Frank Wurst: Nice Place, Nice Food, 'Nice' Price

image

1 Desember lalu, sepulang dari Tembi dalam rangka menyelesaikan tugas saya sebagai LO di Kopdarnas Blogger Nusantara (baca: Aku Blogger), saya bikin janji teman saya (@diaanazmi) untuk ketemuan mengingat sejak kelulusannya dr Universitas Negri ternama di Yogya, saya blm sempat ketemu. Apalagi keesokan harinya dian sudah akan ke Serang.
Dian sendiri baru pulang dr penelitiannya di Flores, Ende, Labuan Bajo de el el. Jd gak pake istirahat kita janjian di Frank Wurst.

Ini memang bukan pertama kali saya kesini. Kunjungan pertama saya dg Mbak Ita (@iqonita) pernah saya ulas di sini.

Seperti saya sampaikan di judul, tempat dan suasana disini asik banget. Apalagi saat itu sedang sepi. Jd saya dan dian poto2 sesuka hati. Tidak hanya meja kursi lampu dinding yg nyaman dan enak di mata. Seragam waiter dan waitress pun lumayan asik diliht. Berasa di jerman2 gitu.
Juga tersedia 4 colokan di dekat setiap meja. Jd yg bawa alat elektronik gak usah takut. Toilet dan wastafel jg cukup bersih n lumayan artistik.
Mushola cukup baik dan tenang saat dipake sholat. Gak yg rata2 di tempat umum lain yg sempit2 bgt.

Nice Food, of course. Kalo gak nice, gak bakal saya balik lagi kesini.
Ada yg berbeda dg kedatangan sebelum2nya saya disini. Jika dulu Wurst (Sosis ala jerman) yg disediakan dlm menu ad 2 tawaran, porsi male dan porsi female, sekarang gak ada lagi. Smua disamakan. Selebihnya menu2 yg ditawarkan selain sosis ada Steak, Hot Dog, dan daging2an. Ada jg Noodle2an macam spaghetti dan fusili. Ad juga opsi Appetizer semacam Salad, Potato Skin, de el el. Untuk Dessert ad Ice Cream, Choco Lava, de el el. Light Meal seperti Nachos, Bruschetta, lainnya saya lupa. Rada2 susah nama2nya. Tp tenang aja, dibawahnya ada keterangannya koq.
Hari itu kami minum Hot Choco Original (@12.000) dan Lemon Tea Iced (@9000).
Cemilannya Bruchetta (sepiring dpt 3 iris, Rp. 18.000), Nachos (Rp.28.000, naik 3000 dr Juli 2013).
Untuk Sosisnya paling murah ada Chicken Bratwurst (Rp. 45.000), sudah include vegetable dan potato nya. Sosis selain itu seinget saya harga nya 50,55 dan naik lagi. Kita bisa milih sendiri kentangnya mau yg mashed potato, fried fries, ato grilled. Sayurnya jg bisa milih mau creamy spinach, salad, atau mixed vegetable.
That’s all. Saya kira dr ulasan Nice Food di atas, tidak perlu dijelaskan lagi kan yg saya maksud dengan ‘nice‘ price?

image

*Frank Wurst terletak di Jl Sabirin 22 Kotabaru. Telp 0274 561913
*Parkir Frank Wurst bisa menyatu dg Parkir Omah Mode
*Lokasi ini bisa menghemat parkir. Bisa buat alternatif nongkrong yg nungguin temen perawatan di LBC, atau skalian mampir gramedia, togamas, dan perpus kota. Ato intip2 isi Omah Mode
*Harga yang saya sebut di atas belum termasuk tax 10%

How Can I Hate Monday?

I hate monday, populer sekali ungkapan itu. Apalagi di kalangan buruh seperti saya yang bekerja setidak2nya 40 jam per week dimulai dari hari senin.
Thanks God It’s Friday, ungkapan juga yang bahkan menjadi judul lagu Katy Perry terasa sekali di lingkungan kerja saya (pastinya saya juga termasuk). Bertemu hari jumat berarti masa rehat Sabtu Minggu smakin dekat. Kadang sudah ada rancangan rancangan yang bisa jd sweet escape kita dr tetek bengek kerjaan yang bikin kepala berdenyut.
Saya termasuk paham ke dua dua nya. Betapa sering saya berbahagia jika jumat datang, dan sangat sering saya berkeluh kesah ketika Monday semakin dekat.
Tapi jumat kemarin berbeda. Akhir bulan sekligus ad pergantian struktur kepengurusan di perusahaan saya, ditambah jelang akhir tahun, membuat jumat saya sedikit lebih berwarna dibanding jumat jumat biasanya. Untunglah Sabtu dn Minggu segera datang. Berbagi cerita inspirasi dan pengalaman serta segala hal bersama teman2 Blogger dan teman2 Disabilitas, mengusir kelelahan dan kepenatan saya sebulan ke belakang.
Senin ini saya lalu berfikir, jika Sabtu dan Minggu sudah memberikan begitu banyak keceriaan, mengapa harus merutuki Senin yang belum lagi datang (tidak jarang saya sudah tidak suka dengar hari Senin disebut2 saat weekend).
Bukankah seharusnya kita memiliki cukup energi untuk mencintai Senin dan hari2 yang mengikutinya. Bukankah tanpa senin selasa rabu kamis kita tak akan jumpa dengan Jumat Sabtu Minggu?. Bukankah dengan ada nya Senin, kita bisa merasakan berharganya Sabtu Minggu kita?.
Apalagi di hari senin, selalu ada cerita baru dr sesama rekan kerja. Dan, oleh oleh baru dari yang habis wisata atau pulang kampung.

image

.
.
.
.
.
*buruh yang belajar mencintai Senin

(Ternyata) Aku Blogger

*ditulis dalam rangka Kopdarnas Blogger Nusantara 2013 di Yogyakarta.

image

Sebelumnya tidak pernah terfikir oleh saya bakalan bertemu komunitas2 blogger. Apakah dg modal blog personal (saking personalnya ditulis dan dibaca cm sendiri), lantas saya blogger gitu?
Tapi rupanya Blogger Nusantara benar2 istimewa. Berawal mas jarwadi (belakangan saya baru tau kalo beliau Humas dan admin sosmed di acara ini) yang meng-invite saya masuk group Blogger Nusantara di Facebook, sampai akhirnya tertarik dan iseng daftar Acara Kopdar Gila 1000 blogger se-Indonesia ini.
Saya masih ingat saat saya protes bahwa blog saya sudah sekarat, jawab beliau :
“gpp qid, biar kamu inget kalo masih punya blog, nanti aku kasih gudibek”
Nonjok banget jawabannya. So karna gak ad ruginya juga, saya daftar beneran deh. Tp untuk kalimat terakhir itu saya belum nagih ke Mas Jarwadi (baru inget).
Udah, gitu aja?
Ternyata tidak. Tak lama stelah nama saya terdaftar, saya mendapat tawaran dari mas Setia Adi Firmansyah untuk turut berpartisipasi sebagai Liaison Officer. Tanpa lama lama, saya mengiyakan. Dalam pikir cepat saya, dengan jadi LO berarti saya bisa turut sibuk sehingga gak jd anak ilang bangeet.
Suka duka LO Event ini, tentu banyaak. Selama event, saya bareng mbak Anna Fardiana terus, beliau jg baru saya kenal saat meeting LO di joglo abang seminggu sebelum event. Suka duka LO Event ini, tentu banyaak. Tapi untuk apa menghitung duka jika suka yang kami dapat jauuuh melebihi yg saya dapat.
Apa yg saya dpat? teman teman baru, pengalaman baru, inspirasi baru, tempat-tempat baru, dan banyak sekali hal baru yg saya dapat (gandengan baru gak termasuk ya, jd masi awet njomblo *ups malah curhat).
Dan di event ini saya diakui bahwa Ternyata Saya Memang Blogger….!!

Yey, tepuk tangan untuk status baru sayaaa…..

Temukan Saya di Path

Mungkin sebagian dr Anda sedikit akrab dg judul di atas. Biasanya kalimat tersebut dibarengi dg foto seperti berikut

image

Sebagian dr Anda mungkin terganggu dengan cara promo akun Path yg seperti itu. Salah satunya ad yg berkomentar “kenapa sih banyak yang ilang di Path trus minta dicariin”, tepat saat foto di atas terpublish di akun facebook saya mll instagram.
.
Foto di atas tentu bukan foto terbaru saya. Kurang lebih diambil januari-februari lalu. Ternyata Path saya sudah aktif pada bulan bulan itu. Saya tdk pernah mengoperasikan Path ini. Tidak ada juga yang mengajak saya untuk aktif ber-Path ria. Sekitar sebulan yang lalu saya iseng ‘bersih bersih’ ponsel dg menghapus aplikasi2 dan file2 yg menurut saya tdk penting. Sampai pada logo merah berhuruf P ini.
Entah dorongan apa saya memilih tdk menghapus bahkan mulai berjalan-jalan dalam path.

Sedikit sekali pengguna Path yang terkoneksi dg saya. Tp sebagai orang dg kadar kepo tinggi, Path tidak memberi keleluasaan bagi saya untuk kepo.
Pertama, tentu saja dr sisi saya awalnya menyenangkan siapa saja yang sudah membaca update saya. Siapa saya yang ikut tertawa, turut sedih, atau suka dg posting saya (di facebook hanya ad opsi ‘like’). Siapa saja yang memang sudah baca posting tp tdk berkomentar, dll.
Tp itu dari sisi saya pengguna/pemilik akun. Bagian paling gak enak di Path menurut saya seperti era Frienster terdahulu. Ada laporan (bahkan dinotif) kalo ada siapapun yg berkunjung ke Path kita (istilahe kalo di FB tu yg liat wall). Pastinya males banget buat orang2 yang kadang suka hobi stalking fb/twitter org lain.  *ops ketahuan.

Saya dg prinsip searching before asking kadangkala memilih mencari tahu sesuatu termasuk mencari tahu seseorang lewat akun2nya. Menurut saya ini sah sah aja dan tdk melanggar hak privasi. Karna setiap yg dibuka baik untuk publik ato di privat friends only, maka tidak ada hak2 pemilik akun yg saya langgar.
Tapi mungkin berbeda dg Path yang prinsipnya seperti rumah. Siapapun yang berkunjung, harus sepengetahuan pemilik rumah.
Sebenarnya bukn masalah besar, hanya terkadang ad persepsi lain yg ditangkap jika ad akun tertentu yang berkunjung ke rumah nya. Ibaratkan saja saya orang yang senang berkunjung kesana kemari. Namun karna ke tidak tahuan tuan rumah yang saya kunjungi, dikiranya saya ad maksud istimewa tertentu sehingga rajin berkunjung ke rumahnya. Pdhl saya berkunjung ke banyak rumah, dan berkunjung memang hobi saya. Saya hanya tdk ingin menimbulkan dugaan2 yang mengganggu akun2 rekan2 saya.
Tp ternyata dibalik keunikan aturan2 Path dibanding dengan aturan2 di jejaring sosial lain, sampai sekarang saya masih betah ber-Path ria. Walo jml akun yg terkoneksi dg saya sangat sedikit, walopun posting saya hanya dibaca sekian gelintir orang, walopun update saya sepi komentar, de el el.
Jadi, apakah Anda masih mau mencari anak hilang ini di Path?

Happy Path-ing

New blog post

Dear, facebooker. Pernahkah Anda merasa ingin menulis status tp bingung status apa yg sebaiknya Anda tulis?. Atau mungkin Anda pernah menulis status, namun karna sepi komentar dan tak ada bombardir like, Anda merasa lebih baik postingan status Anda dihapus saja.

Dear Pengkicau. Pernahkah Anda ingin berkicau dalam jejaring mikroblog Anda namun tak tau apa nyanyian apa yg ingin Anda kicaukan. Atau mungkin ad seseorang yang ingin Anda mention tp Anda tak yakin dg isi pesan mention Anda atau Anda khawatir mention Anda tak terjawab.

Dear Instagrammer. Pernahkah Anda ingin sekali unggah gambar melalui akun instagram Anda tp Anda tak yakin dg gambar yang Anda punya. Atau mungkin Anda tak punya stok gambar namun ingin unggah foto sekedar bukti eksistensi bahwa Akun Anda benar berpenghuni dan beraktivitas. Atau mungkin gambar Anda yg sudah terupload tdk menunjukkan respon positif dr follower ANda kemudian Anda pilih menghapusnya.

Dear Blogger, pernahlah Anda merasakan sepi nya blog Anda. Seakan tak ada nafas berhembus dan nadi berdenyut dari blog Anda, sehingga sangat ingin Anda menulis sesuatu. Sekedar menambah angka di arsip Anda, sekedar pemberitahuan bahwa blog Anda belum wafat. Namun Anda tidak punya ide, tdk ada topik, dan tidak ada apapun melintas di kepala Anda yang dapat dituangkan untuk menggores lembar blog Anda.

Karna, itu yang sedang saya rasakan……
.
.
.
.
Kotagede di tengah hujan, blogger yang lupa pada blog nya

Catching Fire The Movie: Melampaui Imajinasi

Catching Fire, film kedua dari sekuel The Hunger Games yang dibuat berdasarkan novel Trilogi karya Suzanne Collins, Tayang di Indonesia mulai 21 November 2013.
Sebelumnya dikabarkan dengan cukup gencar kalau Film yang berjudul sama dengan novel nya ini rilis per 22 November 2013. Setidaknya ada teman saya yang begitu gencar menginfokan pada saya. Bahkan teman saya ini sampai menyiapkan diri sejak jauh2 hari, untuk ambil jatah cuti di hari premier Film yang dibintangi pemenang oscar muda Jennifer Lawrence ini.
Flash back sedikit, perkenalan saya dengan Hunger Games sebenarnya cukup terlambat dan tidak direncanakan. Saat itu saya dan rekan2 berniat nonton bareng The Raid, film produksi lokal rasa internasional. Namun apa daya, ternyata 3 studio di Empire XXI tidak lagi menyisakan kursi untuk kami. Sehingga teman kami memilihkan The Hunger Games.
Ini di luar kebiasaan saya. Biasanya kalo merencanakan nonton (berlaku jg buat beli buku), saya minimal baca sinopsis nya dulu. Jd pas masuk gedung Cinema, gak blank-blank banget soal apa yg ditonton. Tapi ternyata saya jatuh cinta pada ide gila survival games disini. Baru saya tahu kemudian kalau buku Trilogi nya cukup sukses.
Tersulut display trilogi di gramedia, akhirnya setahun lalu saya mulai baca buku kedua nya. Catching Fire ato disebut dalam alih bahasa ‘Tersulut’. Dan kemudian melanjutkan Mockingjay buku ketiga yang dikirim teman saya jauh2 sampe jogja (ceritanya waktu itu kado ulang tahun yg kecepetan).
Balik lagi ke cerita awal, rupanya saya tersulut ide gila teman saya yang cuti demi premier film. Since cuti tahunan saya masih 4 dan gak bisa diambil berturut2, saya ambil juga lah cuti tgl 22 November (yang mana sebelumnya diberitakan sbg tanggal premier Catching Fire), Disambung senin 25 november.
Menonton Catching Fire membuat saya merasa tidak rugi memilih cuti. Semua imajinasi saya saat membaca bukunya, runtuh dan terasa tak ada apa2nya dibanding tampilan visual yang dihadirkan dalam film nya.
Hampir semua visualnya mengalahkan imajinasi saya dahulu. Juga dramatisasi yang pas, scoring musik yang minim, serta bagian bagian menonjok yang diberi ruang bagi penonton untuk terkejut.
Di awal2 film, digambarkan bagaimana kegalauan Katnis, kebencian Snow, dan aroma pemberontakan.
Selanjutnya bagaimana pemberontakan2 mulai terjadi, simbol simbol perlawanan yang ditampilkan sekilas sekilas, perlawanan di distrik2.
Kekejaman Snow, langkah2nya memberantas pemberontakan, siksaan dan strategi2 dendamnya.
Begitu juga strategi2 perlawanan tribute yang disampaikan tdk terlalu gamblang. Cerdas untuk menjadi bagian yg dapat diolah dalam otak penonton.
Arena Hunger Games sendiri luar biasa. Saya tdk membayangkan pantai dan hutan yg demikian. Ditambah acting luar biasa Lawrence. Saya pribadi lebih senang acting2 Lawrence di arena ketimbang di luar. Cara bertarung nya, rintihan dan jerit kesakitan, mata yang menantang, dan langkah2nya yg gagah (Opo sih).
Bagi saya, film kedua ini lebih mengedepankan action. Adegan drama tidak berlebihan, namun cukup dan pas. Kesenjangan (lebih tepatnya kejomplangan) antar Capitol dan kehidupan Distrik meski tdk banyak, ditunjukkan cukup menonjok.
Beberapa bagian dari buku nya tidak ditampilkan. Sepertinya memang disimpan untuk seri ke tiga nya, melihat ad yg hanya ditampilkan sekilas untuk efek kejut penonton pada akhir film.
Over all, film ini menampilkan action2 yg luar biasa, mengaduk2 emosi, dan kerja total seluruh kru film. Saya merekomendasikan untuk fil akhir pekan Anda.

Oh ya, yang cukup berkesan bagi saya adalah gaun pengantin yang terbakar dan berubah menjadi Mockingjay. Awesome!!! Jauuuh melampaui imajinasi saya yg terbatas. Dan sekedar tambahan, wedding gown Katniss yang berwarna putih adalah hasil rancangan Putra Indonesia: Tex Saviero.

Satu Jam bersama Senja

Perjalanan bagi saya selalu ingin saya nikmati. Sebagai warganegara dengan status tempat tinggal tidak jelas, perjalanan perjalanan sederhana kerap membersamai saya.
Mungkin jika dirunut ke belakang, perjalanan panjang saya dimulai saat berusia 4 tahun dengan kapal laut milik PELNI selama 5 hari.
Setelah itu kembali ke tanah jawa melalui udara dg jarak yang sama jarak tempuhnya cukup 5 jam.
Pernah pula saya menjadi bagian dr penikmat perjalanan darat via Bus. Sampai2 tergerak untuk jd member bismania.org karena aktivitas mobile saya kerap bersama bus.
Ada pula cerita perjalanan saya yang serba ekonomis dengan total pengeluaran Jogja-Denpasar-Jogja hanya 132.000 melalui KA ekonomi plus ferry plus bus.
Tapi saya sedang tidak ingin bercerita ttg moda-moda transportasi di atas. Saya kembali ke favorit saya: Sepeda Motor.
Yap, sejak berhasil mengendalikan sepeda motor, perjalanan dengannya bagi saya terasa istimewa. Setidaknya selalu berusaha saya nikmati.
Alam seakan mendukung. Kini setiap senin pagi dan jumat sore, hampir selalu bisa ku nikmati agungnya lukisan Tuhan.
Why? Oke sekedar tambahan info, tujuan saya nge buruh senin-jumat ada di Timur. Sedang tempat beristirahat dan menikmati day off saya ada di Barat. Jarak tempuh dg kecepatan rata2 kemampuan saya selama 50-60 menit.
Sudah dapat bayangan?
Dengan perjalanan ke timur di pagi hari, berarti saya disuguhi kehangatan mentari pagi. Jika sedikit lebih rajin, saya akan ditemani saat saat golden sunrise. Satu jam tak henti memuaskan mata saya dengan setiap momen pergerakan matahari dari intipannya, kerlingannya, cahaya emasnya, hingga berakhir sentuhan hangatnya.
Momen terindah lebih saya sukai saat senja. Saya lebih sering pulang jumat sore. Fyi, jam kantor saya berakhir pukul 17.00. Bisa dirasa saat saat itu, surya tak lagi menyengat. Namun sinarnya masih melimpah dan menjaga saya dari kemungkinan tersandung jalan2 rusak bergelombang yang menjadi rute saya.
Tak perlu menunggu lama, perjalanan saya selanjutnya dipayungi awan cantik bersemburat jingga. Warna senja yang mewah, romantis, namun menantang. Sedang bola emas raksasa bernama matahari serasa berada tepat di depan saya. Terkadang bersaput awan lembut, seakan sapuan kanvas halus berusaha menggoresnya. Perlahan ia merendah dan mulai bersembunyi di balik gedung2 dan pepohonan nun diujung bumi sana. Malam seakan mengirimkan kode, bahwa tirai nya akan segera turun.
Aneka warna yang seringkali bahkan lebih indah dari pelangi, lebih mewah dari kilau emas di langit sekeliling saya, menjadi pengantar terindah perjalan pulang saya yang selalu sendiri…
Hingga kemudian matahari resmi berpamitan pergi, melanjutkan tugasnya sinari sisi lain bumi ini, dan malam menurunkan pekatnya. Lampu lampu kota, lampu kendaraan semakin terlihat nyata, adzan maghrib menyapa telingaku.
Ternyata tujuanku telah sampai, dan jarum pendek arlojiku sudah bergeser satu angka.
Bagaimana saya akan bosan jika perjalananku bersama lukisan agung sang alam.
Bagaimana saya akan merasa kehilangan waktu jika sudah dibayarnya keindahan visual yang memanjakan.
Bagaimana saya akan merasa sepi jika sekelompok awan menjadi pengantarku.
Seolah seluruh alam bersekutu tuk bahagiaku..
Terima Kasih, Tuhan
Betapa ku cinta Satu Jam ku bersama Senja.