aQ Gak DoYan VIP……………

siang ini panas,,,

seharusnya gak ngeluh…………..
panas dunia kan gak ada apa2nya ma di akhirat ntar…???

kalo di pikir2, stelah aku renungi…
ada satu tiket VIP yang paling aku takutin…………

padahal biasanya kalo gy panas2 gini, tempat istirahat paling enak tuuh ya di ruangan VIP.

naik kendaraan pun kalo duid mencukupi, and pengen nyaman ya nyarinya yang VIP.

tapi emang VIP yang ini paling nakutin

smOga aja Q gak PErnAh Punya apalagi Berkesempatan

Yupz………..
tiket buat Neraka VIP.
Bayangin dah,,
fasilitasnya lengkap banget:

  • Gak pake antri, langsung masuk
  • Ruangan Luas,
  • Pemanas ruangan paling Tinggi
  • Pelayanan Maksimal dari malaikat Maut
  • bareng artis2 terkenal
  • and masih bayak lagi fasilitas lainny

hmmm………….
fasilitas maximum yang ikin keder…………..

makanya, dari skarang aQ pengen nyicil buat beli tiket Surga. yang Ekononomi aja gak masYalah…………
yang penting judulnya SURGA

bahkan, seumpama gak dapet or kehabisan, bagasinya surga pun aku rela dah
dari pada dapet neraka, VIP lagi…………..

tapi kan buat itu gak gampang, aQ kudu banyak2 belajar and beramal biar bisa ngerjain soal2 ujian akhirat.

Aq tau kok, kalo soal akhirat tuh udah BOCOR dari jaman dulu, tapi tetep aja banyak yang gak lulus………….

makanya, Qt kudu bbelajarnya yang bener2, gak stengah2 buat dapetin tiket surga…………….

ya,,,,,,,,,,,,,,

moga aja Qt bakal ketemu di Surga nTar………………..

AMIEN>………………

Mahasiswa, kini dan akan datang

Siapa yang tidak kenal dengan mahasiswa…
Siapa pula yang tidak tahu sepak terjang mahasiswa….?
Sejak zaman kemerdekaan, reformasi hingga sekarang, mahasiswa telah menjadi “kritikus ulung” pada wajah perpolitikan Indonesia. Tidak sedikit ‘nasehat” yang dilontarkan oleh mahasiswa, mampu memerahkan kuping para pejabat. Tidak sedikit pula perubahan yang diawali oleh “rajukan’ yang diajukan rekan-rekan mahasiswa.
Lihat saja tragedy “Mei 1998”. Masa runtuhnya rezim jendral besar soeharto (alm). Turunnya presiden yang telah berkuasa 3 dekade lamanya, tidak lain dan tidak bukan, ada campur tangan mahasiswa juga ‘auditor publik’, mungkin itulah mahasiswa.
Sebagai penasehat setia pemerintahan, setiap langkah pemerintah yang dinilai tidak adil, langsung dikritisi. tidak tanggung-tanggung, dengan menghadirkan banyak massa. mungkin setiap gerak-gerik pejabat, tidak ada yang luput dari pengamatan mahasiswa. Saking amanahnya menjalankan tugas sebagai “penasehat sukrela”, sebagian pejabat atau orang-orang ‘berdasi” merasa kebal dengan kritikan. Tetapi, hal ini tidak menjadi hambatan bagi kawan-kawan mahasiswa. Bahkan, makin hari semakin bermunculan aktivis-aktivis yang menyuarakan aspirasinya atas nama rakyat Indonesia.
Kelahiran aktivis-aktivis tersebut seperti tak terbendung. Dari berbagai kampus, dengan basic apapun. Selama kebijakan pemerintah dinilai belum “bijak”, penasehat sukarela inipun takkan berhenti memberi nasehat. Dengan cara apapun…. Sebuah pendapat dari kawan mahasiswa mengatakan, ‘Mahasiswa sebagai agen perubahan, begitulah identitas yang selayaknya terus mengakar dalam diri mahasiswa. Mereka ada untuk menjadikan perubahan. Mereka ada untuk memberikan perbaikan. Mereka ada untuk masyarakat yang sejahtera secara adil dan merata, serta untuk Indonesia yang lebih baik.apalagi,’ mahasiswa adalahh generasi muda penerus bangsa. Mungkin karena inilah, yang menjadikan mahasiswa merasa terpanggil untuk berperan serta dalam membangun Indonesia yang lebih baik.
Hal ini tentu membanggakan. Bagaimana tidak, jika nantinya, pemerintahan akan diteruskan oleh mantan “penasehat sukarela” yang kini, saat masih mahasiswa, gemar menyuarakan keadilan. Berarti, beberapa tahun lagi, Negara akan menjadi lebih baik sebagaimana yang disuarakannya saat ini.
Benarkah…………?
Kenyataannya, saat inipun kondisi Negara kita masih carut marut. Padahal, tidak sedikit mantan aktivis mahasiswa yang dulunya mengkritik pemerintah yang kini duduk di pemerintahan.
Bahkan ada juga pelaku korup dan tindak penyelewengan lain, dilakukan oleh mantan aktivis. Mungkin godaan dalam pemerintahan sangat besar. Atau, menjadi praktisi tidak semudah saat mengkritisi. Sehinngga akhirnya, dari idealisme awal yang lurus, mulai sedikit membelok, dan akhirnya melenceng sama sekali. Akibatnya, seperti yang kita lihat saat ini, mantan aktivis yang sudah menikmati empuknya kursi ‘berharga’ sudah lupa dengan apa yang pernah disuarakannya.
Akankah generasi kita menjadi seperti itu…………?
Semoga aktivis mahasiswa saat ini, tidak mudah pikun dengan apa yang pernah disuarakannya setelah menduduki “kursi panas” pemerintahan dan siap untuk di “nasehati” oleh “penasehat sukarela” yang baru.
Alangkah indahnya jika hal itu akan terlaksana esok.
Semoga…!!!!
HamaSah yang sunYi
Jogjakarta, 1 March 2008 01:24 AM