Kumpulan Foto Siluet Berhijab

Ide ini muncul setelah mengamati pencarian search engine yang nyasar ke blog ini. Sepertinya di luaran sana banyak netijen yang mencari foto-foto siluet perempuan berjilbab. Kira-kira untuk apa ya?

Saya suka sekali foto siluet, salah satunya siluet berhammock yang menjadi header blog ini. Foto siluet diri sendiri yang dijepret menggunakan fitur remote viewfinder dari ponsel yang disambungkan ke kamera. Lokasi fotonya pun membangkitkan rindu. Pulau Kaniungan, sebuah pulau kecil yang hanya dihuni 18 KK saja.

 

Foto Siluet terfavorit

Baca Selengkapnya di Kaniungan, Aku Jatuh Cinta

(lebih…)

Refleksi Masjid Agung Jawa Tengah

MAJT dalam lensa 10mm

Bahagianya usai mencicipi senin rasa weekend. Libur Maulid Nabi Muhammad SAW kemarin membuat saya jadi menengok ke belakang saat senang-senangnya memotret masjid masjid. Termasuk sebenarnya menara masjid di depan rumah tinggal saya sekarang. Namun yang paling berkesan dari potret memotret masjid adalah saat di Masjid Agung Jawa Tengah atau MAJT.

sudah cukup lama dari kunjungan terakhir saya ke masjid seluas 10 hektare ini. sebenarnya tidak hanya sekali saya sempat menginjakkan kaki di sini. sebelumnya, sempat saya menghadiri pernikahan seorang kawan di gedung pertemuan dalam kompleks MAJT. Namun kala itu, tidak banyak dokumentasi yang dapat tersimpan.

Masjid Agung Jawa Tengah tidak hanya menyediakan tempat ibadah. Kabarnya memang dimaksudkan juga untuk tujuan wisata religi. Menara Al Husna menjulang setinggi 99 meter dengan Museum Kebudayaan Islam di lantai 2 dan 3. Sedang di puncak menara, terdapat 5 teropong yang dapat melihat kota semarang dari atas. Masjid Agung ini juga dilengkapi wisma penginapan sebanyak 23 kamar dalam berbagai pilihan kelas. Jangan lupa pula mencicipi sensasi unik  di lantai 18 Menara Al Husna dimana  terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat.

Selain luas dan ragam fasilitasnya, saya menemukan titik menarik untuk membidikkan kamera. Jika selama ini kesulitan dengan memotret pencerminan dalam air karena air yang tidak cukup tenang, kali ini saya menemukan marmer. Letaknya yang tepat di tengah menghadap megah dan uniknya bangunan arsitektur masjid ini, memanjakan fotografer amatiran seperti saya.

Menggunakan lensa 18mm

Saat itu saya masih belum puas, karena terlalu banyak bagian masjid yang terpotong. Akhirnya saya mencoba lagi dengan menggunakan lensa yang lebih lebar. Beruntung saat itu karena dalamevent Hunting Bareng NX Club, saya bisa dapat pinjaman lensa 10mm. Hasil pertama dari kejauhan bisa menghasilkan gambar seperti pada awal artikel ini. Selanjutnya saya letakkan di marmer tempat saya membidik refleksi sang masjid, maka begini hasil akhirnya.

alhamdulillah, hasilnya bisa bikin yang motret jadi sukak sama hasil jepretannya sendiri. Walaupun ketika dilombain, ya gak menang juga sih #ehcurhat.

Di Balik Selembar Foto

image

Feed instagtam yang tak seberapa kece

Tahukah kamu, apa yg dilakukan teman teman saya untuk dapat foto bagus?

Sebagian mereka harus bangun lebih awal dari kamu, bersepeda motor menembus dingin dini hari, sebagian lagi harus mengusir kantuk dengan treking yang tidak sedikit, belum mandi, masih lapar,

demi bisa mengabadikan momen matahari terbit.

Sebagian dari mereka rela menyisihkan sebagian isi dompet untuk bensin, untuk transport dan beberapa retribusi lain bahkan tidak jarang membayar lebih untuk harga masuk kamera.
.
Sebagian pula harus menahan hasrat ngopi ngopi cantik di kafe kafe lucuk. Menahan lapar dan perut dari makan enak di resto hits. Menahan diri cukup scroll e-commerce tanpa belanja fashion terbaru. Demi bisa dapat kamera impian dengan kualitas gambar prima.

Sebagian lagi harus rela bepergian jauh, medan yang beragam dan tak jarang sulit, tak jarang membuat sepatu dan baju kotor, sebagian menjadi santapan nyamuk, bahkan jika apes bisa dicium ulat bulu. .
.
.
Sebagian lagi mungkin harus melewatkan dinner malam minggunya saat sunset yang jarang datang di musim hujan ternyata menyapa, atau mendaki ketinggian saat langit mendukung untuk mengabadikan bintang. Berbahagialah kamu yang malam minggu mu sempurna.
image

Tentu masih sangat banyak perjuangan dan pengorbanan lain yang teman teman saya lakukan untuk foto-foto indah yang bisa dengan mudah kamu nikmati di instagram feed mereka, di catatan perjalanan blog mereka, di akun sosial media mereka, di akun akun berbagi foto mereka.
.
.
Mudah memang mengambil gambar mereka, menghapus atau menimpa watermark mereka dengan watermark baru mu, mudah memang mengupload ulang dgn seolah olah itu milikmu dan karyamu. .
.
Tapi kamu gak akan pernah tau bagaimana pengorbanan dan perjuangan selembar foto itu.

Dan yang pasti,
Kamu BENAR BENAR TIDAK TAHU bagaimana menghargai sebuah karya.


Kamu bukan yang segitu gak punya karya kan?

sebelumnya pernah dipublikasikan dalam caption sebuah foto akun pribadi saya pada jejaring sosial Instagram. Link hidup ke postingan tersebut di sini

image

Memotret dalam Gelap

tanpa tripod, Aperture f/2.4 Exposure 20s ISO 800 Focal Length 16mm Samsung NX1000

tanpa tripod, Aperture f/2.4
Exposure 20s
ISO 800
Focal Length 16mm
Samsung NX1000

Siapa yang tidak suka memotret dengan cahaya minim? Saya acung jari tinggi tinggi. Jujur saya itu minim banget keahlian buat nyiasatin mengambil gambar low light. *emang kalo yang lain ahli? Kayanya adaaaa aja salahnya dan berasa gak pernah puas dengan hasil jepretan sendiri. Paling gampang emang motret landscape di tempat yang udah bagus. Mau motret jungkir balik beraneka gaya pun, baguss deh hasilnya.

Gak mau kelamaan terpuruk dengan ngandelin matahari dan sinar terang terus-terusan, saya mulai deh coba coba memotret gelap-gelapan. Yang kali ini saya mau share adalah pengalaman saya saat memotret di lokasi yang bukan minim cahaya. Tapi GELAP GULITA. Serunya adalah, hasil fotonya jadi seolah olah men-siang-kan malam.

Berhubung saya gak sering-sering amat gelap-gelapan, koleksi foto yang jadi contoh saat ini kebanyakan diambil di dermaga Sunset Point Derawan Fisheries sekitar pukul 23.00-02.30 WITA. Kebayang kan gelapnya? Ya walaupun gak gelap gelap banget karena bintang-bintang yang bertaburan banyaknya. Plus cahaya bulan yang walaupun bukan bulan terang, masih menyapa sampai akhirnya tenggelam. Juga masih ada lampu-lampu watervilla lain di kejauhan, atau lampu kelap kelip penanda kapal atau dermaga lain. Tetap saja di sini saya deskripsikan sebagai gelap gulita, karena yang tertangkap di layar kamera memang cuma hitam.

Jadi apa saja yang saya lakukan saat itu untuk dapat koleksi gambar yang bertaburan di sini?

1. tripod

sebenarnya di antara foto foto yang saya di sini gak semuanya pake tripod sih. cuma ya harus yakin banget kalo bakal bisa steady dan gak gerak sama sekali. misal diletakkan di bidang datar, atau diganjel gimana biar beneran gak gerak. Nah, untuk cara paling amannya, mendingan pakai tripod aja yang udah jelas menjaga kestabilan kamera.

kenapa harus stabil?

Tentu saja karena untuk memotret dalam gelap ini menggunakan rana lambat. Bisa sampai 30 detik untuk mengambil satu gambar.Ini berarti dalam 30 detik si kamera butuh bener bener diem. Begitu juga objeknya. So, kalo jadi model maupun fotografer untuk foto gelap-gelapan gini, yang sabar yaa. Ceritanya main patung-patungan dulu gitu.

2. gunakan mode manual pada kamera

Saya bukan yang tipe kalo motret harus manual atau pilih auto. Tapi untuk kondisi khusus seperti ini, setau saya sih memang bisanya settingan manual, atau mungkin ada yang punya info kamera apa yang fitur autonya bisa men-siang-kan malam?

men-siang-kan malam, moonset Aperture: f/2.4 exposure time: 20s ISO : 800 Focal Length : 16mm (lensa fix) Samsung NX1000

men-siang-kan malam, moonset
Aperture: f/2.4
exposure time: 20s
ISO : 800
Focal Length : 16mm (lensa fix)
Samsung NX1000

Nah, di setting manual ini maksimalkan aperture, gunakan ISO tinggi, dan rana/exposure lambat. Bisa dicoba dulu serba mentok semua, kemudian disesuaikan. Atau bisa juga mencontek sekian banyak tutorial. Saya sendiri awal awal taunya dari akun akun instagram yang rajin nampilin setting kameranya. Disini saya tulisin juga keterangan setting yang dipakai pada 5 foto yangsaya potret dalam gelap. Mugkin bisa dicontek.

 

3. gunakan fokus manual

Ini gak mutlak sih ya. Saya mentok fokus manual kalo emang auto fokus saya udah gak bisa ndetect. Namanya juga di tempat gelap gulita, yang ketangkap kamera cuma hitam pekat aja. Kadang kadang juga malah fokusinnya di yang bukan kita mau. Ini kejadian di saya saat mau motret moonset alias bulan terbenam sekitar jam 2 dini hari. Bulannya cetar banget tapi sisanya blurr semua. Jadilah foto-foto moonset yang saya tampilkan di sini menggunakan fokus manual semua.

Untuk mempermudah, dan jika objek lumayan dekat, soal fokus ini bisa diakali kok. Di foto ini misalnya, model bisa disenterin dulu oleh fotografer, untuk kemudian ditangkap fokusnya di kamera dengan autofokus. Setelah shutter kamera bisa dijepret, yasudah tidak harus disenterin terus-terusan. Selagi si model anteng, Insya Alloh hasil foto pun memenuhi syarat instagramable.

Aperture : f/2.4 Exposure time: 25s ISO : 800 Focal Lenght 16mm Samsung NX1000

Aperture : f/2.4
Exposure time: 25s
ISO : 800
Focal Lenght 16mm
Samsung NX1000

 

4. Maksimalkan kamera dan lensa

Aperture f/2.4 exposure time 30 detik ISO: 1600 Focal Lenght: 16mm Samsung NX1000

Aperture f/2.4
exposure time 30 detik
ISO: 1600
Focal Lenght: 16mm
Samsung NX1000

Seperti saya bilang di poin 2, penggunaan fitur manual ini maksudnya buat memaksimalkan kamera dan lensanya. Kalo saya sebutin tadi aperture yang maksimal itu misalnya di foto-foto saya ini saya pakai f/2.4 karena memang  lensa fix 16mm saya memiliki f 1:2.4. Tiap lensa punya f yang berbeda-beda. Kalo selama ini gak ngeh sama lensanya sendiri, coba dilihat di bagian depan lensa biasa tertulis f-nya 1:sekian. Lensa kit saya yang biasanya bawaan pembelian kamera, f-nya 1:3,5-5,6.

Dari saran saran yang saya dapat, untuk bisa dapat fokus yang lebih tajam, bisa coba pake bukaan sempit atau tengah tengah. Jadi gak kaya saya yg f/2.4 semua. Tapi bisa coba f/7-11. Saya sendiri belum nyoba, tapi saya pikir layak dipertimbangkan.

Selanjutnya untuk ISO, biasanya untuk memotret bintang atau sangat gelap menggunakan ISO tinggi. Tiap kamera juga punya masing-masing maksimal ISO. Dari nyontek sana sini, untuk memotret bintang atau sangat gelap, menggunakan ISO di atas 1000. bisa pakai ISO 1200-1600. Kebiasaan saya kalo baru coba-coba, segala settingan saya ekstrim-kan. Tapi ini untuk yang selo aja ya, karena sekali jepret kan harus 20-30 detik. Jadi kalo gak terlalu selo, gak usah kelamaan coba-coba. Fungsi ISO sendiri untuk mengatur cerah atau gelap. Dilemanya, pada ISO tinggi kadang berpotensi muncul noise atau semacam titik titik kotor di warna-warna gelap. Kamera saya sendiri punya kemampuan ISO hingga 12800, tapi saya cuma nyoba mentok di 1600.

Untuk Exposure time, karena kamera saya mentok di 30s ya saya cobanya sampai di situ aja. Rata-rata untuk mengambil gambar rana lambat, 30 detik sudah cukup kok. Jika di kamera tidak sampai 30 detik, atau ingin lebih dari 30s, bisa mencoba fitur bulb. Bulb ini akan mengambil gambar dengan exposure sesuai lama jari kita menekan tombol shutter. Saya sendiri belum pernah karena gak yakin kalo tangan saya bisa stabil atau gak tergoda buat ngupil atau ngemil gitu. Tapi saya udah lihat sendiri kalo berhasil pada temen motret saya.

 

Semua yang saya sebutin di sini tentu bukan mutlak dan harus ya. Percobaan saya sendiri juga belum banyak, karena gak sering-sering juga saya di tempat gelap gulita. Jadi, terbuka banget kalau temen temen berdiskusi soal gimana mengabadikan gambar saat gelap-gelapan. Saya yakin pasti banyak yang punya pengalaman lebih canggih soal fotografi ruang gelap gini.

moonset Aperture: f/2.4 exposure time: 20s ISO : 800 Focal Length : 16mm (lensa fix) Samsung NX1000

moonset
Aperture: f/2.4
exposure time: 20s
ISO : 800
Focal Length : 16mm (lensa fix)
Samsung NX1000

gimana, sudah siap memotret dalam gelap gulita?

 

*semua foto diambil dari sunset point Derawan Fisheries

Memotret Ulat

Salah satu yang menyenangkan saat berwisata adalah berbincang-bincang dengan pihak wisata. Apalagi kalau pemandu atau guide juga penduduk asli. Banyak hal lucu, seru, baru, hingga seram bisa kita dapatkan.
Kala itu kami dipandu saat menyusuri Goa Gelathik, salah satu Gua di kawasan Desa Wisata Bejiharjo Gunungkidul Yogyakarta.

image

Full team, toleh kiriii grak!!

Bersama teman teman traveler gosip meliputi Gallant, Mb Dwi, Bang Udi, Reza dan Hanif usai menyusuri Gua Glathik bersama Pemandu Mas Angga dan Partner (kami lupa namanya). Tentang Goa Gelathik sendiri biarlah ia menjadi postingan terpisah. Ada banyak percakapan sekeluarnya kami dari gua. Beliau menjelaskan tanaman-tanaman di sekitar kami. Juga serangga dan hewan kecil yang biasa hidup dengan lingkungan saat itu.

image

Full team plus pemandu yang seru

Salah satu yang menarik, tentu saja ulat lucuk endut ginuk ginuk ini. Kedua teman saya Reza dan Mbak Dwi sudah ribut tidak ingin berdekatan dengan si hijau lucu ini. Saya yang baru kali itu melihat ulat sebesar ini, plus pula banci kamera, langsung tertarik dan mencoba mengabadikan.

image

Ulatnya kemayu, malah mlipir pas mau dipoto

Sayangnya tentu saja saya tidak ada persiapan dan tidak menyangka akan bertemu objek kecil yang pantasnya diabadikan via lensa makro. Alih alih yang terpasang di kamera saya adalah lensa fix 16mm. Mengingat pada rencana awal memang akan mengambil gambar lanskap. Tak mau kehilangan momen, jadi saya paksakan saja.

image

Susah banget mau dipoto dari depan

Strategi awalnya, dengan menggunakan single fokus dan titik fokusnya saya arahkan ke tengah. Dengan demikian, akan sedikit lebih mudah mendapat fokus dan lumayan bokeh yang diinginkan. Warna hijau pada ulat dan warna background berupa dedaunan dan tumbuhan sekitar, sedikit mempersulit. Plus lagi saya harus sangat mendekat karna tidak dapat melakukan zooming pada lensa fix.

image

image

Menurut bapak Pemandu, ulat ini aman. Tidak beracun, tidak menggigit, apalagi membuat gatal. Bahkaaan kabarnya Enak dimakan. Sayangnya saya lupa menanyakan bagaimana pengolahan masak untuk ulat jenis ini dan seperti apa rasa yang keluar. Seperti misalnya Belalang yang bisa dibacem, dimasak dg cabe, digoreng kriuk, dan hasil akhir cita rasanya mirip udang.

image

Meski ulat ini banyak ditemukan di pohon jati, tapi ini berbeda dengan ulat jati yg makan daun dan berukuran kecil.  Meski kabarnya sama sama enak dimakan dan ulat jati kecil yang munculnya musiman ini harganya cukup mahal, sekitar  Rp. 80.000/kg. Lagi lagi saya tidak bertanya berapa harga untuk ulat endut hijau ini perkilogramnya. Sempat ada perbincangan soal musiman juga ataukah tidak,  tapi payahnya saya pun lupa.

image

Usaha ngambil gambar ulat aja serius, apalagi usaha buat ngambil hati kamu

Pada ulat kedua, saya malah sama sekali tidak mendapat gambar. Gagal fokus terus menerus plus satu tangan yg harus megangin batang pohon yang sedikit dicondongkan, semakin menyulitkan saya. Ditambah lagi teriakan protes karena saya terlalu lama bermain ulat. Tidak ber ke princess an sekali mainan saya ya. Tak apa lah, Setidaknya saya gak mainin perasaan.

image

Kebanyakan gaya tapi gak dapat gambar

image

Perbandingan ukuran ulat

Desa Wisata Bejiharjo memiliki beberapa pilihat wisata, seperti Cave Tubing Pindul, River Tubing Kali Oyo, Caving Gelatik, dan Off Road Jeep Bejiharjo.

Untuk informasi dan reservasi silahkan klik http://www.desawisatabejiharjo.net

Akun sosial media di twitter dan instagram.

foto yang ada saya dlm frame oleh Hannif dari insanwisata.com

Take nothing but picture, leave nothing but Kenangan.

image

Sayang Pohon