Galeri: Kemarau di Semeru

Bertamu ke Semeru untuk pertama kali nya Agustus lalu, memberi banyak kejutan bagi saya. Tidak hanya rute panjang dan tanjakan aduhai yang bisa saya dapat infonya dari dunia maya. Bukan pula keindahan Ranu Kumbolonya yang termasyhur dengan jutaan fotonya yang bertebaran di berbagai situs. Tidak pula suhu dinginnya yang membekukan embun-embun di rerumputan hingga atap-atap tenda.

Baca juga  Catatan Semeru 1 : Tujuan itu Bernama Rumah 

Area Kamping Ranu Kumbolo

Ini tentang warna cokelat keemasan khas kemarau yang menyapa. Camping ground Ranu Kumbolo yang biasanya beralaskan permadani rerumputan hijau, kali ini berselimut cokelat. Hingga padang Verbana di Oro-oro Ombo yang identik dengan warna ungunya, pun terbentang keemasan.

Berikut sebagian galeri Semeru kala Kemarau.

(more…)

Catatan Semeru 2: Menghitung Budget

Beberapa waktu lalu saya mengajukan pertanyaan tentang topik apa mengenai Semeru yang sebaiknya saya tulis di blog. Salah satu jawaban yang masuk menyarankan pembahasan rincian anggaran dan budget untuk mendaki Semeru. Walaupun informasi tentang ini sebenarnya sudah banyak yang menulis, boleh lah saya turut serta meramaikan berdasarkan pengalaman pendakian Semeru pada Agustus 2018.

Ini 6 pos anggaran yang perlu disiapkan saat menghitung budget ke Gunung Semeru dari Yogyakarta:

(more…)

Gagal Malas Mandi di Air Terjun Jagir

Sebagai pekerja setiap senin sampai jumat, dilanjutkan pelajar saat sabtu, saya terpaksa melakukan aktifitas yang tidak saya sukai setiap paginya. Mandi Pagi. Ya, ada kalanya kita tetap harus melakukan apa yang tidak kita sukai meski terpaksa. Maka saat-saat libur tanpa kewajiban mandi pagi adalah kemewahan tiada tara bagi saya.

Namun rupanya tidak demikian dengan teman-teman #TripTanpaDeadline yang agak-agak kesal dengan kemalasan saya ini. Maka pada suatu pagi, dengan sengajanya destinasi yang dipilih adalah Air Terjun Jagir, Kampung Anyar. Kolam air terjun ini dapat dicapai dengan menuruni tangga dari tanah yang tidak sempat saya hitung jumlahnya. Karena saya bukan Sherlock Holmes yang otomatis menghitung setiap jumlah tangga yang dilaluinya.

Begitu menjejak tepi kolam dengan dua air terjunnya, saya mencelupkan jempol kaki dan mengeluh dalam hati.

“duh, dingin banget”

Kemudian clingak-clinguk mencari kehangatan.

(more…)

Loko Cafe Stasiun Gubeng Baru

Meski dalam beberapa hal saya ini cenderung sering last-minute-girl, tapi untuk urusan transportasi publik, saya lebih suka menunggu ketimbang ketinggalan. Begitu juga saat kunjungan impulsif saya ke Surabaya awal bulan lalu. Travelmate saya yang lebih dadakan itu harus pulang ke Jogja dengan selisih kereta 2 jam lebih awal dibanding saya. Sialnya sepeda motor yang kami sewa juga harus dikembalikan pada jam tersebut. Akibatnya saya punya jeda 2 jam yang terlalu malas untuk saya habiskan di luar area stasiun.

Loko Cafe ini berlokasi di Stasiun Gubeng Baru Surabaya. Letaknya cukup dekat untuk menyaksikan lalu lalang kereta api. Namun juga cukup tenang untuk tidak terganggu dengan hiruk pikuk kesibukan Stasiun. Menggendong ransel ukuran tanggung, saya melangkahkan kaki ke Loko Cafe. Begitu membuka pintu, saya mendapati sudut khusus untuk meletakkan koper bagi para pengunjung. Melirik ke kanan, rupanya ruangan dalam Loko ini tidak terlalu besar. Keberadaan sudut khusus koper ini membuat area meja kursi terlihat lebih rapi dan lega.

(more…)

Oleh-Oleh dari Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo, pukul 5 pagi

Ranu Kumbolo, pukul 5 pagi

Tidak terasa weekend sudah kembali datang. Gak terasa juga 2014 hampir berakhir. Yang terasa banget ditungguin malah gak kunjung di tanga. Iya, tanggal gajian koq ya masi beberapa hari lagi. *curcol.

Minggu lalu, salah satu teman saya member JJC juga, membunuh akhir pekan dengan destinasi TNBTS alias Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di sisi Timur pulau jawa. Meskipun sebagai member JJC, cuma dia aja yang berangkat, tetep donk ya namanya banner Jam Jahat Crew tetep dibawa dan harus banget sempet berkibar minimal di Ranu Kumbolo.

banner nya doank yang baru nyampe

banner nya doank yang baru nyampe

Sebelumnya, perkenalkan rekan dan sahabat saya, TRIA. Dulunya kami satu tim di kantor saya yang lama, sampai saya kemudian pindah per Oktober lalu. Meski begitu, kami masih tetap keep in touch bahkan sering banget jalan bareng, ngopi-ngopi bareng, ngangkring-ngangkring bareng, dan pastinya poto-poto bareng. Hehehe.

Haloo, saya Tria di Tanjakan Cinta

Haloo, saya Tria di Tanjakan Cinta

Cuma punya waktu weekend aja tanpa tambahan extend cuti atau apa lah, buat saya cukup keputusan berani. Alhamdulillah nya sih, begitu balik dari sana, saya liat-liat Tria utuh dan sehat-sehat aja. Malah lebih parah keadaanya pas baru turun dari Lawu jaman masih sekantor sama saya dulu.

alhamdulillah, balik balik utuh

alhamdulillah, balik balik utuh

Singkat cerita, Tria start perjalanan Jum’at malam via Bus akibat sudah gak ada tiket kereta. Untuk menuju TNBTS, dari Yogyakarta menggunakan Bus jurusan Surabaya. Disambung dari terminal Purabaya ke Terminal Arjosari, Malang. Dari Arjosari Malang, dilanjut naik angkot jurusan Tumpang. Nah dari Tumpang bisa naik jeep atau truk ke Ranu Pani. Berangkatnya Tria naik jeep dan saat pulang menggunakan truk dan sukses bikin dia muntah-muntah 4x (menurut pengakuannya. Entah aslinya).

gapapa muntah-muntah asal tidur di sini nyenyak

gapapa muntah-muntah asal tidur di sini nyenyak

Perjalanan dari pos pertama sampai ke Ranu Kumbolo, sekitar 10 km-an. Butuh waktu sekitar 4 jam-an. Tapi bisa fleksibel juga sih tergantung pejalannya. Nah, malam minggunya Tria menginap dan mendirikan tenda di sini.

Tenda-tenda yang malam mingguan di Ranu Kumbolo

Tenda-tenda yang malam mingguan di Ranu Kumbolo

dear Kakak. (gatau kakak siapa)

dear Kakak. (gatau kakak siapa)

Siapa yang masih meragukan keindahan mentari terbit di Ranu Kumbolo. Seperti itu juga yang bikin Tria sampai sekarang masi belum move on dari Ranu Kumbolo. Tapi ya sudah lah ya, saya cuma kebagian cerita dan foto-foto ini. Cukup seneng sih walopun ngiri nya gak ketulungan. Sekedar tambahan info aja sih, Ranu Kumbolo masuk resolusi 2014 saya dan sampai akhir tahun belom kesampaian.

hey Aqied

hey Aqied

Berikut sebagian oleh-oleh dari Tria untuk kami, saya dan teman-teman. Rada-rada terharu sih, lah bayangin aja di udara sedingin itu, Tria harus nulis dan ngarsir (salahnya gak bawa spidol) yang berarti harus lepas sarung tangan. Sabar banget juga sih temen jalannya yang mau mau aja motoin sekian banyak pesan sponsor, kalian luar biasa….

kapan ke sini, Qied...

kapan ke sini, Qied…

sempet banget project Bapakkk untuk ibukkk**

sempet banget project Bapakkk untuk ibukkk**

image

image

Dari Ranu Kumbolo menuju Oro-Oro Ombo, ngelewati tanjakan cinta. Bagus bangeeet foto di sini, Ranu Kumbolo dan tenda-tenda pendaki menjadi background. Dasar jomblo ya, Tria lewat tanjakan sini udah gak noleh belakang, tapi gak mikir siapa-siapa juga. Mungkin suatu saat harus balik lagi, temenin akuuuh.

edelweiss

edelweiss

cuma nemu lavender satu katanya. kalo lagi musim bisa dapat padang lavender

cuma nemu lavender satu katanya. kalo lagi musim bisa dapat padang lavender

Jadi, kapan Kakak ajak saya ke Ranu Kumbolo?

tertanda

Saya Adik”

Kakak kapan ajak Camping ke Ranu Kumbolo?

Kakak kapan ajak Camping ke Ranu Kumbolo?

*text oleh saya berdasarkan cerita Tria. foto-foto dari Tria

*Transport Jogja-Surabaya menggunakan Bus Patas Rp. 100,000. Surabaya-Malang Rp. 20,000. Angkot Malang-Tumpang bisa ber-7 Rp. 50,000 atau per orang Rp. 8,000. Kalau plus Carrier jadi Rp. 10,000. Jeep menuju Ranu Pani bisa gabung rombongan lain hingga 15 orang Rp. 650,000. atau naik truck per orang Rp. 45,000

*Alternatif lain menggunakan kereta Matarmaja Rp. 65,000 (sebelum naik).atau travel Rp, 144,000

*kuota dibatasi 500 pengunjung. Untuk antisipasi, bisa booking dulu daripada penuh dan harus pulang lagi. (sayangnya Tria gak inget detailnya gimana). Pendaftaran dibuka maksimal sampai jam 4 sore. Tapi jika kuota 500 sudah terpenuhi sebelum pukul 4, pendaftaran ditutup.

*Tria available di twitter dan instagram (promo ini)

** ibuKKK itu panggilan saya di kantor

Fun Camp Klayar Under 50K

image

image

Lagi-lagi kali ini saya dan teman-teman JJC membunuh akhir pekan bareng. Tujuan utamanya sih nge camp di Pantai Klayar, Pacitan, Jawa Timur. syukur-syukur bisa dapet Sunset dan Sunrise sekaligus. Meski dengan keadaan cuaca yang seperti sekarang ini, kami gak banyak ngarep sih bakal dapat duo pemandangan spektakuler itu.

Berhubung lagi-lagi kami touring bersepeda motor dengan peserta 11 orang, plus harus bawa perlengkapan nge camp yang rada rempong buat diselip-selipin di sepeda motor, kami gak banyak mampir. kalo diringkas ya perjalanan kami jadinya gini nih:

Hari I —-> Perjalanan Klaten-Pacitan, Goa Gong, Klayar

Hari II —-> explore Klayar dan perjalanan Klayar-Klaten (khusus saya langsung lanjut Jogja)

Karena musim dan cuaca yang mancing sakit, plus perjalanan touring pastinya butuh fisik sehat, kami udah ancang-ancang saling ngingetin buat jaga kondisi badan. Gak ada deh malem-malem ngangkring bareng pulang kerja dan kegiatan begadang skip total (walo aslinya tetep gak bisa, hahahaha).

Sabtu pagi, kami berangkat dari daerah Pedan, Klaten menuju Pacitan. Rutenya gampang aja. Pokoknya ikutin aja arah ke Wonogiri. Setelah di Wonogiri nya, tinggal pake tombol bantuan “ask the audience” alias nanya orang arah ke Pacitan.

gak jauh setelah ninggalin Pacitan, nanti bakal mulai  ada dan sering banget ada papan penunjuk arah Pantai Klayar dan Goa Gong. ikutin aja. Berhubung saat itu masi siang, jadi mampir dulu ke Goa Gong. Makin bikin penasaran sih karna jalanan jd rame n macet di depan Goa ngehits ini. Nanti saya posting terpisah deh. Penampakannya seperti ini nih:

image

Warna warni nya dari lampu

Dari Goa Gong, kami lanjut Pantai Klayar yang gak jauh jauh amat tapi cukup jauh juga sih. Medannya nanjak turun standar gak yg bikin cape cape banget. Jalanan banyak yang udah bagus dan halus. Sebagian masi proses ngaspal.

Sampai di Klayar, makan dulu dari bekal yang kami bawa, lanjut naik salah satu tebing buat ndiriin tenda. Sayangnya karna mendung dan hujan terus sunset maupun sunrise banyakan ngumpet di balik awan.

image

Gak dapet sunrise

Paginya, kami sarapan di salah satu warung, trus explore pantai sampai ke lokasi ngehits nya. SERULING SAMUDRA. Nanti aja saya bahas sendiri ya biar banyak postingan. Selesai explore pantai, bersih bersih, lanjut pulang.

image

Tebing deket kami ndiriin tenda

Total pengeluaran kami kira-kira gini:
Retribusi masuk Goa Gong @Rp. 5,000 x 11 –> Rp. 50,000 (minta korting, tdk ada biaya parkir)
Retribusi Pantai Klayar ber 11 Rp. 30,000 (sudah termasuk nginep n ndiriin tenda)
Retribusi Area Seruling Samudra ber 11 Rp. 10,000 ( harga [email protected] 2,000)
Beli Air minum, kopi, mi instan, makan, dll Rp. 150,000.
Total di share ber 11 jatuhnya +/- Rp. 22,000.
Untuk bensin dengan rute Klaten-Wonogiri-Pacitan, cukup 2 x @Rp. 26,000.

Bisa banget ternyata duit merah selembar nyisa buat perjalanan seru m nyenengin. Plus gak perlu galau malam mingguan. Hehe

image

Lovely trip with lovely travelmates