Press "Enter" to skip to content

Ponsel Mati Saat Solo Traveling?

Last updated on Juli 5, 2020

Pagi tadi saya melarikan sepeda motor sewaan dari penginapan sekitar Senggigi ke Pelabuhan Bangsal. Perjalanan yang menyenangkan, menyusuri aspal mulus dengan pemandangan laut dan gemuruh debur ombak, tepat di sisi kiri. Ini pagi pertama saya di Lombok, setelah mendarat dari Jogja kemarin sore.

Lombok
salah satu view dalam perjalanan Senggigi-Pelabuhan Bangsal

Hari ini saya berencana menyebrang ke 3 Gili. Senang sekali rasanya mengetahui kawasan 3 Gili ini ramah untuk dieksplor pejalan Solo. Berbeda dengan kebanyakan wisata pulau-pulau yang biasanya harus menyewa kapal, sehingga harus mencari rombongan untuk sharing cost.

Boat untuk rame-rame eksplor 3 Gili

Di sini kita bisa menyebrang ke Gili Trawangan, Gili Meno ataupun Gili Air dengan public boat. Untuk eksplor 3 Gili, ada banyak paket snorkel yang ditawarkan dan bisa dibeli satuan. Saat itu hanya Rp. 100,000 saja kita bisa naik boat rame-rame dengan turis lain, ditemani pemandu lokal, daan dibekali perlengkapan snorkel gear, fins dan life vest.

Snorkel Gear, Vest, Fins, dan Pemandu

Usai memarkirkan sepeda motor, saya berjalan ke loket pembelian tiket. Menyebut tujuan Gili Trawangan dan menyebutkan nama serta alamat. Dengan menggunakan public boat, perjalanan ke Gili Trawangan cukup membayar Rp. 15,000 saja per orang. Setiap penumpang akan diberi tiket dengan warna-warna tertentu sesuai kloter. Nantinya akan diumumkan keberangkatan sesuai warna tiket.

Waktu berangkat Public Boat masih beberapa menit lagi. Saya berteduh di bawah pohon tepi pantai. Sembari menunggu, saya mengeluarkan ponsel untuk membuka beberapa notifikasi yang masuk. Tiba-tiba ponsel bergetar dan muncul tampilan restart.

‘ah, penyakit lama’ pikir saya sembari menunggu proses restart selesai. Namun tunggu punya tunggu, tak ada tanda-tanda ponsel akan kembali hidup. Saya coba dengan menekan tombol power, ponsel hanya bergetar dan kembali mati, bersamaan dengan panggilan naik kapal.

Kapal kapal di Gili Trawangan

Pagi itu boat cukup ramai. Baik turis maupun penduduk lokal menjadi satu di dalam boat. Saya sempat khawatir karena baru 3 bulan sebelumnya saya mabuk laut saat menyebrang ke Karimun Jawa. Alhamdulillah perjalanan kali ini aman sentosa sehat wal afiat.

Saya sempat mencoba kembali mengaktifkan ponsel dalam perjalanan ke Gili Trawangan. Sadar tidak membuahkan hasil, saya masukkan kembali ponsel ke dalam tas. Belum ada kekhawatiran saat itu, karena toh hari ini saya akan di laut seharian. Ponsel tidak begitu dibutuhkan hari ini. Tidak pernah terbayang sebelumnya saya akan mengalami ponsel mati saat traveling.

selain sebagai penunjuk jalan, ponsel juga berfungsi sebagai remot untuk swafoto

Saya masih berbaik sangka mengira ponsel akan kembali normal sore nanti. Mengingat ponsel restart mendadak ini bukan pertama kalinya. Namun sangkaan saya rupanya tidak terbukti. Ponsel itu tetap mati sampai saya meninggalkan Pulau Lombok 5 hari kemudian.

Kedatangan saya ke Lombok saat itu memang solo trip. Saya datang sendiri tanpa memiliki ataupun menghubungi kenalan siapapun di Lombok. Saya juga menyewa sepeda motor agar dapat lebih bebas kesana kemari dan tertawa. Sesekali saya memang senang menikmati perjalanan sendiri.

Pemandu sekaligus teman perjalanan saya, tentu mbak-mbak google maps yang senantiasa siap mengarahkan kapan harus berjalan lurus, belok ke kanan, memutar, atau berbalik arah. Agar tidak ribet, biasanya saya pakai navigasi memlalui sura, dan mengenakan earphone. Maka keberadaan akses internet dan ponsel pintar sebenarnya menjadi sangat penting. Sayangnya kali ini ponsel itu mati, sementara sisa hari saya di sana masih panjang.

Beruntung saat itu saya membawa ponsel lain yang hanya bisa tersambung dengan wifi. Praktis selama seminggu di Lombok, saya hanya mengandalkan ponsel tanpa sim card, dan koneksi wifi hotel. Ternyata tidak buruk juga, saya masih sangat menikmati piknik piyambakan meski tanpa ponsel yang berfungsi normal.

Ponsel jadul yang slot sim-card nya sudah rusak

Kesibukan saya setiap malam kemudian adalah mengumpulkan cukup informasi untuk rencana perjalanan esok hari. Sebelumnya, tentu saja saya sudah mengunduh google maps offline dengan radius satu pulau lombok. Tak lupa mencoba untuk mengaktifkan kembali ponsel yang mati, walau lagi-lagi tetap sia-sia.

Google Maps Offline memang cukup membantu untuk sampai ke berbagai lokasi tujuan yang saya inginkan. Hari pertama saya ditemani hingga total jarak tempuh 173 km. Tentu sudah termasuk nyasar berkali-kali, dari yang hanya ratusan meter hingga belasan kilometer.

Nyasar belasan kilometer sampai Desa Senaru,

Rupanya google maps offline tak secerdas ketika online. Apalagi ketika Mbak Google tiba-tiba berbunyi ‘Sinyal Hilang’. Rasanya ketar-ketir tak karuan, walau dengan mantap saya tetap memilih jalan lurus. Percaya saja, kalaupun salah jalan, mbak google akan berteriak memerintahkan putar balik. Begitu terus hingga liburan berakhir.

Dari berbagai pengalaman perjalanan solo, tidak pernah terpikir sebelumnya bagaimana mengatasi ponsel mati saat traveling. Saya cukup bersyukur karena kejadian ini masih di negri sendiri. Saya juga masih cukup mudah untuk bertanya jika merasa nyasar kejauhan. Mendapatkan informasi dari banyak berbincang dan mengobrol dengan orang lain. Juga memiliki koneksi wifi yang memadai di hotel.

Namun dari pengalaman ini, saya pikir mungkin perlu juga mempertimbangkan gadget cadangan ketika solo traveling lagi nanti. Karena walaupun saat itu liburan saya cukup menyenangkan, sesungguhnya menjalaninya tetap tidak mudah.

Punya pengalaman tak terduga juga saat traveling?

8 Comments

  1. Nasirullah Sitam Nasirullah Sitam Juli 6, 2020

    Ternyata ponsel Experia-mu masih berfungsi ya ahhahahah. Jadi nggak cuma buat merekam atau dijadikan properti berfoto saja.

    • aqied aqied Post author | Juli 7, 2020

      hahaha, udah gak bisa dipasangin simcard dan tampilan layarnya udah bergaris2.
      tadinya gak niat buat dibawa, trus akhirnya dibawa aja lah. Niatnya buat jaga-jaga aja kalo pas Island Hoping gak bisa keluarin kamera.
      Ternyata keputusan yang tepat sekali. Kalo gak kebawa, aduh entah deh gimana.

  2. Fasya Fasya Juli 6, 2020

    Udah mah sendiri, hape mati. Aku mah jangankan hape mati atau bawa cadangannya mba, sendiri aja udah gamauuuuu aaaaa aku emang gabisa pergi jauh sendirian hahaha.

    • aqied aqied Post author | Juli 7, 2020

      wkwkwkkwkw
      jangaaan, kamu gak akan kuat. biar aku aja

  3. Ikhwan Ikhwan Juli 6, 2020

    Tergantung kasusnya mungkin ya. Untuk penyebab matinya ponsel karena kehabisan daya sih bisa kita hindari dan antisipasi ya, misalnya dengan hanya menggunakannya di saat perlu, mematikan location, bluetooth, dan feature penguras daya lainnya, serta membawa powerbank.

    Tapi kalau untuk yang matinya tanpa sebab seperti yang Mba aqied alami, kayanya memang agak PR ya. Apalagi kalo ga bawa hape cadangan sama sekali. Solusinya mungkin memang harus bawa hape cadangan, minimal bisa buat nelpon dan sms untuk kondisi darurat.

    Padahal kalau dipikir-pikir, saat teknologi hape belum secanggih sekarang, dulu kan orang-orang tetap bisa jalan-jalan dengan modal buku saku lonely planet atau peta manual ya. Ketergantungan kita pada hape sepertinya ada efek ke penurunan kemampuan survival kita juga ya haha..

  4. Gallant Tsany Abdillah Gallant Tsany Abdillah Juli 6, 2020

    kalo aku bukan tipe orang yang suka dengerin mbak-mbak google maps, soalnya lebih suka ngelamun sambil menghayal kalo lagi nyetir. ada suara gitu malah buyar.
    aku lebih seneng baca google maps sebentar terus inget-inget jalan, berhenti lagi nanti. tapi emang repot sih. hahaha.

    agak bahaya juga ya kalo ponsel mati kayak mbak aqied, pas traveling sendirian. apalagi misal di ponsel tersebut ada data-data penting seperti tiket. tentu aku sih setuju mbak kalo perlu ponsel yang prima atau setidaknya bawa cadangan kalo udah apal ponselnya sering gangguan gitu.

  5. Sukman Ibrahim Sukman Ibrahim Juli 20, 2020

    Dalam setiap perjalanan, saya selalu mematikan sinyal. Saya tak pernah pakai google maps. Saya pake GPS (Gunakan Penduduk Setempat) haha…

    Jika pas ngrekam atau moto sinyal hp hidup, ganggu banget rasanya. Kalau tersesat, saya kira malah bisa jadi bahan tulisan yang menarik. Hehe…

    salam…

  6. Ghina Ghina Agustus 7, 2020

    Hallo Mbak Aqied, salam kenal..

    Saya sempat juga mbak kehilangan arah, di negeri orang, sambil bawa anak pula, naik sepedaan muter-muter aja terus. Dengan modal feeling akhirnya nyampe juga setelah perjalanan hampir satu jam, pdhl harusnya setengah jam jg nyampe.

    Dari situ saya baru paham lho betapa lemahnya perempuan dalam hal navigasi. Selama ini juga selalu ngandelin suami buat jalan kemana-mana. heuheu

    Jadi, traveling piyambakan ini nampaknya menantang sekali nih. Semoga suatu saat bisa kek gini, huhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.