Press "Enter" to skip to content

Cacatan Random

Last updated on Juli 6, 2020

Saya sedang menghadap microsoft word yang tak kunjung bertambah kata. Sementara notes kecil di ujung meja sudah tertulis besar-besar tanggal deadline yang kian dekat. Ah writer block ternyata benar-benar semenyiksa ini. Lagian sudah tau kemampuan menulis biasa-biasa aja, malah menantang diri sendiri untuk terjun lebih serius.

Seketika ingatan tentang masa-masa menyelesaikan Tugas Akhir akademis muncul. Satu tahun lalu, ketika otak saya sedang mendidih membaca jurnal dan memelototi data-data penelitian, saya dinginkan dengan menulis hal-hal receh dan ringan. Tak heran masa-masa TA adalah masa paling produktif menulis blog.

Siang ini ketika membuka halaman beranda blog sendiri, saya baru sadar kalau ternyata sudah lama sekali tidak mengunjungi rumah virtual ini. Bahkan tulisan terakhir masih tentang Idulfitri. Padahal kurang dari sebulan lagi sudah Lebaran Haji. Ingin rasanya menampol diri sendiri sembari berteriak PARAHSIH!

Kejutan 2019-2020

Tahun 2019 hingga 2020 adalah tahun-tahun yang baru bagi saya. Saya baru menyandang profesi dengan seabrek kewajiban yang sama sekali asing sebelumnya. Akibatnya ritme hidup saya turut berubah dan harus mencoba berbagai penyesuaian-penyesuaian untuk kebiasaan yang baru. Belum sempat saya menemukan ritme yang tepat dan enak, BAM!! Pandemi covid19 menyerang.

Saya yang saat itu masih mempelajari keadaan, seketika kalang kabut. Rasanya perubahan kehidupan saya begitu cepat dan drastis pada 2 tahun terakhir ini. Tadinya saya kira 2019 sudah begitu roller coaster. Rupanya 2020 tak kalah mengejutkan. Bedanya di tahun ini tidak sepersonal tahun sebelumnya.

Jangan-jangan berbagai kejutan ini memang jawaban pada apa yang saya tulis di caption Instagram saat mengunggah foto wisuda, satu tahun lalu.

“Mari membuka lembaran baru, dan bersiap akan kejutan apa yang menyambut nanti.⁣”

aqied on Instagram, 2019

Tentang Menulis

Salah satu tuntutan profesi baru saya sekarang adalah kewajiban menulis dan publikasi. Sebenarnya perihal menulis, bukan hal asing-asing banget bagi saya. Punya blog sampai bertahun-tahun walau jarang update dan sesekali menulis konten untuk web lain, bukan sesuatu yang sulit-sulit amat, walau sebenarnya gak ahli juga.

Masalahnya, kewajiban menulis kali ini sama sekali berbeda. Jika biasanya tulisan saya lebih banyak dengan bahasa populer, kali ini menjadi tulisan ilmiah yang akademis banget.

Sampai-sampai kadang saya jadi capek sendiri membaca hasil tulisan. Memastikan berkali-kali apakah tulisan ilmiah saya sudah cukup terlihat akademis atau masih terlalu santai. Sering juga menertawakan tulisan santai saya yang berubah menjadi terlalu kaku dan terkesan akademis sekali.

Makanya saya selalu kagum dengan para penulis yang bisa membuat berbagai jenis tulisan. Yang bisa seharian duduk dan menulis berlembar-lembar karya. Saya? boro-boro. Baru dapat 2 paragraf saja, merasa sudah berhak untuk rebahan 2 jam.

Tentang Duit

Akhir-akhir ini topik keuangan semakin ramai. Di awal-awal pandemi, dana darurat menjadi topik paling populer. Saya sempat juga ikutan menulis di Mojok.co tentang merencanakan dana darurat. Senang sih, ternyata makin banyak masyarakat yang melek keuangan.

Selain dana darurat, topik yang ramai juga adalah tentang pentingnya investasi. Gara-gara ini saya jadi membaca kembali buku tebal mata kuliah Manajemen Investasi yang saat studi dulu hanya dibuka ketika ujian. Bedanya kali ini saya jadi harus baca karena merasa butuh, bukan terpaksa seperti dulu.

Saya senang ketika tools sederhana financial check up saya mulai dipakai beberapa teman, dan beberapa dari mereka kasih masukan. Saya juga senang kalau ada teman yang minta dijelaskan suatu instrumen keuangan yang dia kurang mengerti, karena membuat saya jadi makin belajar dan caritau. Sadar diri kalau masih harus banyak belajar.

Tapi saya paling gak bisa kalau harus jadi cenayang, ketika ditodong pertanyaan tanpa mau kasih tau situasi lengkapnya. misalnya yang akhir-akhir ini ada di DM

“Qid, kalo aku beli emas gimana ya’

Waduh, jangankan beli emas. Adik saya aja kalau minta pendapat buat beli tupperware, ya saya bakal tanya balik, beli tupperware-nya mau buat apa? Sebelumnya udah punya tupperware berapa? Bayarnya nanti cash atau cicilan? Uang makan buat beli isi tupperware nya ntar udah aman, belum?

Tapi kalo gak minta pertimbangan saya ya terserah aja mau beli atau enggak. Lha wong pake uang dia, yang nanti pakai dan merasakan manfaat juga dia sendiri. Yang harus ngerawat dan njagain biar gak ketinggalan di kampus juga dia sendiri. Walaupun sebenarnya kalau dia beneran tanya, palingan saya bakal jawab

“kenapa gak beli Lock n Lock aja?”

bekal makan siang
Tim Lock & Lock gudibek

2 Comments

  1. Ikhwan Ikhwan Juli 6, 2020

    Wah mba Aqied akhirnya menulis lagi! Hehehe..

    Setuju banget sih, pandemi ini bikin kita semakin ngeh bahwa 2 hal (investasi dan dana darurat) adalah komponen sangat penting dalam manajemen keuangan pribadi. Cuma, balik lagi, ngumpulin dana daruratnya biar bisa memenuhi kelaziman besaran dana darurat itu agak-agak perjuangan banget ya :))

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.