baik. Pertengahan Juli saya dipindah tugaskn oleh perusahaan ke Klaten Jawa Tengah. Ini berarti penerbagan lewat Surabaya jd gak efisien. Skitar tgl 20an Juli saya pagi pagi iseng telp Call center Sriwijaya untuk cari info kalo rute n pindah tanggal (saya salah memperkirakan tanggal libur perusahaan). Dan ternyata saya hanya dikenakan bea admin 20.000 + penyesuaian harga tiket ke flight baru aja. Yey. Akhirnya berangkat dr JOG deh.
Saya ambil penerbangan jam 20.15 dr JOG. Transit surabaya baru UPG n nggembel sampai pagi baru terbang lagi ke Sorong.

image

Nggembel di Hasanudin

Menurut Bapak saya, memang pesawat klo mau landing di Airport Sorong, mesti nunggu pagi.

image

Landing .!!!

Ternyata benar, penerangan di Airport Domine Edward Osok menggunakan tenaga surya. So, kalo malam gelap gulita. Hehe
Rasanya bahagia sekali bisa sampai rumah ortu yg jaraknya ribuan mil. Masih merasa gak njejak bumi pas sampai disana n melihat nyata rumah beliau berdua. Hahaha norak banget.

image

Saya dan Qolbi di depan rumah Ortu

Ya, orang tua saya memang menetap di Kota Sorong, meskipun secara darah Jawa asli.
Ini ramadhan ke dua saya di Sorong setelah saya ke jawa 2001. Yang pertama adalah 2010.
Cek http://aqied.wordpress.com/2009/09/
Dalam 3 tahun itu ternyata banyak yg berubah.
Selain cuaca yg sedang kurang baik, hujan terus menerus hingga saya gak keluar2 rumah, jg pembangunan segala macam bangunan yg makin banyak. Jujur banyak list yg gak kesampean pas sudah disana.
Saya gak ke Pantai Lido ato tembok berlin. Gak ke Tanjung Kasuari, gak sempet silaturrahim ke teman2 jaman SD, gak nengok sekolah lama, gak makan seafood di rumah makan favorit, coto langganan pas gak jualan, etc…
Tak apalah. Yang kudapat jauh lebih dr itu semua. Atas kuasa siapa saat hari kedatangan saya hujan tidak turun dan langit begitu cerah. Atas kuasa siapa langit begitu cerah saat saya menjemput Qolbi H-1 lebaran.

image

Sesaat sebelum landing di DEO airport

image

Hari menjemput Qolbi

Atas kuasa siapa saat perjalanan kami dr Sorong ke Raja Ampat, hingga saat hari kami bermain di Raja Ampat dan perjalanan kembali lagi ke Sorong, langit begitu cerah. Padahal di luar hari hari tersebut, langit seakan tak pernah habis menyimpan air untuk ditumpahkan.

image

Perjalanan Sorong-Raja Ampat

image

Perjalanan Raja Ampat-Sorong

Atas kuasa siapa begitu banyak kemudahan dr orang orang di sekeliling kami.

image

Waiwo Dive Resort

Allohu Akbar, Tiada pujian selain untuk Mu.
Bukan berarti tidak ad kesulitan atau problem yg didapt. Tp apalah artinya jika kenikmatan dari Nya yg ku dapat jauuuuuh melampaui yang kubayangkan.
La-in syakartum la azidannakum
Maka jadikan kami hamba Mu yang selalu bersyukur ya Rabb….

*saat terpenjara demam di hari libur

Air, Ombak, Langit, Angin terbaik

image

papua selalu membangkitka rindu bagi saya. sekian lama tak mwnengok sejak saya pergi 2001, pada ramadhan 2010 saya berkesempatan berkunjung lagi di Sorong.
satu transportasi favorit saya adl transportasi laut dg tarif seperti angkot. Yap dengan Rp. 2,500 kita bisa nyebrang ke Pulau Dom. saya gak yakin semua atlas menampilkan pulau tersebut di peta mereka.
kapal/boat ini dikenal dengan nama JONSON. entah ejaan yg benar bagaimana. boat ini menempuh skitar 30 menit sampai tujuan. untuk sekali jalan layaknya angkot ya ngetem dulu sampe penuh. bedanya dengan angkot, boat ini gak nurunin atau nampung penumpang di tengah jalan. hehe, soalnya belum pernah tau sih ad yg nyetop angkot ditengah laut.

image

saya sempat ambil gambar di dalam Jonson. juga sempat keluar sebentar berfoto di ujung boat. sensasinya mantap. buat yang jarang2 ketemu pantai, 2500 rupiah terlalu murah.
Rata2 Jonson dimotori 2 motor biasanya merk Yamaha. jadi ya kaya membelah laut gitu kalo lihatnya ke belakang. sayang Jonson saat itu penuh shg saya tdk bisa leluasa mondar mandir.

Ombak, Air Laut, Angin, Langit, semua yang terindah yang bisa didapat……

ah, apa sih di Papua yang gak bikin kangen……

Foto: Laut di antara Sorong dan Dom
Tahun: 2010

cacaTan PeRjalanan EpS 1

Sudah 19 tahun aku membuka mata, melihat dunia. Sudah sekian kota di Indonesia aku tinggali. Berbagai alat transportasi aku coba. Darat, laut maupun udara. Sayangnya belum pernah sekalipun kucicipi kendaraan dengan jalur khusus. Ya, kendaraan berjalur rel dengan roda besi. Dan inilah perjalanan pertamaku dengan kereta api.

Sebelumnya, aku gak pernah punya bayangan or gambaran situasi di kereta. Gak seperti pesawat yang dulu selalu aku bayangkan sampai kemudian aku merasakan sendiri. Sampai kucoba kereta minimalis yang ekonomis. Simple saja, sebagai mahasiswa ekonomi yang kondisi ekonomis’nya cukup minimalis, kereta yang pertama kali kucoba adalah kereta ekonomi.

Gak tanggung tanggung untuk perjalanan jogja banyuwangi yang kurang lebih 15 jam. Dengan rombongan kurang lebih 30 personel, kami rombongan ekonomis dari FoSSEI jogja telah siap ‘menikmati perjalanan.

EPISODE I, PERJALANAN I

@train

Dari yang aku rasain sejak tanggal 4 maret jam 7.15 WIB, suka duka kereta ekonomi ternyata gak sehoror cerita temen2 yang lebih berpengalaman. Panas, buat aku itu biasa. Rame, Alhamdulillah, masih dalam taraf normal. Jadinya masih tersisa ruang untuk bernafas dengan normal. Duduk sendiri, berhadapan dengan teman seperjalanan di bangku kapasitas 3 orang memang melegakan. Tapi itu gak bertahan lama. 1 jam menikmati keleluasaan, sampai akhirnya satu keluarga muda bergabung bersama kami. Di tambah sebelumnya seorang bapak.

Bosan dengan kesendirian sampai mati gaya,? untungnya gak berlaku buat aku. Setiap yang datang bergabung, selalu aku tanyai tujuannya. Bukan perhatian atau sok kenal, sekedar ingin tau kapan keleluasaan bisa aku kuasai lagi.

Tapi rupanya aku malah ‘dapet lebih’. Bermula dari Pak Hary, bapak beranak 3 yang sering keliling berbagai kota di pulau jawa, banyak menceritakan anaknya. Mungkin karna kami seumuran dengan salah satu anaknya. Atau sekedar mengusir kebosanan atau antisipasi mati gaya. Mulanya si, males ngeladeninnya. Tapi lambat laun, ternyata menyenangkan. At least, aku jadi gak mati gaya di kereta ekonomi yang punya kesan menyedihkan…. Lagi, seru aja denger cerita perjalanannya, juga ekspresi bangga beliau saat menceritakan anak anaknya. Ekspresi bangga seorang ayah pada keluarganya. Mungkin aku memang gak tau realitanya, atau kebenaran dari ceritanya. Tapi yang pasti, kehadiran Pak hari cukup menghilangkan bosan dan mengantisipasi mati gaya ku di kereta. Membuat aku melupakan sejenak ‘keistimewaan’ kereta ekonomi yang otomatis mengurangi jumlah keluhan atas ketidak bersyukuran. Sampai kemudian beliau tururn di Mojokerto.

Keluarga kecil, dengan anaknya yang masih kecilpun, lumayan mengurangi kebosanan. Rekan perjalananku yang cinta batita, menjadikan Intan, nama si teman kecil cukup menjadi aktivitas sendiri. Sampai perginya mendahului kami.

Setelahnya, seorang ibu dengan anak lelaki usia SD. Tapi tak ada yang menarik untuk diceritakan disini. setelah itu ada pula ibu dengan anak perempuan. Sepertinya keduanya cukup kompak. Terlihat dari style si ibu yang berlagak seusia anaknya. Dandanan make up pun tak jauh beda. Sebenarnya, gak ada yang menarik dari keduanya. Tapi si ibu bermake up ini, menertawakan teman temanku yang sedang sholat di kereta. Heran deh, orang beribadah koq di ketawain. . . . aku jadi gak bisa mbaca yang ada dipikirannya itu apa. Termasuk juga apa religion view ibu anak yang aneh itu.

Selanjutnya yudha, fresh graduate mahasiswa MIPA salah satu univ negri di Surabaya ini, bikin pembicaraan agak berat. Bermula dari pendapatnya yang bilang bunga sama dengan bagi hasil. Syariah sama aja dengan konvensional. Entahlah,,apalagi pendapatnya yang dia yakini. Yang pasti, sebenarnya karna ketidak tahuan lah yang bikin pendapatnya seperti itu. Disamping juga karna tidak mencari tau. Selanjutnya, aku gak terlalu tertarik karna rekan perjalananku lebih nyambung dengan pembicaraan mereka.

Tapi, sedikit terima kasih aku ungkapin disini khusus untuk Yuda. Karna pemberitahuan darinya lah, kita gak jadi terancam salah mendarat. Sebelumnya, instruksi yang sedikit melenceng dari panitia ICON!, nyaris menyesatkan kami yang 30 orang.

Hingga akhirnya kami berhasil turun di pemberhentian terakhir, di tempat yang tepat. Stasiun berjudul ‘BANYUWANGI BARU’ yang kami tak tahu yang akan terjadi beberapa hari setelahnya. Waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB, Tinggal selanjutnya kami mencari tau kemana langkah kan di ayun selanjutnya….