Press "Enter" to skip to content

Lebaran di Tengah Pandemi Jilid II

Ini lebaran kedua di tengah pandemi. Walau begitu, rasanya tetap saja berbeda dengan tahun lalu. Kesamaannya masih banyak, seperti larangan mudik, pelaksanaan ibadah dengan protokol kesehatan tertentu, hingga silaturrahim online. Kebetulan sih di keluarga saya sudah cukup terbiasa ya lebaran gak bareng-bareng. Jadi lebaran mencar-mencar begini sudah tidak berasa aneh lagi. Namun saya yakin, sebagian besar keluarga di negri ini tidak seterbiasa yang saya alami.

Diingat-ingat, terakhir kali kami berlebaran lengkap itu sudah tahun 2018. Itupun tahun-tahun sebelumnya juga kami mencar-mencar. Kemudian karena terbiasa hidup berpindah-pindah, saya kok rasanya jadi kurang punya sense sentimentil pada lokasi tertentu. Jadi tidak selalu juga lebaran harus ada di kota mana. Misalnya pada 2019 saya berdua dengan adik berlebaran di Karimun Jawa. Sementara kakak dan si bungsu mudik ke rumah orang tua. Sebelumnya pada 2017, saya lebaran bersama si bungsu di Jogja. Sementara kakak dan adik tengah yang mudik ke rumah orang tua di timur negri.

2020 kemarin sebelum pandemi, saya sempat kepikiran untuk gantian yang mudik ke rumah ortu. Mengingat saya sudah bekerja di instansi yang libur lebarannya lumayan sedikit lebih banyak. Sayangnya pandemi terjadi, dan akhirnya kami lebaran bertiga di Jogja aja. Alhamdulillah, saat itu sempat bikin postingan tentang lebaran di tengah pandemi.

Tahun ini, ternyata masih pandemi juga. Jadilah saya hanya berlebaran berdua dengan si bungsu. Dengan sang adik yang mulai mengabdi pada negri di pulau sebrang, dan ortu di timur negri, maka Ramadan dan lebaran kali ini kami terpisah 4 pulau di 3 zona waktu. Sesuatu yang baru bagi kami, karena sebelum-sebelumnya hanya di WIB-WIT saja.

Sepertinya saya tidak tau harus menulis apa lagi. Lama tidak menulis membuat saya tak lagi ahli berpanjang-panjang. Namun pada intinya, saya ingin mengajukan permohonan maaf bagi pembaca sekalian. Saya amat yakin dalam interaksi, pasti ada 1-2 atau bahkan lebih yang bisa saja sadar tak sadar menyakiti teman-teman. Karena itu mohon keluasan hatinya untuk membuka pintu maaf, dan terus saling mendoakan yang terbaik untuk kita, negri, bumi, dan semesta yang kita tinggali.

Selamat Idulfitri 1442 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.