Gagal Malas Mandi di Air Terjun Jagir

Sebagai pekerja setiap senin sampai jumat, dilanjutkan pelajar saat sabtu, saya terpaksa melakukan aktifitas yang tidak saya sukai setiap paginya. Mandi Pagi. Ya, ada kalanya kita tetap harus melakukan apa yang tidak kita sukai meski terpaksa. Maka saat-saat libur tanpa kewajiban mandi pagi adalah kemewahan tiada tara bagi saya.

Namun rupanya tidak demikian dengan teman-teman #TripTanpaDeadline yang agak-agak kesal dengan kemalasan saya ini. Maka pada suatu pagi, dengan sengajanya destinasi yang dipilih adalah Air Terjun Jagir, Kampung Anyar. Kolam air terjun ini dapat dicapai dengan menuruni tangga dari tanah yang tidak sempat saya hitung jumlahnya. Karena saya bukan Sherlock Holmes yang otomatis menghitung setiap jumlah tangga yang dilaluinya.

Begitu menjejak tepi kolam dengan dua air terjunnya, saya mencelupkan jempol kaki dan mengeluh dalam hati.

“duh, dingin banget”

Kemudian clingak-clinguk mencari kehangatan.

(more…)

Baluran, Bukan Sekadar Kulakan Foto

Sudah lebih dari 3 tahun dari terakhir kali saya menginjakkan kaki di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Kala itu, Sabana Bekol sedang hijau-hijaunya dengan rumput rumput tinggi serupa ilalang. Membuat saya tak henti berlarian ke sana kemari dan tertawa. Sayangnya 3 tahun lalu lagu Akad dari Payung Teduh belum diperdengarkan seperti saat sekarang. Tak ketinggalan rusa-rusa yang minum seenaknya di dekat pohon jomblo, tak peduli kehadiran kami.

 

dok April 2014, Baluran sedang hijau-hijaunya.

Pertengahan Oktober lalu, Baluran memberi saya pemandangan lain yang jauh berbeda. Sabananya yang kering serupa karpet coklat raksasa yang dibentangkan. Mengingatkan saya pada film God Must be Crazy. Pohon-pohon baik jomblo maupun couple yang berdiri tegak berjauh-jauhan sesekali kita jumpai. Juga satwa-satwa khas jawa yang memilih bersembunyi di siang terik itu.

pohon yang bersandar di tengah Sabana yang kering

Sementara akses jalan dari loket pembelian karcis hingga Sabana Bekol, tetaplah sama. 12 kilometer jalan berbatu yang cukup menantang untuk dilalui. Namun dengan kesungguhan niat dan kelihaian berkendara, goncangan dan batu-batu tajam perjalanan dapat dilalui. Sebagaimana kerasnya perjalanan hidup yang hanya dapat ditempuh mereka yang tangguh dan berhati teguh #ahaay.

(more…)

Pantai Srau Pacitan, Sunset-Sunrise Sekaligus

nyiur melambai

nyiur melambai

Sebelumnya mau  ngucapin terima kasih dulu buat NX Club Yogya, karena postingan beserta poto-poto di sini gak bakal hadir tanpa keluarga besar pengguna NX ini. Telat banget kali ya, karena explore Pacitan bareng temen-temen NX Club YK ini udah dari bulan lalu tapi baru ketulis sekarang. namapun blogger pemalas. *tabok diri sendiri.

Pacitan selain terkenal dengan Goa nya, sudah pasti pantainya. ada buanyaaaak banget pantai-pantai kece di sini. masing-masing punya nilai kecantikan sendiri. diantara pantai-pantai itu, ada satu pantai yang buat saya sih, paket komplit banget. Yep sesuai judul, ini dia Pantai Srau.

ini pantai yang bisa buat liat sunrise, tapi pas gak waktunya sunrise

ini pantai yang bisa buat liat sunrise, tapi pas gak waktunya sunrise

Pantai Srau ini unik banget. ada sisi yang menghadap ke timur, otomatis ini arah yang pas banget buat nikmatin sunrise. tapi di sisi lain ada yang menghadap ke barat, yang dari sisi ini bisa banget uat melongo liatin matahari tenggelam. Jarang-jarang kan ada pantai yang punya paket komplit begini.

ini sunset nya, salah settingan kamera kayanya. rada gagal

ini sunset nya, salah settingan kamera kayanya. rada gagal

Selain punya dua arah yang sama sama kece, pantai srau ini gak cuma punya pantai berpasir aja. Ada sisi yang berumput dengan deretan nyiur melambai. asyik banget dan bikin inget Pantai WTC (Waisai Torang Cinta) di Raja Ampat. Ada juga karang dan bebatuan yang instagramable bzanget.

wpid-wp-1441097141830.jpeg

ini nyiur melambai banyak di sisi pantai timur

kalo gak cape, dengan sedikit tracking, bisa dapat pantai di cekungan seperti ini. saat itu saya ke sana sabtu sore, dan tetep sepi, jadi berasa pantai pribadi. gak harus turun ke bawah pantai, di bukit-bukitan yang kami treking sedikit ini pun gak henti henti bikin saya teriak kesenengen.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC

nih kalo mau treking dikit, kece juga

nih kalo mau treking dikit, kece juga

Pantai landai berpasir putih ini menyuguhkan berupa bentang alam pantai yang dipengaruhi oleh pelarutan batu gamping dan pengangkatan yang masih aktif.batu berlubang, batu di tengah laut, ceruk abrasi, undak pantai dan endapan gisik yang tersingkap merupakan produk dari peristiwa geologi yang dimulai sejak permulaan zaman kuarter (1,8 juta tahun yang lalu) hingga sekarang.

karang bolong

karang bolong

inih ceruk yang berasa pantai pribadi

inih ceruk yang berasa pantai pribadi

Sedihnya sih, waktu itu kami di sana pas sunset aja. Jadi berhubung saya yakin banget kalo sunrise di sini bakalan kece, saya pingin banget suatu saat nanti nge camp disini. biar bisa dapat sunset dan sunrise sekaligus. ada yang mau ngajakin atau sponsorin? *ngarep dengan wajah melas

sendirian?

sendirian?

 *buat kamu pengguna kamera Samsung NX tipe berapapun dan apapun, jangan lupa follow akun resmi NX Club Yk di Instagram untuk dapat update kegiatan. karena ke depannya bakal event2 seru gini bakal rutin bareng sesama pengguna kamera Samsung NX dan selalu free.

Sekilas Jazz Gunung 2015

image

Selamat Datang di Jazz Gunung 2015

Menikmati jazz di tengah hawa dingin pegunungan? Jujur penasaran banget. Tapi berhubung saya ini penakut dan musuhan banget sama hawa dingin, penasarannya saya pendam aja.
Sampai pada suatu hari di bulan Juni, masa-masa entah saya sedang tidak stabil dari segala sisi. Dengan impulsif dan tiba tiba saya beli tiket jazz gunung 2015 yang dibatalin temannya teman saya (rumit). Saat itu saya hanya sedang ingin kabur.

image

Terlalu rajin, belum mulai ud datang

Jazz Gunung 2015 yang diselenggarakan di tengah hawa dingin pegunungan Bromo ini rutin digelar tiap tahun. Ternyata peminatnya lumayan juga. Saat saya browsing-browsing cuma buat sekedar tau aja, sudah sold out. Gak kepikiran sama sekali bakal berangkat. Sampai pada suatu hari senin yang suntuk (you know, I hate monday), saya iseng kontak temen yang ngelola Travel Organizer, dan ternyata ada tiket nganggur. Entah apa yang tiba2 membuat saya langsung memutuskan untuk berangkat.

image

Salah satu pajangan atau bisa buat photobooth jugak

Jazz Gunung ini digelar 2 hari dengan penampilan penggiat Jazz keren keren. Saya sih gak ngerti-ngerti amat jazz ya. Cuma saya sama sekali gak ngerasa bosen duduk manis dari jam 4 sore sampai pulang 10 malam. Karena keputusan saya yang ndadak buat berangkat, otomatis saya cuma kebagian yang malam ke dua aja, perform Sabtu malam atau Malam Minggu.

image

Kopi Hitam Tanpa Kamu, pengusir dingin

Sedih juga sih gak kebagian perform nya Tulus yang ngisi di jumat malam. Tapi ternyata saya kebagian Andien Aisyah, penyanyi jazz yang saya suka dan terkagum-kagum banget sama konsep weddingnya gara gara saya follow di instagram (gak nyambung).

image

Andien

image

Tohpati, yang bikin penasaran anti aging nya apa kok gapernah tua

Gak cuma musisi jazz nya yang seru. Konsep acaranya juga asyik. Panggung yang sepertinya dari rotan-rotan dan bersih dr logo sponsor apapun. Hembusan angin yang dinginnya syuper, kami yang nontonnya ndlosoran, booth poto yang lucuk dan instagramable, belum kelakuan MCnya yang malah mirip stand up comedy. seru bangeeet pokoknya.

image

Panggungnya syukak bzangeeeet

Satu aja sih yang disayangkan. Sayangnya saya saat itu saya sendiri aja tanpa kamu. ????

Warna Warni Goa Gong

warna-warni Goa Gong

warna-warni Goa Gong

Awal Desember, saya dan teman-teman JJC touring ke Pacitan. Sebagai pejalan mainstream, kami berkunjung ke salah satu objek wisata paling mainstream di Pacitan. Rasanya koq kurang sah kalo sudah sampai Pacita, tidak mampir kemari. Dari awal pertama masuk di area Kabupaten kampung halaman mantan presiden kita ini, sudah banyak sekali penunjuk arah ke Goa Gong dan Pantai Klayar. Dan yep, sebagai pejalan mainstream, memang dua tempat itu akhirnya yang kami tuju.

DSC_0392

foto mainstream dulu depan papan nama

 

Tidak banyak ekspektasi saya juga tidak banyak informasi yang saya kumpulkan saat akan menyambangi Goa ini. Tentu saja karna keputusan mampir kemari juga mendadak. Karena searah, karena masih siang, dan karena ada objek non pantai yang kami kunjungi.

Seperti saya sampaikan di awal, menuju Goa Gong sangat mudah karena hampir di setiap penjuru kota ada penunjuk arah ke Goa Gong dan Pantai Klayar. Kalau terpaksanya masih nyasar juga, boleh lah dikeluarin jurus Tong-Bro (Tolong tunjukin jalannya dong, Bro). Atau kalau Pantai Klayarm Srasu, Banyutibo dan sederet pantai kece lainnya jadi destinasi, insya Alloh ngelewatin depan Goa nge hits ini.

image

Merrah

Untuk mencapai mulut goa, dari parkiran atau loket masuk, ada tangga dan jalan kaki sedikit dengan kanan kiri kita beraneka dagangan untuk oleh-oleh. Ada aneka batu akik, pernak pernik kerajinan, makanan khas Pacitan, juga kaos dan sebagainya yang bisa dibawa pulang. Saya kurang tau range harga nya dan detail dagangannya. Karena yah saya gak mampir ataupun nawar-nawar, tapi sepertinya cukup terjangkau koq.
image

Nama Goa Gong sendiri karena di dalam goa ini terdapat batu yang akan mengeluarkan suara Gong jika dipukul. Pacitan memang terkenal dengan aneka Goa sih. Ada juga Goa Tabuhan yang kalau dipukul akan bertabuh. Sayangnya saya gak kesana.
image

Untuk menyusuri gua, jalan kaki nya kurang lebih 300 meter an. Dengan medan yang lumayan basah dan remang-remang, ada baiknya gunakan alas kaki yang pas dan tidak licin. Lebih bagus juga kalau bawa senter. Tapi kalaupun gak bawa, banyak persewaan senter seharga Rp, 5,000 atau kalau cukup yakin, sebenarnya di dalam gak gelap-gelap amat. Banyak lampu warna warni yang nyala bergantian dan bikin efek bagus banget buat goa ini.

image

Biruu

Bagian dalam goa banyak bebatuan Karst, dan tetesan-tetesan air. Ada juga semacam kolam atau sungai di bawah. Cukup aman bagi pengunjung karena arahan rute nya jelas dan ada besi besi untuk jalur dan pegangan pengunjung. Cuma bagi saya ya jadi kurang kesan alami nya. Nggak kelihatan mana yang buatan baru, mana yang asli dari Goa nya. Belum lagi aneka lampu dan pendingin udara yang buat saya makin menghilangkan kesan alami nya. Walaupun sih tujuannya untuk kenyamanan pengunjung ya.

image

Oranye

Meski pun entah kenapa menurut saya biasa-biasa saja, pengunjung Goa ini ramai banget loh. Terlihat saat saya perjalanan pulang dari nge camp di Klayar hari Minggu, jalan depan Goa Gong ini sampai macet dan beragam kendaraan kecil sampai bus pariwisata besar-besar parkir berderet di tepi tepi jalan. So, mungkin memang perlu disempetkan buat mampir ke Goa ini kalo lagi mampir Pacitan ya…

image

Kaya di dunia lain, katanya

*Goa Gong terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Donorejo, Kab. Pacitan. Sekitar 140 km dari kota Solo

*Retribusi masuk Goa Gong sebesar Rp. 5,000 per orang (saat itu hari Sabtu)
*Rincian pengeluaran perjalanan Touring Pacitan (Goa Gong dan Pantai Klayar, pernah di posting di sini )

Oleh-Oleh dari Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo, pukul 5 pagi

Ranu Kumbolo, pukul 5 pagi

Tidak terasa weekend sudah kembali datang. Gak terasa juga 2014 hampir berakhir. Yang terasa banget ditungguin malah gak kunjung di tanga. Iya, tanggal gajian koq ya masi beberapa hari lagi. *curcol.

Minggu lalu, salah satu teman saya member JJC juga, membunuh akhir pekan dengan destinasi TNBTS alias Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di sisi Timur pulau jawa. Meskipun sebagai member JJC, cuma dia aja yang berangkat, tetep donk ya namanya banner Jam Jahat Crew tetep dibawa dan harus banget sempet berkibar minimal di Ranu Kumbolo.

banner nya doank yang baru nyampe

banner nya doank yang baru nyampe

Sebelumnya, perkenalkan rekan dan sahabat saya, TRIA. Dulunya kami satu tim di kantor saya yang lama, sampai saya kemudian pindah per Oktober lalu. Meski begitu, kami masih tetap keep in touch bahkan sering banget jalan bareng, ngopi-ngopi bareng, ngangkring-ngangkring bareng, dan pastinya poto-poto bareng. Hehehe.

Haloo, saya Tria di Tanjakan Cinta

Haloo, saya Tria di Tanjakan Cinta

Cuma punya waktu weekend aja tanpa tambahan extend cuti atau apa lah, buat saya cukup keputusan berani. Alhamdulillah nya sih, begitu balik dari sana, saya liat-liat Tria utuh dan sehat-sehat aja. Malah lebih parah keadaanya pas baru turun dari Lawu jaman masih sekantor sama saya dulu.

alhamdulillah, balik balik utuh

alhamdulillah, balik balik utuh

Singkat cerita, Tria start perjalanan Jum’at malam via Bus akibat sudah gak ada tiket kereta. Untuk menuju TNBTS, dari Yogyakarta menggunakan Bus jurusan Surabaya. Disambung dari terminal Purabaya ke Terminal Arjosari, Malang. Dari Arjosari Malang, dilanjut naik angkot jurusan Tumpang. Nah dari Tumpang bisa naik jeep atau truk ke Ranu Pani. Berangkatnya Tria naik jeep dan saat pulang menggunakan truk dan sukses bikin dia muntah-muntah 4x (menurut pengakuannya. Entah aslinya).

gapapa muntah-muntah asal tidur di sini nyenyak

gapapa muntah-muntah asal tidur di sini nyenyak

Perjalanan dari pos pertama sampai ke Ranu Kumbolo, sekitar 10 km-an. Butuh waktu sekitar 4 jam-an. Tapi bisa fleksibel juga sih tergantung pejalannya. Nah, malam minggunya Tria menginap dan mendirikan tenda di sini.

Tenda-tenda yang malam mingguan di Ranu Kumbolo

Tenda-tenda yang malam mingguan di Ranu Kumbolo

dear Kakak. (gatau kakak siapa)

dear Kakak. (gatau kakak siapa)

Siapa yang masih meragukan keindahan mentari terbit di Ranu Kumbolo. Seperti itu juga yang bikin Tria sampai sekarang masi belum move on dari Ranu Kumbolo. Tapi ya sudah lah ya, saya cuma kebagian cerita dan foto-foto ini. Cukup seneng sih walopun ngiri nya gak ketulungan. Sekedar tambahan info aja sih, Ranu Kumbolo masuk resolusi 2014 saya dan sampai akhir tahun belom kesampaian.

hey Aqied

hey Aqied

Berikut sebagian oleh-oleh dari Tria untuk kami, saya dan teman-teman. Rada-rada terharu sih, lah bayangin aja di udara sedingin itu, Tria harus nulis dan ngarsir (salahnya gak bawa spidol) yang berarti harus lepas sarung tangan. Sabar banget juga sih temen jalannya yang mau mau aja motoin sekian banyak pesan sponsor, kalian luar biasa….

kapan ke sini, Qied...

kapan ke sini, Qied…

sempet banget project Bapakkk untuk ibukkk**

sempet banget project Bapakkk untuk ibukkk**

image

image

Dari Ranu Kumbolo menuju Oro-Oro Ombo, ngelewati tanjakan cinta. Bagus bangeeet foto di sini, Ranu Kumbolo dan tenda-tenda pendaki menjadi background. Dasar jomblo ya, Tria lewat tanjakan sini udah gak noleh belakang, tapi gak mikir siapa-siapa juga. Mungkin suatu saat harus balik lagi, temenin akuuuh.

edelweiss

edelweiss

cuma nemu lavender satu katanya. kalo lagi musim bisa dapat padang lavender

cuma nemu lavender satu katanya. kalo lagi musim bisa dapat padang lavender

Jadi, kapan Kakak ajak saya ke Ranu Kumbolo?

tertanda

Saya Adik”

Kakak kapan ajak Camping ke Ranu Kumbolo?

Kakak kapan ajak Camping ke Ranu Kumbolo?

*text oleh saya berdasarkan cerita Tria. foto-foto dari Tria

*Transport Jogja-Surabaya menggunakan Bus Patas Rp. 100,000. Surabaya-Malang Rp. 20,000. Angkot Malang-Tumpang bisa ber-7 Rp. 50,000 atau per orang Rp. 8,000. Kalau plus Carrier jadi Rp. 10,000. Jeep menuju Ranu Pani bisa gabung rombongan lain hingga 15 orang Rp. 650,000. atau naik truck per orang Rp. 45,000

*Alternatif lain menggunakan kereta Matarmaja Rp. 65,000 (sebelum naik).atau travel Rp, 144,000

*kuota dibatasi 500 pengunjung. Untuk antisipasi, bisa booking dulu daripada penuh dan harus pulang lagi. (sayangnya Tria gak inget detailnya gimana). Pendaftaran dibuka maksimal sampai jam 4 sore. Tapi jika kuota 500 sudah terpenuhi sebelum pukul 4, pendaftaran ditutup.

*Tria available di twitter dan instagram (promo ini)

** ibuKKK itu panggilan saya di kantor

Why Bromo?

 

SAMSUNG CSC

Bromo, Gunung berapi aktif dengan sejuta pesona ini selalu membangkitkan penasaran saya. Sudah lama saya berangan-angan dapat menjejakkan kaki di sana. Merekam sendiri memori yang dapat ditangkap mata, menghirup udara dingin, mendengar bisikan pasir, dan merasakan belaian angin pegunungan. Tak hanya sekedar memandang kagum dari televisi, gambar, dan ribuan kartu pos yang menampilkannya dengan gagah.

Jeep, pemandangan khas Bromo

Jeep, pemandangan khas Bromo

2012 akhir, saya sempat bertugas selama 2,5 bulan di Kabupaten Lumajang. Sudah dekat sekali dengannya. Rencana perjalanan pun sempat disusun, sampai saat itu Bromo dikabarkan dalam kondisi tidak aman untuk dikunjungi. Akhirnya rencana perjalanan saya, batal dan dialihkan ke rute lain.

pura, lautan pasir, kehijauan dan langit biru dalam satu frame

pura, lautan pasir, bukit kehijauan dan langit biru dalam satu frame

Permulaan 2013, saya menempati kantor mungil di Mojoagung, kecamatan kecil di sisi timur Kab. Jombang. Keinginan saya bangkit lagi. Berkendara Bus Puspa Indah dari Jombang, saya ke Terminal Landung Sari, Malang. Menumpang rumah teman, dan berangkat pagi buta berkendara sepeda motor dari kota Malang menuju Bromo.

Lagi-lagi saya kurang cukup beruntung. Di tengah hawa dingin dan angin yang menyelinap masuk sela sela jaket tebal, pandangan kami mulai dikaburkan oleh kabut. Tidak banyak yang bisa saya lihat, dengar dan rasakan. Dengan sisa-sisa kekesalan dan kelelahan setelah sekian kilometer yang saya tempuh bersepeda motor terasa tanpa hasil, saya berjanji pada diri saya sendiri untuk kembali lagi suatu saat nanti.

liat ini koq laper ya

liat ini koq laper ya

Agustus 2014, tanpa direncanakan semesta mendukung pertemuan kami lagi. Jumat pagi saya masih berkantor seperti biasa tanpa memiliki rencana apapun untuk membunuh akhir pekan. Namun pada sore harinya, saya sudah memiliki tiket penerbangan JOG-SUB dan bersiap menyapa mentari terbit di Sunrise Point Bromo esok harinya.

saya menyapa Bromo melalui beberapa titik berikut:

  1. Penanjakan/Sunrise Point

Saya membayangkan pagi yang indah dengan sapaan mentari terbit dari titik ini. Mengabaikan udara dingin yang biasanya saya benci, saya berjalan dengan riang menuju lokasi ini. Namun apalah khayalan saya runtuh, setelah tiba dan hanya menjumpai lautan manusia. Sesak. Penuh. Tak ada yang bisa saya lihat dengan tinggi badan standar saya.

lautan manusia

lautan manusia

Lalu, bagaimana saya bisa menyapa mentari terbit? Tak kekurangan akal saya diajak menaiki tempat sampah dan stay di situ menahan angin dan dingin. Sampai matahari terbit. Piufh. Perjuangan yang berat mengingat saya lemah sekali terhadap udara dingin. Dengan jari-jari mati rasa, saya tetap memaksa kamera saya bekerja.

bisa kebayang saya berdiri di mana? yap. di atas tempat sampah

bisa kebayang saya berdiri di mana? yap. di atas tempat sampah

Tips: Hindari high season dan weekend jika ingin menikmati sapaan mentari yang spektakuler dengan tenang di sini.

alhamdulillah masi ketemu matahari

alhamdulillah masi ketemu matahari

  1. Kawah Bromo
banyak kuda tp gak ada pangeran kuda jingkrak

banyak kuda tp gak ada pangeran kuda jingkrak

Untuk ke Kawah Bromo,kendaraan tidak diperbolehkan naik. Jika dirasa perjalanannya cukup jauh plus medannya yang berupa lautan pasir, bisa coba berkuda mulai dari area parkir jeep sampai ke tangga sebelum kawah.

kira-kira segitu lah jaraknya. keliahatn gak parkiran jeep?

kira-kira segitu lah jaraknya. keliahatan gak parkiran jeep? (foto dari pinggir kawah)

Lagi-lagi kali ini saya sok jago. Naik jalan kaki sendirian karena sebagian teman sudah duluan naik, dan sebagian lagi nyerah pilih gak naik. Ya sudahlah, saya go show aja. Saya naik bersama pasir-pasir yang ikut berjejal diam-diam di sepatu saya. Merapatkan masker agar pasir-pasir yang berterbangan setiap ada angin, tak turut menjejali pernafasan saya. Belum lagi ditambah aroma kuda dan kotorannya yang satu jalur dengan tempat saya jalan. Tidak heran banyak juga yang mendaki lewat jalur antimainstream.

mereka dengan jalur antimainstream

mereka dengan jalur antimainstream

Lagi-lagi karena weekend, tangga menuju kawah Bromo penuh pengunjung. Antrian cukup panjang dan hanya bisa melangah sedikit-sedikit membuat saya tidak sabar dan memilih naik lewat sisi kanan di luar tangga. Masih sedikit heran karena dengan antrian panjang di belakangnya, masih ada yang sempat ber selfie ber tongsis, sehingga makin memperlambat perjalanan ke atas.

tangga yang penuh banget

tangga menuju kawah yang penuh banget

Tiba di bibir Kawah Bromo, bagi saya tidak terlalu istimewa. Sedikit merasa kecewa karena lelah dan haus (yes, saya naik gak bawa minum). Belum ditambah pengunjung yang sangat ramai sampai-sampai berfoto pun sulit.

ini foto asli yang lagi kehausan dan kelelahan sampai kawah

ini foto asli yang lagi kehausan dan kelelahan sampai kawah

Tak apa, karena akhirnya foto di kawah ini lah yang kemudian tersenyum di Majalah rubrik Travel Talk Getaway Magz edisi Oktober 2014.

  1. Pasir Berbisik

SAMSUNG CSC

Berada di lautan pasir dengan udara dingin dan di ketinggian memiliki sensasi berbeda. Ditambah dengan desis dan bisikan setiap kali angin menerbangkan pasir-pasir. Jangan lewatkan momen berfoto di sini. Dengan luasnya yang ribuan hektar, tidak perlu merasa sesak dan penuh. Asyik juga memotret jeep-jeep saat mengarungi lautan pasir ini.

Foto Panorama Pasir Berbisik

Foto Panorama Pasir Berbisik

  1. Bukit Teletubbies/Savana
antara hijau dan coklat

antara hijau dan coklat

Disebut bukit Teletubbies karena warnanya yang hijau dengan gundukan2 mirip taman tempat tinggal Tinky winky dan 3 kawannya ini. Pemandangan akan berbeda jika tiba di musim yang berbeda. Bisa jadi padang ini akan lebih kecoklatan dengan rumpu-rumput cenderung kering, saat musim kemarau tiba. Bisa juga segar dan hijau menyejukkan mata saat rerumputan dan segala spesies tumbuhannya berwarna hijau.

savana

savana

Yang amat disayangkan, belum lama ini area ini terbakar dan berwarna hitam, kering. Yah, berarti ada kemungkinan warna lain di sini selain coklat dan hijau kan (sambil miris).

 

Jeep on Savanna

Jeep on Savanna

Saya yakin masih banyak sisi indah Bromo yang belum sempat terekam di memori saya. Belum sempat dirasakan oleh indra saya. Terlalu banyak keindahan yang Tuhan ciptakan di Negri ini. Apa yang terekam kamera pun tidak mampu menggambarkan lukisan asli ciptaan Tuhan.

Jadi, kenapa tidak datang dan lihat sendiri?

 

*di kawasan Bromo tidak diperkenankan membawa kendaraan pribadi. Sepeda motor bisa masuk, tapi demi keamanan dan jika kelihaian dirasa kurang, mendingan tidak ambil resiko ini

*bisa sewa jeep yang nantinya sekalian bayar tiket masuk.

* beragam paket wisata bromo destinasi lengkap bisa jadi pilihan yang lebih mudah karena harga sudah All in dan penjemputan mulai Stasiun Malang, salah satunya Fun Adventure (http://twitter.com/funadventure_ ) dengan harga paket Rp. 300,000.

*jadilah pecinta alam yang bertanggung jawab, bukan sekedar penikmat alam.

jalan sendiri tetep bisa tongbro

jalan sendiri tetep bisa tongbro