Raja Ampat tidak Melulu Laut

image

Siapa tidak kenal Raja Ampat. Jika Franky Sahilatua sempat menyebut Papua sebagai Surga Kecil jatuh ke bumi, sungguh benar adanya. Bahkan saya koq yakin Franky membuat lagu itu sebelum mengenal Raja Ampat.
Raja Ampat adl Kabupaten kepulauan hasil pemekaran DATI II Sorong. Dengan usianya yang masih muda ini, banyak sekali pembangunan yang sedang berlangsung. Tim Kemen PU punya banyak PR untuk surga kecil kita ini.

image

Sudut foto dr teras kantor Kemen PU Raja Ampat, jelang 17 Agustus

Sebagaimana namanya, Raja Ampat menyebut dirinya sebagai Kabupaten Bahari. Setuju banget sih, siapa yang masih mau membantah indahnya kekayaan bahari Raja Ampat? Apalagi memang kabupaten ini terdiri dr gugusan pulau pulau.
Saya bersyukur diberi kesempatan Tuhan untuk tak henti berdecak kagum dan terbengong takjub menginjak kedua kaki saya di wilayah ini.
image

Tidak perlu membayangkan saya blusukan mencari keindahan yg ditawarkan disini, karna sesungguhnya saya menginjak tanah dan laut Raja Ampat kurang dari 24 jam. Waktu yang terlalu singkat. Anda bisa simpulkan sendiri bahwa pastinya saya baru sampai di EMPERAN belaka.
Ah, tapi tak apalah. Siapa yang meragukan emperan Surga?
Bicara pesona air dan bawah air raja ampat tidak pernah bisa habis. Seperti yang disampaikan Tuhan, takkan habis Kuasa dan Nikmat Nya jika kita sebagai manusia berusaha menghitung. Anda bisa dapatkan banyak sekali referensi menarik hanya dengan mengetik keyword “Raja Ampat” di segala search engine.
Karna itu, saya mau cerita sedikit saja. Skedar menambah informasi sisi lain dr Raja Ampat yang tidak harus ‘basah’.
image

Saya tiba di Waisai, ibu kota Raja Ampat pukul 5 sore WIT. Dijemput di Port of Waisai dan dengan berkendara Strada, kami diajak mampir santai sore di Pantai WTC, singkatan dr Waisai Torang Cinta.
WTC yang ini menurut saya cukup ramah untuk santai sore. Saat itu sekelompok anak muda sedang bermain bola di bawah landmark “Kabupaten Raja Ampat”. Di sisi lain ada yang sekedar mengobrol.

image

Saya dg latar belakang Pantai WTC

Saya dan Qolbi (kakak saya), apalagi kalo bukan terbengong bengong dan berusaha mendokumentasikan sejauh yg bisa diabadikan kamera ponsel kami.
image

Tarif? Oke saya tidak perlu cerita tarif. Karna disini Anda tidak perlu buka dompet atau rogoh kantong. Bahkan untuk parkir sekalipun. Tapi memang fasilitas pendukung sebagai tempat wisata bisa dibilang tidak ada.
image

image

Qolbi, strada merah, plat merah, jaket merah

image

image

Usaha cari sinyal buat check in 4sq, hahaha

Bagi saya ini benar2 tempat untuk santai sore. Benar2 santai. Perjlanan pulang dari sini, kami melewati pasar. Benar2 melewati karna kami memang tidak berniat berbelanja dan maghrib segera datang.
image

Sebenarnya sapaan pertama selepas meluncur dr Port of Waisai ada di kanan Anda. Yap Masjid Agung Waisai (atau mgkn Masjid Raya Raja Ampat, saya lupa namanya dan memang blm ad papan namanya). Cerita yg saya dengar sekilas dari kepala PU, area masjid ini akan digunakan untuk seleksi MTQ tingkat Propinsi Papua Barat. Memang masjid ini masih tahap pembangunan.

image

Selasar dr bangunan utama ke tempat wudhu

Alhamdulillah, saat maghrib datang kami sempat menikmati sujud di sini. Masjid ini memang masih dalam masa pembangunan. Kondisinya (Agustus2013) masih belum terlalu ready dan sedikit kurang rapi (ada bahan2 n alat2 bangunan karna masih proses,) , namun cukup nyaman bagi kami.

image

Tampak depan

image

Teras

image

Tempat wudhu perempuan

Siapa sangka di Tanah Papua, jatuhnya Surga Keçil, Rumah Tuhan ini yang menyapa kami.
Saya sempat melihat rancangan (gambar arsitek) Masjid ini dan kompleks nya (cukup luas). Sayang sekali karna kami sholat maghrib disini, hari sudah terlalu gelap dan penerangan yg ada tidak cukup untuk menggambarkan masjid luar biasa ini ke dalam kamera ponsel.

Di kota kita mengenal balaikota, di desa ada balai desa. Di Raja Ampat, Waisai tepatnya punya yang dinamakan Gedung Pari.
image

Bagi saya selain bentuknya yang unik, letaknya juga tepat. Terletak cukup tinggi dibanding kantor2 pemerintahan lain, kami bisa melihat jiwa ke-pari-an nya dr sepanjang jalan utama. Bangunan inti yg cukup lebar, dengan buntut panjang.
image

image

Selain itu, dari halaman gedung ini, kita bisa melihat Waisai dan sebagian Raja Ampat.

image

Cucok buat duduk galau, walo panas2 sekalipun

Saya membayangkan jika malam, mungkin lebih indah dr bukit bintang nya Jogja. ;p

image

Nyolong jepret Bapak dan Qolbi yg lagi melayang pandang Kota Waisai from top

Saya yakin sekali gambar gambar hanyalah segelintir kecil dr indahnya ciptaan Tuhan yang terlukis di sana. Apalagi dg tambahan objek gembel berjaket merah yg mungkin merusak mata Anda. Hehehe,,,
Anyway, tetap saya katakan yang terbaik dr raja Ampat tetaplah Lautnya.
Namun sesekali tidak harus basah tidak masalah, bukan?

Omah Sinten Heritage Hotel, Is it anyone's home?

Suatu hari saya tertarik dengan suatu even yg bisa dibilang cocok dg bidang saya. Even ini diselenggarakan secara Roadshow di beberapa kota sejak 2012. Sayangnya karena terpenjara jarak, meski tertarik saya blm kesampaian ikutan. Minimal penggembira lah yaa, sambil nunggu nunggu kira2 kapan roadshow nya nyampe ke kota yg jarak tidak menjadi masalah buat saya.

image

And……
I got the good news.
Oktober ini, kota tujuan roadshow ad di 3 kota terdekat saya. Solo, Semarang dan Jogja.
Pertama baca, saya gak tau alamat lokasi Solo, tertulis “Hotel Omah Sinten Jl Diponegoro Ngarsopuro”. Seperti biasa klo gak tau, rajin2lah bertanya. Kalo kenal ungkapan “googling bfore asking”, saya pun penganut kepercayaan tersebut. Berawal dr mencari route, saya ‘kesasar’ dg penuh cinta ke halaman web nya.  Jg web-web wisata yg merekomendasikan hotel tersebut.

Then…….
Keputusan mutlak saya langsung turut beserta restu terdalam dr lubuk hati tanpa kontroversi. Mengesampingkan faktor tempat tinggal saya adl Jogja. Baru dpt judul “Omah Sinten Heritage Hotel & Resto” aja saya sudah penasaran.
Datanglah hari itu…

image

“Wilujeng Rawuh tamu: Masyarakat Ekonomi Syariah” Do they need any Doorman?

 

Letak omah sinten bagi saya sangat menyenangkan. dekat sekali dengan Jl Slamet riyadi meski bukan di pinggir jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan utama kota Solo.

image

Parkir Sepeda Motor saya, lengkap dg jaket merah identitas nggembel saya

 

image

Berasa rumah sendiri, langsung dipersilahkan masuk

Begitu sampai, saya langsung berkesimpulan bahwa hotel yang satu ini mungkin tidak memerlukan Door-man, ????

Selanjutnya saya mengikuti kegiatan sampai sore. Waktu istirahat saya gunakan untuk nyolong-nyolong foto sedikit sejauh yang terjangkau oleh saya dengan kamera minimalis.

Ternyata Hotel ini cukup populer. Lihat saja papan-papan testimoni yang menggantung memenuhi dinding belakang ruang acara saya. Bahkan Coboy Junior pun berkomentar,,, ????

image

masih ada satu dinding lagi yg penuh testimoni seperti ini

 

image

Pojok kanan, kerjaannya Bastian DKK

 

saya makan siang di Lt 2 , sayang saya tidak sempat intip nama ruangan yg saya pakai makan, saya merasa semacam di dalam Cinema Room. Ruangannya remang2 dengan alat makan yg menyeret kita ke jaman Agung Sedayu. Di dinding yang bersebrangan dengan meja2 prasmanan, kami disuguhi tampilan video komersil omah sinten. sempat hinggap di telinga saya bahwa Omah Sinten menggunakan barang2 daur ulang untuk properti mereka, hhmmmm inspiring….

image

Tempat Makan siang, remang2

 

image

Wastafel Horror di toilet Lt 1

 

Jelas sekali foto yang berhasil saya tangkap gak cukup menggambarkan Omah SInten seutuhnya. Anda bisa lihat sampai puas di lokasi langsung, atau kalau sekedar foto, kenapa tidak berkunjung saja ke web resminya?

Saya hanya merasakan ambience yang menenangkan, membuat saya relax meski materi cukup serius harus saya telan seharian. sebagian jepret amatir saya ada di instagram http://instagram.com/aqied

Omah Sinten membuat saya ingin kembali, mencicipi begitu banyak yang terlewatkan, menyesap tenang dan melemaskan syaraf syaraf saya yang sering menegang.

Mungkin itu makna di balik nama “Omah Sinten”, we couldn’t answer The Sinten, cause it could be home to anyone, cause anyone could feel home in it, of course if u pay the price, hehe

Akhirnya Mudik Jgaaa

Akhirnya mudik juga…..

image

Entah kenapa saya merasa seperti tidak dlm kondisi sadar saat membeli tiket jurusan Surabaya-Sorong di maskapai Sriwijaya Air.
Bagaimana saya tidak merasa mimpi, sebelumnya saya tidak menyiapkan anggaran khusus mudik. Apalagi saya memburuh belum sampai setahun. Bayangan harga tiket yg pernah mencapai kepala 4 (sudah pasti total angka ad 7 digit), membuat saya g brani2 amat buat iseng pengumuman kemana2 bakalan mudik.
Jd setiap senggang sepanjang akhir juni-juli saya rajin cek harga tiket dr maskapai2 yg mencapai Sorong.
Oya sebelumnya saya jd brani cari2 gara2 kakak saya bilang dia dpt harga JOG-SOQ kurang dr 2 jt. Saya saat itu yg posisi di Jombang berkesimpulan bahwa pasti dr Surbaya lebih murah.
Taraaaaa…. sempat sudah memutuskan buat book maskapai lain. Saat itu yg saya cek Merpati, Ekspressair, dan Lion Air. Harga rata2 mirip. Sriwijaya sendiri beberapa saya cek flight gak muncul hasilnya. Untung saat itu saya blm jd memutuskan karena ATM terdekt gak muncul menu untuk pembayaran maskapai pertama yg akan saya book.
Ternyata ad harga dan jam terbang Sriwijaya yang lebih pas di berbagai sisi. Kurang dr 3jt untuk Round-trip. Alhamdulillah, selisih lumayan jauh dg kalo keberangkatan lewat Jogja.
Tentu saja sebelum benar2 dpat tiket, sya belum berani bilang ortu kalo mo mudik.
.
Manusia berencna namun rencana Nya lebih baik. Pertengahan Juli saya dipindah tugaskn oleh perusahaan ke Klaten Jawa Tengah. Ini berarti penerbagan lewat Surabaya jd gak efisien. Skitar tgl 20an Juli saya pagi pagi iseng telp Call center Sriwijaya untuk cari info kalo rute n pindah tanggal (saya salah memperkirakan tanggal libur perusahaan). Dan ternyata saya hanya dikenakan bea admin 20.000 + penyesuaian harga tiket ke flight baru aja. Yey. Akhirnya berangkat dr JOG deh.
Saya ambil penerbangan jam 20.15 dr JOG. Transit surabaya baru UPG n nggembel sampai pagi baru terbang lagi ke Sorong.

image

Nggembel di Hasanudin

Menurut Bapak saya, memang pesawat klo mau landing di Airport Sorong, mesti nunggu pagi.

image

Landing .!!!

Ternyata benar, penerangan di Airport Domine Edward Osok menggunakan tenaga surya. So, kalo malam gelap gulita. Hehe
Rasanya bahagia sekali bisa sampai rumah ortu yg jaraknya ribuan mil. Masih merasa gak njejak bumi pas sampai disana n melihat nyata rumah beliau berdua. Hahaha norak banget.

image

Saya dan Qolbi di depan rumah Ortu

Ya, orang tua saya memang menetap di Kota Sorong, meskipun secara darah Jawa asli.
Ini ramadhan ke dua saya di Sorong setelah saya ke jawa 2001. Yang pertama adalah 2010.
Cek http://aqied.wordpress.com/2009/09/
Dalam 3 tahun itu ternyata banyak yg berubah.
Selain cuaca yg sedang kurang baik, hujan terus menerus hingga saya gak keluar2 rumah, jg pembangunan segala macam bangunan yg makin banyak. Jujur banyak list yg gak kesampean pas sudah disana.
Saya gak ke Pantai Lido ato tembok berlin. Gak ke Tanjung Kasuari, gak sempet silaturrahim ke teman2 jaman SD, gak nengok sekolah lama, gak makan seafood di rumah makan favorit, coto langganan pas gak jualan, etc…
Tak apalah. Yang kudapat jauh lebih dr itu semua. Atas kuasa siapa saat hari kedatangan saya hujan tidak turun dan langit begitu cerah. Atas kuasa siapa langit begitu cerah saat saya menjemput Qolbi H-1 lebaran.

image

Sesaat sebelum landing di DEO airport

image

Hari menjemput Qolbi

Atas kuasa siapa saat perjalanan kami dr Sorong ke Raja Ampat, hingga saat hari kami bermain di Raja Ampat dan perjalanan kembali lagi ke Sorong, langit begitu cerah. Padahal di luar hari hari tersebut, langit seakan tak pernah habis menyimpan air untuk ditumpahkan.

image

Perjalanan Sorong-Raja Ampat

image

Perjalanan Raja Ampat-Sorong

Atas kuasa siapa begitu banyak kemudahan dr orang orang di sekeliling kami.

image

Waiwo Dive Resort

Allohu Akbar, Tiada pujian selain untuk Mu.
Bukan berarti tidak ad kesulitan atau problem yg didapt. Tp apalah artinya jika kenikmatan dari Nya yg ku dapat jauuuuuh melampaui yang kubayangkan.
La-in syakartum la azidannakum
Maka jadikan kami hamba Mu yang selalu bersyukur ya Rabb….

*saat terpenjara demam di hari libur

Air, Ombak, Langit, Angin terbaik

image

papua selalu membangkitka rindu bagi saya. sekian lama tak mwnengok sejak saya pergi 2001, pada ramadhan 2010 saya berkesempatan berkunjung lagi di Sorong.
satu transportasi favorit saya adl transportasi laut dg tarif seperti angkot. Yap dengan Rp. 2,500 kita bisa nyebrang ke Pulau Dom. saya gak yakin semua atlas menampilkan pulau tersebut di peta mereka.
kapal/boat ini dikenal dengan nama JONSON. entah ejaan yg benar bagaimana. boat ini menempuh skitar 30 menit sampai tujuan. untuk sekali jalan layaknya angkot ya ngetem dulu sampe penuh. bedanya dengan angkot, boat ini gak nurunin atau nampung penumpang di tengah jalan. hehe, soalnya belum pernah tau sih ad yg nyetop angkot ditengah laut.

image

saya sempat ambil gambar di dalam Jonson. juga sempat keluar sebentar berfoto di ujung boat. sensasinya mantap. buat yang jarang2 ketemu pantai, 2500 rupiah terlalu murah.
Rata2 Jonson dimotori 2 motor biasanya merk Yamaha. jadi ya kaya membelah laut gitu kalo lihatnya ke belakang. sayang Jonson saat itu penuh shg saya tdk bisa leluasa mondar mandir.

Ombak, Air Laut, Angin, Langit, semua yang terindah yang bisa didapat……

ah, apa sih di Papua yang gak bikin kangen……

Foto: Laut di antara Sorong dan Dom
Tahun: 2010

cacaTan PeRjalanan EpS 1

Sudah 19 tahun aku membuka mata, melihat dunia. Sudah sekian kota di Indonesia aku tinggali. Berbagai alat transportasi aku coba. Darat, laut maupun udara. Sayangnya belum pernah sekalipun kucicipi kendaraan dengan jalur khusus. Ya, kendaraan berjalur rel dengan roda besi. Dan inilah perjalanan pertamaku dengan kereta api.

Sebelumnya, aku gak pernah punya bayangan or gambaran situasi di kereta. Gak seperti pesawat yang dulu selalu aku bayangkan sampai kemudian aku merasakan sendiri. Sampai kucoba kereta minimalis yang ekonomis. Simple saja, sebagai mahasiswa ekonomi yang kondisi ekonomis’nya cukup minimalis, kereta yang pertama kali kucoba adalah kereta ekonomi.

Gak tanggung tanggung untuk perjalanan jogja banyuwangi yang kurang lebih 15 jam. Dengan rombongan kurang lebih 30 personel, kami rombongan ekonomis dari FoSSEI jogja telah siap ‘menikmati perjalanan.

EPISODE I, PERJALANAN I

@train

Dari yang aku rasain sejak tanggal 4 maret jam 7.15 WIB, suka duka kereta ekonomi ternyata gak sehoror cerita temen2 yang lebih berpengalaman. Panas, buat aku itu biasa. Rame, Alhamdulillah, masih dalam taraf normal. Jadinya masih tersisa ruang untuk bernafas dengan normal. Duduk sendiri, berhadapan dengan teman seperjalanan di bangku kapasitas 3 orang memang melegakan. Tapi itu gak bertahan lama. 1 jam menikmati keleluasaan, sampai akhirnya satu keluarga muda bergabung bersama kami. Di tambah sebelumnya seorang bapak.

Bosan dengan kesendirian sampai mati gaya,? untungnya gak berlaku buat aku. Setiap yang datang bergabung, selalu aku tanyai tujuannya. Bukan perhatian atau sok kenal, sekedar ingin tau kapan keleluasaan bisa aku kuasai lagi.

Tapi rupanya aku malah ‘dapet lebih’. Bermula dari Pak Hary, bapak beranak 3 yang sering keliling berbagai kota di pulau jawa, banyak menceritakan anaknya. Mungkin karna kami seumuran dengan salah satu anaknya. Atau sekedar mengusir kebosanan atau antisipasi mati gaya. Mulanya si, males ngeladeninnya. Tapi lambat laun, ternyata menyenangkan. At least, aku jadi gak mati gaya di kereta ekonomi yang punya kesan menyedihkan…. Lagi, seru aja denger cerita perjalanannya, juga ekspresi bangga beliau saat menceritakan anak anaknya. Ekspresi bangga seorang ayah pada keluarganya. Mungkin aku memang gak tau realitanya, atau kebenaran dari ceritanya. Tapi yang pasti, kehadiran Pak hari cukup menghilangkan bosan dan mengantisipasi mati gaya ku di kereta. Membuat aku melupakan sejenak ‘keistimewaan’ kereta ekonomi yang otomatis mengurangi jumlah keluhan atas ketidak bersyukuran. Sampai kemudian beliau tururn di Mojokerto.

Keluarga kecil, dengan anaknya yang masih kecilpun, lumayan mengurangi kebosanan. Rekan perjalananku yang cinta batita, menjadikan Intan, nama si teman kecil cukup menjadi aktivitas sendiri. Sampai perginya mendahului kami.

Setelahnya, seorang ibu dengan anak lelaki usia SD. Tapi tak ada yang menarik untuk diceritakan disini. setelah itu ada pula ibu dengan anak perempuan. Sepertinya keduanya cukup kompak. Terlihat dari style si ibu yang berlagak seusia anaknya. Dandanan make up pun tak jauh beda. Sebenarnya, gak ada yang menarik dari keduanya. Tapi si ibu bermake up ini, menertawakan teman temanku yang sedang sholat di kereta. Heran deh, orang beribadah koq di ketawain. . . . aku jadi gak bisa mbaca yang ada dipikirannya itu apa. Termasuk juga apa religion view ibu anak yang aneh itu.

Selanjutnya yudha, fresh graduate mahasiswa MIPA salah satu univ negri di Surabaya ini, bikin pembicaraan agak berat. Bermula dari pendapatnya yang bilang bunga sama dengan bagi hasil. Syariah sama aja dengan konvensional. Entahlah,,apalagi pendapatnya yang dia yakini. Yang pasti, sebenarnya karna ketidak tahuan lah yang bikin pendapatnya seperti itu. Disamping juga karna tidak mencari tau. Selanjutnya, aku gak terlalu tertarik karna rekan perjalananku lebih nyambung dengan pembicaraan mereka.

Tapi, sedikit terima kasih aku ungkapin disini khusus untuk Yuda. Karna pemberitahuan darinya lah, kita gak jadi terancam salah mendarat. Sebelumnya, instruksi yang sedikit melenceng dari panitia ICON!, nyaris menyesatkan kami yang 30 orang.

Hingga akhirnya kami berhasil turun di pemberhentian terakhir, di tempat yang tepat. Stasiun berjudul ‘BANYUWANGI BARU’ yang kami tak tahu yang akan terjadi beberapa hari setelahnya. Waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB, Tinggal selanjutnya kami mencari tau kemana langkah kan di ayun selanjutnya….